Hukum & Kriminal

Murid 16 tahun di Milford Haven dinyatakan tidak bersalah atas percobaan pembunuhan guru sejarah yang ditikam di kelas

×

Murid 16 tahun di Milford Haven dinyatakan tidak bersalah atas percobaan pembunuhan guru sejarah yang ditikam di kelas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Milford Haven pupil, 16, not guilty of trying to murder teacher

jurnalistik.co.id – Seorang murid berusia 16 tahun di Milford Haven, Pembrokeshire, dinyatakan tidak bersalah atas percobaan pembunuhan terhadap gurunya, Vicki Williams, setelah penusukan terjadi di dalam kelas sekolah.

Dalam persidangan di Swansea Crown Court, pengadilan menyimpulkan bahwa pelajar tersebut tidak terbukti melakukan percobaan pembunuhan, tetapi dinyatakan bersalah atas dua dakwaan lain: melukai dengan niat (wounding with intent) dan melukai secara melawan hukum (unlawful wounding).

Peristiwa itu bermula pada 5 Februari, saat remaja tersebut mengikuti Williams masuk ke ruang kelas yang kosong di Milford Haven Comprehensive School. Ia sebelumnya meminta bantuan mengenai tugas sejarah yang dikerjakannya.

Di dalam kelas, remaja itu diduga mengeluarkan sebuah pisau dapur dari tasnya lalu menyerang dengan cara menikam kepala Williams. Williams menyampaikan kepada juri bahwa ia merasa akan meninggal.

Williams menceritakan ketakutannya saat menjelaskan kepada juri selama sidang. Ia mengatakan bahwa pada momen tersebut, pikirannya berfokus pada satu hal: “I need help”.

Ia juga menyatakan bahwa ekspresi di wajah remaja saat itu adalah “pure hatred”. Menurut kesaksiannya, serangan datang tanpa diduga sama sekali.

Hakim Paul Thomas KC menerima putusan mayoritas untuk dakwaan melukai dengan niat. Keputusan itu lahir setelah juri bermusyawarah selama empat jam, dengan syarat minimal sepuluh anggota juri sepakat.

Jadwal putusan lebih lanjut menetapkan bahwa pelajar tersebut akan dijatuhi vonis pada 3 September. Hingga saat itu, ia akan ditahan dalam lembaga penahanan anak (youth detention).

Sebelum perkara ini disidangkan, remaja itu juga telah mengaku bersalah atas kepemilikan pisau dapur di lingkungan sekolah.

Dalam kesaksian, Williams menggambarkan upaya mempertahankan diri selama penyerangan. Ia menyebut sempat meraih pisau dan mendorong remaja itu mundur menggunakan kakinya, sambil berteriak meminta pertolongan.

Akibat penusukan, Williams mengalami luka di bagian kepala, punggung, serta tangan. Ia menjelaskan bahwa ia menerima cedera setelah serangan berlangsung di ruang kelas.

Saat menjelaskan kronologi sebelum penyerangan, Williams memaparkan hasil wawancara polisi. Ia mengatakan bahwa remaja yang saat itu berusia 15 tahun datang ke ruang kelas “cool and collected” pada akhir hari sekolah untuk menanyakan apakah pekerjaan sejarahnya sudah benar.

Williams menyatakan ia merasa bingung karena sebelumnya remaja tersebut tidak terlihat menunjukkan sikap yang mengkhawatirkan. Ia menuturkan bahwa situasi berubah ketika pintu ruang kelas ditutup.

Ia mengatakan remaja itu menyampaikan ruang kelas “it was cold”, lalu “alarm bells” mulai berbunyi dalam pikirannya. Menurutnya, remaja itu mencoba membuatnya tetap berbicara sambil mencari sesuatu di dalam tas.

Williams menceritakan kalimat yang ia lontarkan saat situasi memuncak: “I ask him again, ‘are you sure you’re alright?’ And then he pulls [the knife] out of the bag and lunges at me,”.

Di sisi lain, remaja tersebut menyampaikan versi yang berbeda kepada pengadilan. Ia menyatakan bahwa Williams melihatnya memegang pisau dan “tried to grab it”.

Ia juga menyampaikan bahwa selama pergumulan, ia “accidentally assaulted her”. Namun Williams menegaskan ketakutan yang ia rasakan ketika menikamannya mengenai kepala.

Williams menggambarkan perasaannya sebagai keadaan mendekati kematian, dengan mengatakan: “I’m fearful that I am dying, I’ve seen the knife, I know I’ve been stabbed, all I’m thinking at that point is, ‘I need help’.”

Ia menambahkan bahwa serangan itu “came out of nowhere”. Seorang rekan kerja kemudian bergegas membantu, dan menggambarkan teriakan Williams sebagai “gut-wrenching”.

Bukti rekaman kamera pengawas menunjukkan remaja tersebut berlari meninggalkan sekolah setelah penyerangan. Setelah kejadian, ia kemudian ditangkap di rumah neneknya.

Dalam keterangan, nenek remaja mengatakan remaja itu menangis dan menundukkan kepala, dengan keadaan “he had his head hung low in his hands”. Ia juga menceritakan bahwa remaja tersebut sebelumnya menyampaikan, “something went” mengenai dirinya.

Di pengadilan, remaja itu menerangkan bahwa pisau yang dibawanya ke sekolah digunakan sebagai “game” bersama teman-temannya. Ia mengatakan mereka membawa “random household objects” untuk melihat apa yang bisa mereka “get away with”.

Ketika ditanya mengapa memilih pisau terbesar dari rak pisau di rumahnya, remaja itu menyatakan bahwa ia menginginkan yang “the most impressive one to show his friends”.

Ketika ditanya oleh pengacara pembelanya apakah ia ingin para guru menemukan pisau tersebut, ia menjawab “no”. Ia juga membantah keinginan menggunakan pisau itu untuk tindakan kekerasan atau melukai Williams secara sengaja.

Ia menolak adanya rasa tidak baik antara dirinya dan guru sejarah tersebut. Di persidangan, staf sekolah serta neneknya menggambarkan remaja itu sebagai “quiet boy”.

Dengan putusan yang diputuskan juri, perkara ini berakhir pada ketetapan bahwa dakwaan percobaan pembunuhan tidak terbukti, sementara dakwaan melukai dengan niat dan melukai secara melawan hukum dinyatakan bersalah. Vonis dijadwalkan jatuh pada 3 September.