Internasional

Gedung Putih Siapkan Sambutan Megah untuk Kunjungan Bersejarah Xi Jinping

×

Gedung Putih Siapkan Sambutan Megah untuk Kunjungan Bersejarah Xi Jinping

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: White House to roll out the red carpet for historic Xi Jinping visit

jurnalistik.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menyambut kunjungan kenegaraan Xi Jinping dengan rangkaian agenda yang sarat simbol, mulai dari urusan ekonomi hingga isu teknologi. Pertemuan multi-hari ini diperkirakan menjadi panggung pembahasan berbagai persoalan strategis, termasuk perdagangan, kecerdasan buatan, serta Taiwan.

Xi dijadwalkan tiba dan terlebih dahulu disambut secara personal oleh Trump di Andrews Air Force Base pada Rabu. Setelah itu, pada Kamis giliran upacara penyambutan di Gedung Putih digelar, lengkap dengan atraksi terbang militer dan keterlibatan hampir 500 personel militer.

Kunjungan ini menandai pertemuan Xi dengan AS untuk kali pertamanya dalam lebih dari satu dekade. Xi juga merupakan tokoh yang sudah tiga kali bertemu Trump sejak Presiden AS memulai masa jabatan keduanya.

Di balik kemegahan agenda, ada pula dinamika perdagangan yang menjadi salah satu fokus utama. Perjanjian dagang AS–Tiongkok yang dicapai tahun lalu ditargetkan berakhir pada November. Sebelumnya, “trade truce” yang ditetapkan pada Oktober 2025 ketika Trump dan Xi bertemu di Korea Selatan membuat Washington menangguhkan kenaikan tarif yang tajam atas barang-barang Tiongkok, sementara Beijing melonggarkan pembatasan ekspor tanah jarang yang dinilai penting bagi industri manufaktur.

Para ahli menyebut pihaknya akan menantikan adanya pengumuman terkait perpanjangan kesepakatan dalam rangka kunjungan kenegaraan ini. Perjalanan Xi berakhir pada Jumat, dengan rangkaian acara yang juga mencakup jamuan makan mewah, tur pribadi, dan pertunjukan.

David Sacks dari Council on Foreign Relations menggambarkan rancangan sambutan Trump sebagai sesuatu yang “really unprecedented”. Menurutnya, mulai dari pertemuan Xi di Andrews Air Force Base hingga adanya flyover untuk Xi, hal tersebut “is not something afforded to any US ally,” bahkan “much less an adversary like China.” Sacks menambahkan, “It’s quite, quite stunning.”

Sejumlah isu diproyeksikan dibawa Trump saat bertemu Xi, terutama yang berkaitan dengan tarif dan perdagangan. Trump selama ini mengkritik defisit perdagangan AS dengan Tiongkok yang mencapai lebih dari $91bn (ÂŁ68.2bn), berdasarkan data terbaru Biro Sensus AS.

Dalam konteks yang sama, ekspor tanah jarang Tiongkok ke AS disebut menurun meski kesepakatan dicapai pada Oktober lalu. Sementara itu, pejabat AS dan Tiongkok melakukan pembicaraan dagang di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pada Selasa, namun beberapa sumber menyebut tidak ada kemajuan berarti sebelum kunjungan Xi.

Menurut sumber yang memahami pemikiran Gedung Putih, pembicaraan tersebut menitikberatkan pada upaya mencari titik temu terkait persoalan perdagangan non-tarif dan ekspor pertanian. Tim perunding AS dijadwalkan melanjutkan pembicaraan dengan mitra Tiongkok di Washington pada Rabu setelah Xi tiba.

AI menjadi sorotan baru

Selain tarif dan perdagangan, kecerdasan buatan diperkirakan menjadi bahan obrolan penting dalam pertemuan Trump dan Xi. David Firestein dari Bush China Foundation menyebut isu AI telah “climbed rapidly toward the top of the agenda” menjelang kunjungan ini.

