jurnalistik.co.id – DS (36), seorang tukang parkir, ditemukan tewas di sebuah gang buntu di Jalan Panda Raya RT 04 RW 05, Pondok Ranji, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, pada Sabtu (25/7/2026).
Jenazah tersebut pertama kali ditemukan warga yang mencium aroma tidak sedap dari arah lorong sempit. Menurut polisi, korban baru diketahui setelah sekitar lima hari tidak kembali ke tempat tinggal.
Kapolsek Ciputat Timur, Kompol Bambang Askar Sodiq, mengatakan jenazah ditemukan oleh warga yang sebelumnya curiga dengan bau yang berasal dari gang tersebut. “Dia ditemukan setelah sudah lima hari, makanya orang tahunya karena mencium bau busuk. Dicarilah di situ sampai akhirnya ketemu. Ya orang mana ada yang kepikiran sampai ke situ, benar-benar jarang lah orang ke situ,” ujarnya saat dihubungi.
Pihak keluarga menyampaikan bahwa DS sudah lima hari tidak pulang setelah sempat bertengkar di rumah. Informasi itu disampaikan melalui pengakuan istri korban kepada petugas saat proses pemeriksaan awal dilakukan.
Lokasi penemuan disebut sangat tersembunyi dan jauh dari akses lalu lintas warga. Gang buntu itu berada di area yang tidak ramai, sehingga orang sekitar tidak dengan cepat menyadari keberadaan korban.
Bambang menjelaskan bahwa saat ditemukan, posisi korban tergeletak di ujung gang. “Itu jalan buntu, benar-benar jarang banget orang melintas. Memang nggak ada akses, cuma diapit antara gudang bekas-bekas barang rongsokan sama kontrakan-kontrakan gitu,” katanya.
Meski jauh dari pandangan umum, polisi menilai jarak antara tempat tinggal DS dan lokasi dia meninggal sebenarnya tidak terlalu jauh. Bambang menyebut jaraknya sekitar 300 meter, sehingga masih berada dalam satu kawasan yang sama. “Antara rumahnya dengan lokasi dia meninggal itu paling 300 meteran lah ya, nggak sampai setengah kilometer pokoknya. Dia tukang parkir di dekat situ, di minimarket,” tuturnya.
Berita Terkait
Hingga saat ini, polisi masih menyelidiki penyebab kematian DS. Tim identifikasi dari Satreskrim Polres Tangerang Selatan telah dikerahkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi penemuan.
Dalam pemeriksaan, polisi menyatakan tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuh korban. Bambang menambahkan bahwa hasil pemeriksaan, termasuk oleh Inafis, menunjukkan tidak ada indikasi kekerasan. “Yang pasti itu sudah dicek sama Inafis semua, tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Dan keluarganya nggak berkenan untuk itu. Kita nggak bisa paksa dong,” jelasnya.
Keluarga korban menolak tindakan otopsi. Setelah proses pemeriksaan awal selesai, pihak petugas kemudian menyerahkan jenazah kepada keluarga untuk dimakamkan.
Rentang waktu tidak terlihatnya DS menjadi faktor yang membuat penemuan baru bisa dipastikan setelah beberapa hari. Saat aroma tidak sedap mulai tercium, warga kemudian menelusuri sumbernya di lorong yang sempit, hingga akhirnya menemukan korban yang sudah tidak lagi dapat beraktivitas.
Polisi menggambarkan gang buntu tempat DS ditemukan sebagai area yang kurang terpantau karena minim aktivitas dan berada di luar jalur lalu lintas warga. Di sekitar lokasi juga disebut ada bangunan-bangunan yang tidak menarik perhatian harian, sehingga keberadaan korban tidak cepat diketahui dari lingkungan terdekat.
Dalam rangkaian pemeriksaan, penyidik melakukan olah tempat kejadian perkara di lokasi penemuan. Tim identifikasi dari Satreskrim Polres Tangerang Selatan turut dikerahkan, termasuk memeriksa kondisi tubuh korban melalui hasil pemeriksaan yang melibatkan Inafis, yang menurut keterangan polisi tidak menemukan indikasi adanya kekerasan.
Usai proses pemeriksaan awal selesai, pihak keluarga mengambil keputusan untuk menolak otopsi. Setelah jenazah diserahkan kepada keluarga, DS kemudian dapat dimakamkan, sementara kepolisian melanjutkan penyelidikan untuk memastikan rangkaian peristiwa yang berujung pada kematian korban.












