jurnalistik.co.id – JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia sepanjang Januari-April 2026 mencapai 86,51 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.545,5 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.864 per dollar AS. Angka tersebut naik 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menyampaikan, kenaikan impor terjadi baik pada kelompok migas maupun nonmigas. Di antara berbagai kelompok penggunaan, bahan baku dan penolong masih menjadi penopang terbesar impor nasional.
“Total nilai impor mencapai 86,51 miliar dollar AS atau naik 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).
Secara rinci, impor migas tercatat sebesar 12,93 miliar dollar AS atau sekitar Rp 230,9 triliun. Angka ini tumbuh 17,58 persen secara tahunan. Adapun impor nonmigas mencapai 73,58 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.314,6 triliun, naik 12,70 persen.
Bahan baku dan penolong masih dominan
BPS mencatat seluruh golongan penggunaan mengalami peningkatan impor. Namun, bahan baku dan penolong tetap mendominasi dengan nilai mencapai 61,82 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.104,9 triliun. Kelompok ini naik 11,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Pudji, bahan baku dan penolong juga memberi andil terbesar terhadap kenaikan impor nasional, yakni sebesar 8,47 persen. Dari sisi komoditas, kenaikan impor yang cukup besar antara lain berasal dari bahan bakar mineral, mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, serta berbagai produk kimia.
Jika dilihat dari negara asal, peningkatan impor terutama datang dari China, Australia, kawasan ASEAN, dan Uni Eropa. Sementara itu, impor dari Jepang justru tercatat menurun.
Lonjakan juga terjadi pada April 2026
Untuk April 2026 saja, nilai impor Indonesia mencapai 25,21 miliar dollar AS atau sekitar Rp 450,0 triliun. Angka itu meningkat 22,49 persen dibandingkan April 2025.
Kenaikan terbesar pada bulan tersebut terjadi di impor migas yang melonjak 82,52 persen secara tahunan menjadi 4,60 miliar dollar AS atau sekitar Rp 82,2 triliun. Sementara itu, impor nonmigas mencapai 20,62 miliar dollar AS atau sekitar Rp 368,3 triliun, naik 14,11 persen.
Pudji menjelaskan, kenaikan impor April 2026 terutama didorong oleh impor nonmigas yang memberi andil peningkatan sebesar 12,39 persen terhadap total impor. Jika dilihat berdasarkan penggunaan, seluruh kelompok impor juga mengalami kenaikan secara tahunan pada bulan tersebut.
Impor barang konsumsi naik paling tinggi, yakni 42,90 persen. Di sisi lain, impor bahan baku dan penolong meningkat 24,56 persen dan menjadi penyumbang terbesar kenaikan impor dengan andil 17,86 persen. Adapun impor barang modal tumbuh 5,64 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas impor Indonesia pada awal 2026 masih bergerak cukup kuat, sejalan dengan tingginya kebutuhan pelaku usaha terhadap pasokan barang antara maupun bahan pendukung produksi. Dengan porsi terbesar masih berada pada bahan baku dan penolong, gambaran ini memperlihatkan bahwa impor belum hanya ditopang oleh kebutuhan konsumsi, melainkan juga oleh aktivitas industri yang membutuhkan input secara berkelanjutan.
Di sisi lain, kenaikan dari sejumlah negara mitra dagang utama menegaskan bahwa rantai pasok Indonesia tetap terhubung erat dengan pusat-pusat produksi global. Lonjakan dari China, Australia, ASEAN, dan Uni Eropa menjadi sinyal bahwa tekanan permintaan impor tersebar di berbagai jalur perdagangan, sementara penurunan dari Jepang menunjukkan bahwa pergerakan tiap negara asal tidak selalu seragam.
Untuk April 2026, peningkatan yang cukup tajam pada impor migas memperlihatkan bahwa kebutuhan energi ikut memberi dorongan besar terhadap total impor bulanan. Namun, kontribusi terbesar tetap datang dari nonmigas, terutama bahan baku dan penolong, sehingga struktur impor Indonesia pada periode ini masih mencerminkan kebutuhan sektor produksi yang relatif tinggi dibandingkan komponen lainnya.