AS dan Tiongkok bersaing dalam apa yang kerap disebut sebagai perlombaan “AI arms race”. Namun, setelah rangkaian insiden keamanan yang mencuat belakangan ini, muncul desakan agar pemerintahan Trump mengatur AI dan memperlambat perkembangannya.

Senator Bernie Sanders menuliskan di X pekan ini: “For the sake of all humanity, Trump and Xi must negotiate a treaty NOW to pause AI and ban superintelligence before it’s too late.” Di sisi lain, Steve Bannon—mantan penasihat Gedung Putih Trump—serta sejumlah anggota Partai Republik juga memperingatkan soal bahaya yang ditimbulkan AI.

Presiden Trump sendiri memandang teknologi tersebut penting bagi ekonomi AS dan sebagai medan pertarungan dalam perebutan pengaruh global. Ia disebut enggan untuk bergerak lebih cepat, karena menargetkan kekalahan Tiongkok dalam perlombaan AI sebagai tujuan utama. Trump juga pernah menyatakan, “Whoever wins AI, wins.”

Firestein mengatakan kepada BBC bahwa ia memperkirakan Trump dan Xi akan membahas cara kerja sama AI. Pada Minggu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertemu dengan mitranya dari Tiongkok He Lifeng, dan keduanya menyebut percakapan mereka “very successful” dalam isu perdagangan dan AI.

Meski demikian, para narasumber BBC memperkirakan terobosan besar dalam AI maupun isu lain kecil kemungkinannya muncul sepanjang rangkaian pertemuan Trump dan Xi yang dijadwalkan pekan ini.

Ketegangan Taiwan belum mereda

Isu Taiwan juga tetap menjadi simpul diplomasi yang sensitif. Dewan Perwakilan Kongres AS telah menyetujui penjualan persenjataan bernilai miliaran dolar ke Taiwan, yang menunggu tanda tangan Trump. Sementara itu, Trump menunda langkah tersebut untuk sementara waktu karena memandangnya sebagai “bargaining chip” dalam negosiasi dengan Tiongkok.

Tiongkok, seperti yang sudah kerap ditegaskan, berjanji untuk “reunify” dengan Taiwan yang dikelola mandiri, serta tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan. Firestein memperkirakan Xi akan mendorong Trump untuk mengambil komitmen memperpanjang penundaan penjualan tersebut, atau setidaknya mencari cara untuk menghindari penjualan.

Tantangan ekonomi dan politik di dalam negeri

Di saat yang sama, Xi menghadapi tantangan ekonomi di dalam negeri, sehingga kunjungan ini juga dipandang sebagai kesempatan untuk membahas pendalaman kerja sama dagang AS–Tiongkok. Namun, langkah yang berpotensi melahirkan kesepakatan baru menimbulkan masalah politik bagi Trump.

Sebagian anggota kabinet dan pendukung Trump disebut memandang Tiongkok dengan kecurigaan mendalam. Sebagai contoh, Menteri Perhubungan AS Sean Duffy mengirim surat kepada Ford Motor Company pada September lalu, mendesak perusahaan untuk memutus atau mengurangi hubungan dengan Tiongkok dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional serta upaya perlindungan lapangan kerja di AS.

Terlepas dari berbagai rintangan menuju kesepakatan baru, ada satu sinyal yang dinilai tetap kuat: Trump melihat kontak langsung dengan Xi sebagai sesuatu yang penting bagi proses perundingan. Stephen Orlins dari National Committee on US-China Relations menyatakan, “Trump has made a decision that no matter what, we need to not have a confrontational relationship with China.”

Orlins menambahkan, Trump percaya bahwa semakin sering ia bertemu Xi, hubungan yang kurang konfrontatif akan semakin mungkin terwujud: “He believes that the more he and President Xi meet, the less confrontational that relationship will be,” dan Orlins menyimpulkan, “and he is right.”