jurnalistik.co.id – Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei menyampaikan seruan agar negara-negara Muslim waspada terhadap konspirasi musuh. Dalam pesannya untuk memperingati Pekan Persatuan pada hari Minggu, ia menegaskan bahwa para penguasa “kriminal” Amerika Serikat dan rezim Zionis memusuhi seluruh umat Islam, bukan hanya Republik Islam Iran.
Menurut pesan tersebut, para pihak yang berseberangan tidak sekadar berada di garis permusuhan politik dengan Iran. Mereka disebut sebagai musuh persatuan dan persahabatan di tengah umat Islam, termasuk wilayah Asia Barat dan Afrika Utara.
Dalam rangka memperkuat arah perlawanan itu, pemimpin Revolusi Islam itu merumuskan lima pesan yang ia tujukan kepada penguasa maupun rakyat di negara-negara Muslim.
1. Waspadai Konspirasi Musuh
Ayatollah Khamenei mengimbau para penguasa negara-negara Islam, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia, untuk mengenali musuh yang sebenarnya. Ia menekankan pentingnya menyadari konspirasi-konsprasi musuh tersebut serta menghadapi upaya yang diarahkan untuk melemahkan umat.
Ia juga menyampaikan, “Solusi bagi permasalahan umat Islam terletak pada kesatuan tujuan, persahabatan, dan kerja sama dalam mengupayakan kebaikan serta kebenaran,” tambahnya.
Dalam penjelasan lanjutannya, ia menyatakan bahwa pihak-pihak yang berniat buruk selalu mengincar peluang besar yang ada. Ia menyebut bahwa harapan musuh dipengaruhi oleh penonjolan perbedaan-perbedaan yang muncul.
Ia menegaskan, “Meskipun perbedaan ideologis dan agama merupakan bagian penting dari apa yang ingin dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam—dan mereka sangat mengandalkan hal tersebut—mereka tidak akan berhenti sampai di situ saja,” ujarnya.
Ayatollah Khamenei menambahkan bahwa musuh berupaya mengubah berbagai perbedaan ras, budaya, sosial, ekonomi, politik, dan geografis menjadi dalih untuk menciptakan perpecahan. Ia mengatakan tujuannya adalah membuat umat Islam terpecah-belah hingga kekuatannya melemah, lalu pada waktu yang tepat dipaksakan dominasi atas umat Islam.
Ia menyebutkan, “Mereka berupaya mengubah segala bentuk perbedaan ras, budaya, sosial, ekonomi, politik, dan geografis menjadi dalih untuk menciptakan perpecahan di kalangan umat Islam, baik di Iran maupun di negara-negara Islam lainnya. Tujuannya agar mereka bisa duduk diam menyaksikan umat Islam terpecah-belah dan kekuatannya perlahan melemah, lalu pada saat yang tepat, mereka dapat memaksakan dominasi mereka atas umat Islam.”
2. AS dan Israel Musuh Negara Islam
Dalam pesan kedua, Khamenei menyasar persatuan yang dibangun melalui persahabatan dan kerja sama umat. Ia menyatakan bahwa para penguasa kriminal Amerika Serikat dan rezim Zionis yang tidak sah adalah musuh bebuyutan dari persatuan dan persahabatan itu.
Ia menegaskan, “Para penguasa kriminal Amerika Serikat dan rezim Zionis yang tidak sah adalah musuh bebuyutan dari persatuan dan persahabatan ini.”
Ia juga menyatakan bahwa permusuhan tersebut tidak semata-mata terhadap Republik Islam, bangsa Iran, dan front besar perlawanan Islam. Menurutnya, mereka memusuhi seluruh umat Islam, termasuk bangsa-bangsa di Asia Barat dan Afrika Utara, bahkan menyebut bahwa para penguasa negara-negara yang sering dianggap sebagai sekutu mereka pun tidak terkecuali.
Ia menyampaikan, “Mereka bukan sekadar musuh Republik Islam, bangsa Iran, dan front besar perlawanan Islam; mereka memusuhi seluruh umat Islam, termasuk bangsa-bangsa di Asia Barat dan Afrika Utara. Dalam hal ini, bahkan para penguasa negara-negara tersebut—yang banyak di antaranya dianggap sebagai sekutu mereka—pun tidak terkecuali,” tegas Sang Pemimpin.
3. Jaga Persatuan Negara Muslim
Berita Terkait
Poin ketiga menyoroti bagaimana sikap tidak hormat secara terbuka dan bahasa kasar kerap digunakan oleh pemimpin kekuatan arogan terhadap sejumlah pemimpin negara Muslim. Ayatollah Khamenei menyebut bahwa hal itu termasuk bagian dari pola yang dapat menggerus harmoni di kalangan umat.
