jurnalistik.co.id – Nicolás Maduro akan menghadapi proses hukum di New York dengan agenda yang sudah ditetapkan untuk beberapa tahap hingga memasuki persidangan utama. Pengaturan jadwal itu diputuskan oleh seorang hakim di pengadilan setempat pada sidang Rabu.
Dalam putusan tersebut, hakim Alvin Hellerstein menetapkan bahwa persidangan atas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, akan dimulai pada 1 Juni 2027. Agenda ini menjadi tonggak lanjutan setelah kedua tokoh dibawa ke AS untuk menghadapi tuduhan terkait dugaan tindak pidana.
Maduro dan Flores didakwa atas perkara yang berkaitan dengan kejahatan senjata serta narkoba. Kedua pihak menyatakan bahwa mereka membantah dakwaan tersebut, dan sengketa akan terus berproses melalui mekanisme pengadilan.
Pada tahap awal, pengadilan juga menjadwalkan sidang pendahuluan pada 17 November. Dalam tahap ini, kedua belah pihak akan mengajukan berbagai permohonan dan argumentasi prosedural sebelum masuk ke persidangan inti.
Tahap pendahuluan dan rencana pembelaan
Pengacara Maduro, Barry Pollack, memberi sinyal bahwa ia akan mengajukan pembelaan di persidangan. Salah satu fokus yang disebut adalah prinsip kekebalan berdaulat (sovereign immunity), sebuah doktrin hukum yang lazim dipakai untuk melindungi kepala negara dari penuntutan.
Pollack menempatkan kekebalan berdaulat sebagai bagian dari strategi pembelaan sejak awal proses. Dengan demikian, isu tersebut dipandang akan menjadi salah satu penentu arah perkara pada fase yang akan berlangsung menjelang persidangan utama.
Di dalam ruang sidang, suasana tampak padat oleh kehadiran penonton. Sebagian orang dilaporkan menunggu sejak lama dengan harapan dapat melihat Maduro secara langsung.
Sebelum sidang dimulai, petugas pengadilan mengingatkan publik agar tetap duduk dan tidak mengeluarkan pernyataan. Petugas itu juga menegaskan bahwa pengunjung yang melanggar tata tertib dapat menghadapi “some legal issues of your own”.
Ketika Maduro dan Flores mulai dipersilakan masuk ke ruang sidang, mayoritas pengunjung mematuhi arahan tersebut. Namun, ada momen-momen kecil yang terdengar seperti bisik-bisik atau helaan napas saat Maduro melintas menuju tempat duduknya.
Kondisi dalam persidangan
Maduro hadir dengan mengenakan pakaian penahanan berwarna krem. Ia tidak mengenakan borgol, sementara proses berjalan di bawah pengawasan petugas yang membawa keduanya ke dalam ruang sidang.
Berita Terkait
Setibanya di meja pihak pembela, Maduro sempat memberi isyarat singkat kepada ruang pengunjung. Setelah duduk, ia dan Flores mengikuti jalannya sidang dengan tenang sambil mendengarkan terjemahan melalui perangkat penerjemahan.
Di saat sesi memasuki bagian perbincangan antara tim kuasa hukum dan hakim, keduanya duduk diam. Perkembangan sidang kemudian berlanjut dengan arahan hakim sebelum masuk ke momen penutupan.
Ketika sesi akan selesai dan peserta mulai bersiap meninggalkan ruang sidang, Maduro berdiri. Ia menghadap publik di ruangan dan memberi satu kali gelombang tangan sebelum akhirnya kembali dibawa keluar dari pengadilan, dalam pengawasan US Marshalls.
Operasi penangkapan dan bantahan tuduhan
p>Perkara ini bermula dari penangkapan Maduro dan Flores yang dilakukan oleh pasukan AS pada 3 Januari di ibu kota Venezuela, Caracas. Mereka dibawa dari kediamannya melalui penggerebekan dramatis yang berlangsung pada malam hari, dan setelah itu keduanya dipindahkan ke New York.Proses hukum kemudian berjalan dengan tuduhan yang berkaitan dengan senjata dan narkoba. Meski demikian, Maduro dan Flores membantah dakwaan tersebut, sehingga perbedaan pandangan akan diuji melalui tahap pembuktian di pengadilan.
Putusan hakim yang merinci tanggal-tanggal penting memastikan bahwa perkara akan bergerak secara bertahap. Dari sidang pendahuluan pada 17 November, lalu berlanjut ke persidangan yang dimulai 1 Juni 2027, jadwal tersebut menjadi kerangka waktu bagi argumen dari kedua pihak.
Pandangan di luar ruang sidang
Di luar ruang sidang, sejumlah demonstran anti-perang mengecam operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Maduro. Mereka membawa spanduk dengan tulisan “Free President Maduro” sambil menyampaikan penilaian bahwa proses yang berlangsung di dalam gedung pengadilan bersifat tidak adil.
Salah satu pengunjuk rasa mengutip bahwa operasi tersebut merupakan “sham trial” yang dinilai berlangsung di dalam ruangan. Dari Anti-War Action Network, seorang pembicara dengan pengeras suara menyampaikan bahwa “The US is endeavouring to bring Venezuela, Latin America, and the Middle East under its thumb”.
Sementara itu, terdapat juga warga Venezuela yang memberikan dukungan bagi penuntutan. Wilmer Contreras, 53 tahun, menyatakan bahwa ia mendukung proses hukum terhadap Maduro.
Contreras mengatakan, “Maduro is a criminal,” serta menambahkan, “He’s a part of the government, they destroyed my country completely.” Ia juga menyatakan dukungannya secara tegas terhadap administrasi Trump terkait penangkapan militer Maduro, dengan menegaskan bahwa ia “absolutely” mendukung.
Menurut Contreras, rencana yang dilakukan AS dipandangnya sesuai dengan harapan yang sudah lama ia tunggu. Ia menyampaikan, “What they did was something that we were expecting, and waiting for, for a long time. And when that happened, things changed in my country,” sebagaimana ia ceritakan kepada BBC.
Perbedaan sikap di kalangan warga di luar pengadilan menunjukkan bahwa kasus ini bukan sekadar perkara hukum, melainkan juga memantik polarisasi pandangan politik. Namun, di dalam ruang sidang, agenda prosedural dan jadwal persidangan menjadi fokus utama untuk menentukan langkah berikutnya dalam kasus Maduro.












