jurnalistik.co.id – Piala Dunia 2026 telah usai setelah menyajikan drama, kejutan, dan momen-momen yang sulit dilupakan dalam 104 pertandingan selama hampir enam pekan. Di momen penutup ini, BBC Sport merangkum pilihan terbaik untuk beberapa kategori—lalu memberi ruang kepada publik untuk menentukan versi mereka sendiri.
Di balik rangkaian laga yang berakhir di berbagai tempat, satu benang merah muncul: turnamen ini melahirkan catatan, pahlawan baru, dan juga keberanian untuk mengambil keputusan besar di saat yang paling menentukan. Dari sana, muncul ajakan untuk memilih “yang terbaik” menurut pengalaman dan sorotan masing-masing.
Pilihan gol terbaik
Untuk kategori gol, Phil McNulty menyoroti beberapa momen dengan karakter yang jelas: teknik, keberanian duel, dan penyelesaian akhir yang datang di ruang sempit. Salah satu sorotan datang dari Lionel Messi bersama Argentina saat menghadapi Cape Verde.
Dalam laga tersebut, Messi memecah kebuntuan dengan kerja sama yang menuntut ketepatan. Ia menerima bola dengan kontrol sulit saat berlari, lalu menuntaskannya menjadi gol ke sudut atas melalui sentuhan keduanya—sebuah kemenangan yang lahir dari ketenangan di tengah tekanan.
Masih di pertandingan yang sama, Sidny Cabral mencatat momen lain yang tak kalah bernilai. Ia mencetak gol penyama kedudukan pada waktu tambahan melalui tembakan lengkung kaki kanan yang mengarah ke sudut atas, membuat Emiliano Martinez tidak punya banyak ruang untuk bereaksi.
Di fase grup, Kerim Alajbegovic menghadirkan gol untuk Bosnia-Herzegovina saat menghadapi Qatar dengan gaya yang menonjolkan kemampuan individu. Ia bergerak melewati lawan dalam rangkaian langkah, sebelum melepaskan tembakan kaki kanan yang meluncur naik dan memperlihatkan kualitas eksekusi.
Sementara itu, Erling Haaland juga masuk daftar dengan cara yang berbeda. “Ayunan biasa” yang tampak santai dari kaki kanannya ternyata merupakan penyelesaian yang sangat tepat, lengkap dengan tenaga besar, saat membantu Norwegia menghadapi Brasil pada babak 16 besar.
BBC Sport juga menempatkan Julian Alvarez sebagai penentu di laga yang ketat. Saat Argentina bertemu Swiss di perempat final, pertandingan baru terbuka ketika Alvarez menciptakan momen jenius pada waktu tambahan melalui tembakan kaki kanan jarak jauh yang melengkung ke sudut atas.
Tak ketinggalan, Antonio Nusa menandai daftar gol terbaik lewat pembuka untuk Norwegia ketika menghadapi Pantai Gading. Ia melakukan gerakan kecil di area untuk mengelabui bek, lalu mengirimkan penyelesaian lengkung yang presisi ke sudut atas.
Penyelamatan terbaik
Di kategori penyelamatan, pilihan BBC Sport menekankan refleks, ketepatan posisi, dan keberanian menghadang bola yang datang pada jarak dekat maupun situasi sulit. Johny Placide menjadi sorotan saat Haiti menghadapi Maroko.
Placide mencatat penyelamatan ganda yang berawal dari penggunaan kaki, lalu disusul respons cepat untuk menggagalkan peluang dengan satu tangan ke sisi kirinya. Urutan respons itu menunjukkan kontrol tubuh dan kecepatan pengambilan keputusan.
Untuk Inggris, Jordan Pickford mendapat apresiasi atas performa di Azteca Stadium saat melawan Meksiko. Penyelamatan awalnya adalah momen krusial: ia menyelam ke kiri bawah untuk menghentikan sundulan Raul Jimenez.
Dari Norwegia, Orjan Nyland juga dipilih berkat menghentikan bola yang bermula dari situasi yang rumit. Bola mengarah ke gawang setelah diarahkan secara tidak sengaja oleh Kristoffer Ajer, dan Nyland melakukan lompatan setelah sempat bergerak mundur untuk menepis bola agar tidak melewati garis, tepatnya dengan mengubah arah bola yang nyaris mengarah ke tiang.
