jurnalistik.co.id – Pada Mei 2026, Amerika Serikat (AS) menjadi pemasok utama gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dan gas petroleum cair (liquefied petroleum gas/LPG) ke India. Perubahan ini terjadi ketika pasokan dari negara-negara Teluk menurun akibat gangguan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
India selama ini mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan LNG dan hampir seluruh pasokan LPG melalui jalur perairan strategis tersebut. Namun, distribusi energi melalui Selat Hormuz terganggu sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Gangguan tersebut kemudian tercermin pada pola pasokan energi yang diterima India. Data Kpler menunjukkan, AS memasok 630.000 ton LPG ke India sepanjang Mei 2026.
Jumlah itu sekitar 60 persen lebih tinggi dibandingkan total pasokan dari seluruh negara Teluk yang mencapai 380.000 ton pada periode yang sama. Dengan demikian, AS tidak hanya mengisi kebutuhan, tetapi juga meningkatkan kontribusinya secara signifikan dibanding pemasok kawasan.
Di sisi lain, ekspor LNG AS ke India juga mencatat kenaikan tajam. Volume ekspor LNG dari AS ke India mencapai 900.000 ton pada Mei, sehingga menyumbang lebih dari 40 persen kebutuhan LNG India.
Angka tersebut juga meningkat tiga kali lipat dibandingkan April 2026. Kenaikan yang cepat ini menunjukkan bahwa hambatan di kawasan Teluk berdampak langsung pada pilihan sumber pasokan India.
Konflik dan arah perluasan penjualan energi
Analis riset utama Kpler, Sumit Ritolia, mengatakan konflik di Timur Tengah memang menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan ekspor energi AS ke India. Namun, menurutnya peningkatan itu juga sejalan dengan upaya Washington untuk memperluas penjualan energi ke negara tersebut.
Ritolia menilai, bahkan sebelum konflik berlangsung, hubungan perdagangan energi kedua negara telah menunjukkan penguatan. Dalam konteks itu, ia menegaskan perubahan fokus perdagangan energi ke depan.
“Ke depannya, perdagangan energi India-AS akan semakin fokus pada gas,” kata Ritolia kepada CNBC, dikutip pada Jumat (12/6/2026). Pernyataan tersebut merangkum arah jangka menengah yang diperkirakan dari dinamika pasokan saat ini.
Ia juga menilai AS memiliki posisi yang kuat untuk memenuhi kebutuhan India yang ingin mendiversifikasi sumber pasokan gas. “Amerika Serikat, dengan sumber daya gas serpih yang melimpah dan infrastruktur ekspor yang berkembang, berada pada posisi unik untuk mendapatkan keuntungan dari kebutuhan India untuk mendiversifikasi pasokan gas,” ujar Ritolia.
Biaya pengiriman dan keterbukaan impor
Menurut Senior Vice President Commodity Markets, Oil-Natural Gas Liquids/LPG and Naphtha Rystad Energy, Manish Sejwal, sebelum konflik pecah biaya pengiriman yang tinggi membuat LNG dan LPG asal AS sulit bersaing di pasar India. Pada periode itu, pasokan dari Timur Tengah dinilai lebih kompetitif dari sisi biaya pengiriman hingga tujuan akhir.
Sejwal mengatakan pasokan LPG Timur Tengah secara konsisten lebih unggul dibandingkan kargo asal AS. “Pasokan LPG dari Timur Tengah secara konsisten mengungguli pengiriman dari AS berdasarkan biaya pendaratan,” kata Sejwal dalam keterangannya kepada CNBC.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membatasi kemampuan AS untuk memperluas pangsa pasarnya di India. Dengan kata lain, keunggulan biaya pasokan kawasan Teluk menjadi penghambat bagi ekspansi pemasok AS.
Namun, Sejwal menilai gangguan pasokan dari kawasan Teluk membuat India semakin terbuka terhadap impor energi dari AS. Perubahan preferensi ini muncul seiring kebutuhan India untuk menjaga ketersediaan energi ketika jalur dan pasokan di Selat Hormuz terganggu.
Melalui rangkaian data dan penilaian para analis, gambaran Mei 2026 menunjukkan bahwa faktor geopolitis di Timur Tengah berpengaruh langsung pada arus energi global. Pada akhirnya, India merespons dengan memperbesar peran AS dalam pasokan LNG dan LPG, menggantikan sebagian yang tertekan dari kawasan Teluk.












