jurnalistik.co.id – Kabar Chelsea yang dilaporkan sudah sepakat mendatangkan Morgan Rogers dari Aston Villa dengan nilai transfer 117 juta poundsterling (setara Rp 2,8 triliun) langsung menyedot perhatian. Tak lama setelah kabar itu mencuat, Zlatan Ibrahimovic juga ikut angkat suara dan menyoroti keras arah bursa transfer yang dinilainya mulai melenceng.
Melalui pengamatannya di dunia sepak bola, Ibrahimovic menyebut dinamika harga pemain saat ini sudah tidak rasional. Peringatan itu ia sampaikan terbuka, menanggapi langkah agresif yang dilakukan klub-klub Liga Inggris, khususnya Chelsea.
Ibrahimovic dikenal sebagai penasihat khusus AC Milan dan melontarkan pendapatnya dalam sebuah siaran. Ia juga menilai standar valuasi di Premier League telah berubah ke arah yang mengkhawatirkan, sehingga perlu ada kontrol yang lebih ketat agar ekosistem industri sepak bola tetap sehat.
Dari pemberitaan Football Italia, pernyataan Ibrahimovic mengarah pada satu inti: inflasi harga pemain yang semakin sulit dikendalikan. Ia menilai situasi ini bukan sekadar soal “mahal” atau “murah”, melainkan sudah melewati batas kewajaran.
Perkataan Ibrahimovic soal harga pemain
Dalam kutipan yang disampaikan Ibrahimovic, ia mengatakan, “Mereka harus segera menghentikan ini, tidak setiap pemain bernilai 100 juta poundsterling, jujur saja, ini sudah di luar kendali,” kata Ibrahimovic dikutip dari Football Italia, Senin (20/7/2026). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa angka besar tidak otomatis mencerminkan kualitas semata.
Ibrahimovic kemudian menambahkan, “Tidak setiap pemain yang menjalani satu musim bagus bernilai 100 juta poundsterling,“ tegasnya. Ia membandingkan logika nilai pasar saat ini dengan menyinggung contoh nama yang relevan di liga-liga top Eropa.
Berita Terkait
Ia mempertanyakan, “Saya penasaran berapa nilai Lamine Yamal, Vinicius, dan Michael Olise jika Rogers dihargai 117 juta poundsterling.” Pertanyaan itu menjadi bentuk penekanannya bahwa patokan harga yang terus naik berisiko membuat ukuran penilaian pemain menjadi tidak proporsional.
Rogers sendiri dikabarkan akan menjadi rekrutan besar Chelsea dalam musim panas kali ini. Kepindahan itu dilaporkan tercapai hanya beberapa saat sebelum sang pemain tampil membela timnas Inggris dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia.
Secara performa, Rogers disebut mencatat 14 gol dan 12 assist dalam 55 penampilan bersama Aston Villa pada musim lalu. Meski demikian, angka transfer yang menembus ratusan juta poundsterling tetap dianggap tidak sebanding oleh Ibrahimovic, terutama dari sisi logika valuasi.
Menurut Ibrahimovic, kritiknya bukan hanya soal satu transaksi. Ia melihat ada gambaran lebih luas mengenai kesenjangan finansial yang makin melebar, terutama antara klub-klub Premier League dan klub-klub di belahan dunia lainnya.
Ia menautkan kekhawatiran itu pada dominasi pendapatan dari hak siar televisi yang membuat klub-klub Inggris memiliki daya beli melampaui standar normal. Gambaran tersebut tampak pada perang penawaran di bursa transfer, termasuk contoh ketika Inter Milan harus mengakui keunggulan finansial Chelsea saat memperebutkan bek sayap Atalanta, Marco Palestra.
Dalam konteks yang sama, Ibrahimovic juga menilai pengeluaran besar dapat terus terjadi meski situasi kompetisi tidak selalu sejalan. Ia mencontohkan langkah Tottenham Hotspur yang tetap mampu mengeluarkan 100 juta poundsterling (sekitar Rp 2,4 triliun) untuk Sandro Tonali meski hampir terdegradasi.
Dengan deretan contoh tersebut, Ibrahimovic menempatkan perhatian pada keberlanjutan masa depan klub-klub sepak bola secara global. Ia khawatir jika patokan harga pemain terus melambung tanpa kendali, maka ketimpangan daya saing antar liga dan klub bisa makin sulit dipulihkan.
Perkataan Ibrahimovic kemudian menutup responsnya dengan sorotan bahwa industri sepak bola perlu segera menata ulang cara menilai dan menetapkan harga pemain. Bagi Ibrahimovic, langkah itu penting agar bursa transfer tidak berubah menjadi ajang spekulasi angka, melainkan tetap mempertimbangkan nilai yang wajar dan berkelanjutan.