Beralih ke Tunisia, Aymen Dahmen mendapat sorotan karena reaksi yang tampak nyaris tak mungkin. Ia berhasil menahan upaya jarak dekat Takehiro Tomiyasu yang mengancam dari ruang sempit, dengan bola seolah melewati segalanya tetapi akhirnya tetap gagal masuk.
BBC Sport juga mencatat Patrick Beach untuk Australia saat menghadapi Turki di fase grup. Ia melakukan penyelamatan dengan lompatan ke arah kanan untuk menyentuh bola, mengarahkan tendangan Abdulkerim Bardakci dari jarak 30 yard agar memantul ke tiang.
Iran melalui Alireza Beiranvand turut menjadi bagian dari daftar. Ia memang tidak sampai menjangkau tembakan Kevin de Bruyne, tetapi kemudian memulihkan posisi dan bereaksi untuk menggagalkan peluang dari dalam kotak enam pas—sebuah penutupan yang lahir dari insting saat bola berulang kali memantul ke area berbahaya.
Pemain terbaik turnamen
Untuk kategori pemain, BBC Sport mencatat bahwa Rodri meraih Golden Ball resmi sebagai pemain terbaik turnamen. Sementara itu, Lionel Messi dinobatkan Silver Ball sebagai pemain peringkat kedua, dan Kylian Mbappe meraih Bronze Ball sebagai pemenang peringkat ketiga.
Namun, di antara banyak refleksi reporter, Messi tetap muncul sebagai nama yang paling sering dibicarakan. Phil McNulty menggambarkannya sebagai kejutan yang nyata—bukan sekadar penutup karier, tetapi sumber inspirasi yang terus bekerja di setiap momen besar.
Messi disebut mampu mengendalikan tempo pertandingan dan menarik perhatian pada titik-titik kunci, terutama ketika Argentina mengejar Inggris dalam semifinal yang dramatis. Keberhasilan itu juga dihubungkan dengan perannya sebagai penggerak dalam lari menuju final.
Berita Terkait
John Bennett dari BBC World Service menyoroti Mbappe di awal turnamen. Ia mengingat momen ketika menonton persiapan konferensi pers Mbappe, dengan kesan bahwa pemain itu terlihat lebih rileks, percaya diri, dan bertekad menjadikan turnamen ini miliknya. Bennett menilai sikap itu tercermin dalam penampilan di lapangan melalui gol-gol, kepemimpinan, kelincahan, komposur di bawah tekanan, dan kerja ekstra tanpa bola.
Di sisi lain, Alex Howell menyebut pemain turnamen seharusnya Jude Bellingham. Ia menggambarkan Bellingham sebagai figur yang menyeret Inggris lewat kemauan dan tenaga, serta membuat permainan Bellingham berada pada level lain selama turnamen.
Liz Conway menempatkan Messi sebagai bukti penting atas kepemimpinan dan kecerdasan sepak bola yang dibutuhkan untuk memutus pertandingan terbesar. Ia juga menyebut Messi sebagai kekuatan di belakang perjalanan Argentina sampai ke partai final.
Gary Rose menegaskan angka kontribusi Messi, menyebut delapan gol dan empat assist dalam delapan pertandingan. Ia menilai Inggris sempat berupaya meredam Messi di semifinal dan sempat berhasil di babak pertama, tetapi pada akhirnya Messi menemukan cara lagi—dan dua assistnya menjadi faktor penentu.
Neil Johnston memberikan sorotan pada Michael Olise. Ia mencatat bahwa Olise sempat “di luar” dalam semifinal melawan Spanyol, namun pemain yang pernah memperkuat Crystal Palace itu tetap meninggalkan jejak lewat tujuh assist. Usia 24 tahun disebut masih menyisakan “satu atau dua Piala Dunia” lagi.
Ian Dennis menambahkan ingatan tentang momen tendangan gunting Olise saat menghadapi Swedia pada babak 32 besar. Ia menggambarkan suasana ruang pers yang seolah yakin bola akan masuk sebelum akhirnya memantul ke tiang.
Untuk Rodri, John Murray menekankan bahwa ia terbukti tak tergantikan bagi negaranya—sebagaimana ia juga hadir sebagai figur inti di Manchester City. Ia disebut luar biasa dan efektif di jantung tim terbaik turnamen.
