jurnalistik.co.id – Inggris melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan telah menyampaikan keberatan kepada otoritas Israel terkait penahanan seorang warga negara Inggris di Tepi Barat yang diduduki. Keberatan itu disampaikan setelah insiden penangkapan terhadap Finn Joughin, seorang aktivis mahasiswa berusia 22 tahun.
Joughin ditangkap pada hari Sabtu di Umm Al-Kheir. Ia disebut ditahan secara paksa oleh pemukim Israel setelah mereka bergerak maju ke arah sebuah desa Palestina.
Peristiwa ini muncul di tengah meningkatnya serangan pemukim terhadap warga Palestina maupun properti mereka di Tepi Barat sejak awal perang Gaza. Perang Gaza dipicu oleh serangan pimpinan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Dalam penjelasannya, otoritas Inggris mengaitkan situasi itu dengan status pemukiman. Semua pemukiman dinilai ilegal menurut hukum internasional. Sementara itu, pos-pos pemukim juga ilegal menurut hukum Israel, meski sering mendapat dukungan layanan dan pendanaan negara.
Konfrontasi pada Sabtu terjadi di sebuah kota dekat Hebron yang belakangan berada dalam lingkup yang dikelilingi pemukim. Menurut keterangan aktivis lain yang menyaksikan kejadian tersebut, anak-anak Palestina sedang bermain sepak bola ketika anak-anak dari keluarga pemukim mulai ikut campur.
Setelah itu, anak-anak tersebut berlari ke sebuah rumah dan mulai membongkar sebuah pagar. Rekaman yang kemudian dipublikasikan oleh pihak pemukim maupun aktivis, serta dilihat BBC, menunjukkan Joughin berada di dekat pagar.
Dalam rekaman tersebut, Joughin tampak berusaha melindungi pagar dengan menggunakan tubuhnya ketika seorang anak mendorongnya. Pemukim kemudian mengambil Joughin secara paksa dan membawanya ke sebuah pos pemukiman (outpost).
Polisi Israel menyatakan bahwa seorang warga negara asing ditahan oleh personel keamanan milik komunitas pemukim. Mereka menaruh kecurigaan bahwa Joughin terlibat dalam tindakan tidak senonoh terhadap seorang anak di bawah umur.
Berita Terkait
Dalam pernyataan lanjutan pada Minggu, polisi Israel menyebut tersangka dipindahkan ke polisi untuk pemeriksaan. Pemeriksaan itu, antara lain, mencakup pengambilan keterangan yang memunculkan dugaan adanya penyerangan terhadap anak di bawah umur.
Setelah pemeriksaan, polisi Israel menyatakan tersangka dibawa ke tahanan, dan penyelidikan atas insiden tersebut masih berlangsung. Meski demikian, keluarga Joughin mengatakan kepada BBC bahwa ia dijadwalkan dideportasi dari Israel pada Senin.
Sejumlah aktivis yang berada bersama Joughin pada saat insiden terjadi membantah adanya perilaku tidak pantas. Seorang rekan aktivis bernama Matthew—yang tidak menyebutkan nama belakangnya—menjelaskan kepada BBC bahwa dalam setiap kejadian, justru anak-anak dari pihak pemukim yang mendekati Finn.
Kementerian Luar Negeri Inggris juga menegaskan kepada BBC bahwa pihaknya mengetahui insiden tersebut. Seorang juru bicara menyatakan pejabat dari kedutaan Inggris di Tel Aviv telah mengangkat kasus ini kepada otoritas Israel dan sedang mencari informasi lebih lanjut.
Di tengah gelombang kekerasan akhir pekan di beberapa wilayah Tepi Barat, Israel juga mendapat sorotan dari sejumlah pejabatnya sendiri. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengecam serangan pemukim, dengan menuduh mereka merugikan posisi Israel di mata dunia.
Presiden Isaac Herzog menyebut tindakan itu sebagai “crossing of a red line”. Selain reaksi pejabat Israel, kekerasan pemukim juga memicu respons dari perwakilan Amerika Serikat.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyambut kutukan dari para pemimpin Israel. Ia mengatakan bahwa “setengah juta orang Israel yang hidup dengan damai … paling jijik dengan sekelompok kecil preman.”
Selain kasus di Umm Al-Kheir, puluhan pemukim juga menyerang desa Qusra pada Sabtu sebelum pasukan dipanggil untuk menghapus kehadiran mereka. Di kota Jalud, jurnalis asing juga dikabarkan mengalami cedera dalam serangan yang dilakukan pemukim bermasker.
Kasus Finn Joughin kini menjadi sorotan karena menyangkut tuduhan yang dilontarkan polisi Israel, bantahan dari pihak aktivis, serta upaya keberatan yang dilakukan pemerintah Inggris kepada otoritas terkait. Dengan penyelidikan yang masih berjalan, nasib Joughin di ruang tahanan tetap bergantung pada proses pemeriksaan dan keputusan lanjutan otoritas.












