jurnalistik.co.id – Warga Desa Pering Baru, Kabupaten Seluma, Bengkulu, melaporkan ribuan ikan mati di Sungai Pering selama tiga hari terakhir. Kepala Desa setempat, Husen, mengatakan kondisi tersebut membuat sungai dinilai sudah rusak.
Menurut Husen, kematian ikan mulai terpantau sejak tiga hari terakhir. Ia menyebut banyak bangkai ikan sudah dalam kondisi hancur dan membusuk.
“Sejak tiga hari terakhir memang ditemukan ribuan ikan mati di sungai. Saat ini banyak bangkai ikan sudah hancur dan membusuk,” kata Husen saat dikonfirmasi Kompas.com pada Sabtu (25/7/2026).
Husen menilai kejadian ini merugikan masyarakat karena ikan menjadi salah satu penghasilan warga. Selain untuk dijual, ikan juga dikonsumsi oleh warga sekitar.
“Kematian ikan sangat merugikan masyarakat karena sungai tersebut salah satu sumber penghasilan warga terutama ikannya untuk dijual dan dikonsumsi masyarakat. Sekarang ikan sudah habis, sungai sudah rusak,” keluh Husen.
Ia menegaskan kematian ikan secara massal baru terjadi kali ini. Sebelumnya, Husen menyebut tidak pernah ada kejadian serupa di Sungai Pering.
Di sekitar lokasi desa, Husen menyebut ada perusahaan tambak udang serta pabrik kelapa sawit. Ia mengaitkan perubahan kondisi sungai dengan keberadaan tambak udang, namun tidak menyatakan tuduhan secara langsung.
“Kami tidak menuduh, namun sejak kehadiran tambak udang, sungai kami berubah, air menjadi busuk serta ditemukan kejadian kematian ikan. Selama ini tidak pernah ada kejadian ikan mati secara massal di sungai kami,” ujarnya.
Husen juga mengatakan sudah ada upaya yang dilakukan sebelum ribuan ikan mati ditemukan. Ia menyampaikan keluhan warga melalui surat kepada manajemen tambak udang, berkaitan dengan dugaan limbah yang mengotori sungai.
“Saya pernah mengirim surat ke perusahaan tambak menyoal limbah sebelum ditemukannya ribuan ikan mati mendadak ini namun belum direspon,” katanya.
Berita Terkait
Selain dampak pada hasil tangkapan ikan, Husen menyebut fungsi air sungai kini ikut terganggu. Ia mengatakan air Sungai Pering saat ini tidak lagi dapat digunakan untuk mengairi sawah.
Akibat berkurangnya kemampuan air untuk irigasi, Husen melaporkan pemilik sawah akhirnya menjual lahannya kepada pihak tambak.
“Akibatnya sawah dijual oleh pemiliknya ke pihak tambak,” tambahnya.
Husen menyatakan peristiwa ini juga sudah diketahui pihak kepolisian. Ia menyebut polisi mengambil sampel ikan dan air Sungai Pering untuk diuji di laboratorium.
“Ada dari pihak Polres sudah ambil sampel ikan dan air untuk diuji ke laboratorium namun saya tidak tahu bagaimana hasilnya,” kata dia.
Ia berharap proses uji laboratorium dapat menjelaskan penyebab kematian ikan massal. Sementara itu, warga harus menghadapi situasi ketika ikan tidak lagi tersedia dan kualitas sungai dinilai turun, baik bagi aktivitas ekonomi maupun kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat.
Warga juga mengaku penemuan bangkai tidak berhenti di satu titik saja, melainkan muncul berulang selama beberapa hari dan membuat kondisi air di sekitar sungai semakin memprihatinkan. Husen menyebut banyak ikan yang ditemukan sudah tidak utuh, sehingga menegaskan kejadian tersebut bersifat massal.
Selain mengurangi hasil tangkapan, warga merasakan dampak pada pemanfaatan air Sungai Pering untuk kegiatan sehari-hari. Ketika kualitas air dinilai turun dan tidak lagi layak untuk mengairi lahan pertanian, sebagian pemilik sawah memilih menjual lahannya, sehingga hubungan antara pengelolaan sungai dan ekonomi warga makin terganggu.
Husen mengaitkan perubahan kondisi sungai dengan aktivitas di sekitar desa, termasuk keberadaan tambak udang dan juga pabrik kelapa sawit. Ia menjelaskan pihaknya sempat menyampaikan keluhan kepada manajemen tambak melalui surat terkait dugaan limbah, namun tanggapan yang dinilai belum memadai membuat peristiwa kematian ikan akhirnya ditemukan.
Untuk memastikan penyebab kejadian, Husen menyatakan proses pemeriksaan sudah dilakukan oleh kepolisian setempat dengan mengambil sampel ikan dan air Sungai Pering guna diuji di laboratorium. Ia berharap hasil pengujian dapat memberi jawaban yang lebih jelas, agar warga tidak terus menghadapi situasi ketika ikan sulit diperoleh sementara sungai dinilai terus mengalami kerusakan.