Akhirnya, Ian Dennis kembali menguatkan pilihan Lionel Messi dengan alasan usia. Melakukan hal besar pada umur 39 tahun dianggap hampir menantang hukum fisika, sekaligus menguatkan posisinya sebagai yang terhebat.
Bintang terobosan turnamen
BBC Sport juga menempatkan kategori breakout star atau bintang terobosan dengan beragam sudut pandang. Salah satu nama utama adalah Pau Cubarsi, bek tengah Spanyol berusia 19 tahun, yang menerima penghargaan FIFA sebagai pemain muda terbaik karena bermain setiap menit selama kampanye Piala Dunia.
Cubarsi dipandang sebagai sosok kunci dalam lini belakang Spanyol yang hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen. John Bennett memilih Cubarsi sebagai contoh bintang masa depan, menyebut penampilannya saat melawan Prancis di semifinal sebagai alasan utama.
Dari Maroko, Ayyoub Bouaddi disebut meledak di panggung dunia lewat performa luar biasa pada pertandingan pembuka melawan Brasil. Alex Howell menilai gerakan Bouaddi di lapangan terlihat cerdas, mengingatkan pada gabungan karakter Patrick Vieira dan Luka Modric.
Erling Haaland juga masuk daftar sebagai kandidat breakout star. Ia disebut berkembang menjadi nama yang dikenal luas, bahkan membawa dampak yang membuatnya terlihat seperti superstar global di panggung turnamen ini.
Tak kalah menarik, Liz Conway memilih Vozinha, kiper Cape Verde berusia 40 tahun. Conway mencatat Vozinha memulai turnamen dengan tujuh penyelamatan gemilang saat berakhir 0–0 melawan Spanyol, lalu menutup dengan delapan penyelamatan luar biasa saat Cape Verde mendorong Lionel Messi dan Argentina sampai batas eliminasi.
Kontribusi Vozinha juga disebut berdampak besar di media sosial, dengan audiens Instagram meningkat dari sekitar 50.000 sebelum turnamen menjadi lebih dari 29 juta. Gary Rose juga membawa sorotan dari Amerika Serikat, yang tampak punya dorongan besar dukungan namun akhirnya gugur di babak 16 besar.
Rose menilai, meski tersingkir cepat, reputasi sejumlah pemain AS tetap terangkat. Salah satunya adalah bek sayap Alex Freeman, yang penampilannya membuat pelatih AS Mauricio Pochettino mengatakan bahwa Freeman berpotensi menjadi salah satu yang terbaik di posisinya.
Neil Johnston mengajak untuk melihat Johan Manzambi dari Swiss. Ia menilai pemain muda sering kewalahan di panggung terbesar, tetapi Manzambi justru tampil dengan senyum dan gaya entertainer alami. Manzambi meninggalkan turnamen dengan tiga gol dalam empat pertandingan.
Ian Dennis menambahkan konteks bahwa Manzambi pernah ia sorot sebelum turnamen. Meski sempat melewatkan bagian akhir karena cedera, kabarnya pindah ke Premier League bersama Aston Villa dengan nilai sekitar £50 juta dinilai menjadi penegasan kualitas.
John Murray mengarah ke nama Gilberto Mora, gelandang Meksiko berusia 17 tahun, yang pada akhirnya tampil di starting line-up. Mora disebut memiliki aura seperti Luka Modric dan diprediksi akan menempati puncak permainan.
Momen paling membekas
Untuk momen paling membekas, BBC Sport menyoroti atmosfer di Azteca saat Mexico melawan Inggris. Phil McNulty menyebut suasananya mungkin yang terbaik yang pernah ia rasakan dalam tujuh Piala Dunia, digambarkan sebagai serangan terhadap indra dengan nyanyian lagu kebangsaan Meksiko yang begitu menggugah.
John Bennett dari BBC World Service membawa ingatan lain yang dramatis. Ia menuturkan momen bersama para pendukung Paraguay di luar stadion Boston, tepat setelah salah satu adu penalti paling menegangkan yang pernah ia saksikan, ketika Paraguay menumbangkan Jerman untuk memastikan tempat di babak 16 besar.
Di titik inilah, pembaca diajak menentukan pilihan: gol mana yang paling layak dikenang, penyelamatan mana yang paling sulit dilupakan, siapa yang paling pantas disebut pemain terbaik, bintang terobosan mana yang paling mengejutkan, serta momen mana yang paling hidup di kepala setelah peluit akhir turnamen.