Ia kemudian menekankan bahwa isu persatuan di kalangan umat Islam memiliki contoh keberhasilan dari rakyat Iran. Dalam pandangannya, konspirasi musuh tidak banyak berdampak dalam melemahkan persatuan tersebut.
4. Hindari Perpecahan Umat Islam
Dalam pesan keempat, Khamenei memperingatkan agar tidak ada tindakan yang memicu perpecahan di kalangan umat Islam. Ia menyebut bahwa setiap tindakan yang mengarah pada perpecahan atau menciptakan perselisihan di komunitas Muslim turut memuluskan tujuan musuh, baik secara sadar maupun tidak, serta sukarela maupun terpaksa.
Ia menegaskan, “Oleh karena itu, siapa pun—dalam posisi apa pun—yang melakukan tindakan yang mengarah pada perpecahan umat Islam atau menciptakan perselisihan di tengah komunitas Muslim, berarti telah turut memuluskan tujuan musuh-musuh Islam, baik secara sadar maupun tidak, maupun secara sukarela ataupun terpaksa,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Dan bagaimana mungkin di masa kini ada yang mengaitkan tindakan semacam itu dengan ketidaktahuan atau kelalaian? Padahal, para tiran dunia—yang dipimpin oleh AS yang kriminal—kini telah menanggalkan topeng penipu dan rapuh yang selama ini menyembunyikan tujuan kolonial mereka yang buruk serta skema hegemoni dan dominasi mereka; mereka telah melepas sarung tangan beludru yang menipu itu dan memperlihatkan cakar mereka yang berlumuran darah ke hadapan seluruh dunia.”
Selain itu, Ayatollah Khamenei juga menyerukan agar umat Islam melakukan refleksi dan mencermati perkembangan dengan lebih saksama. Ia lalu mengajukan pertanyaan tentang kelanjutan nasib Palestina apabila persatuan kokoh dijaga.
Ia menyampaikan, “Seandainya umat Islam bersatu padu dengan tekad yang bulat dan kokoh, akankah bangsa Palestina dibiarkan tanpa perlindungan, menjadi korban penindasan dan kejahatan kaum penjajah?”
Ia juga mengingatkan konteks kawasan Teluk Persia, dengan menyebut kemungkinan ancaman terhadap tanah dan harta benda jika persatuan di bawah panji Islam terjalin. Ia menuturkan, “Dan seandainya rakyat serta pemerintah negara-negara di kawasan Teluk Persia menjalin persatuan di bawah panji Islam, akankah gerombolan korup yang tak berakar itu berani—dari jarak ribuan kilometer jauhnya—mengincar tanah dan harta benda mereka dengan keserakahan?”
Dalam bagian ini, pemimpin Revolusi Islam menyebut “persatuan dan penghindaran perpecahan” sebagai pelajaran pertama dalam ajaran Islam. Ia merinci, “Pelajaran kedua adalah saling membela satu sama lain dari sikap ketidakpercayaan, dan yang ketiga adalah mengupayakan berbagai bentuk kerja sama serta sinergi dalam beragam dimensi kehidupan materi dan spiritual umat Islam—termasuk aspek kesejahteraan, keamanan, ilmu pengetahuan, dan kemajuan. Puncak dari jalan ini adalah terwujudnya peradaban Islam yang baru,” lanjut beliau.
5. Mewujudkan Peradaban Islam
Pesan kelima menegaskan bahwa persatuan umat Islam merupakan landasan fundamental untuk mencapai peradaban Islam yang membanggakan dan unggul. Dalam pesannya, Khamenei menyatakan bahwa landasan konseptual dan intelektual itu telah terwujud secara signifikan di negara Iran.
Ia menyampaikan, “persatuan di kalangan umat Islam merupakan landasan fundamental untuk mencapai peradaban Islam yang membanggakan dan unggul.”
Ia juga menuturkan, “Kerangka konseptual dan intelektual ini, yang mencerminkan aspirasi kita bagi dunia Islam, pada kenyataannya telah terwujud secara signifikan di negara kita tercinta, Iran.”
Lebih lanjut, Ayatollah Khamenei mengimbau rakyat Iran untuk tidak membiarkan perpecahan atau perselisihan muncul di antara mereka dalam situasi apa pun. Seruan tersebut, dalam konteks pesannya, diarahkan agar umat tetap fokus pada persatuan serta menutup ruang bagi upaya-upaya musuh yang memanfaatkan perbedaan.
Secara keseluruhan, pesan lima poin itu membawa benang merah yang sama: kewaspadaan terhadap konspirasi, penolakan terhadap permusuhan AS dan rezim Zionis, serta penguatan persatuan agar umat dapat bergerak menuju peradaban Islam.












