jurnalistik.co.id – Perdagangan luar negeri Vietnam tahun ini mencatat tonggak baru. Nilai transaksi barangnya untuk pertama kali menembus ambang US$1 triliun.
Menurut data Departemen Bea dan Cukai Vietnam (GDVC), capaian ini datang dari kombinasi kinerja ekspor yang kuat dan lonjakan impor yang lebih cepat. Kondisi tersebut juga tercermin pada besarnya defisit perdagangan yang muncul sepanjang periode berjalan.
Ekspor naik, impor melonjak
Sepanjang 2026, ekspor Vietnam bernilai US$493 miliar atau sekitar Rp 8.933 triliun dengan asumsi kurs Rp 18.120/US$. Angka itu tumbuh 27,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, impor meningkat 37,6% menjadi hampir US$508 miliar atau sekitar Rp 9.204 triliun. Karena pertumbuhan impor lebih cepat daripada ekspor, neraca perdagangan mencatat defisit sebesar US$14,02 miliar.
GDVC juga menyebut bahwa total perdagangan sudah melampaui angka US$930 miliar untuk tahun penuh 2025. Pencapaian tersebut terjadi dua bulan sebelum batas waktu yang ditentukan, menandakan percepatan aktivitas perdagangan lebih awal dari proyeksi kalender.
Pemerintah memperkirakan ekspor masih akan bertumbuh lebih dari 25% sampai akhir tahun. Proyeksi itu juga disebut berada jauh di atas target pemerintah yang sebesar 15–16%.
Perusahaan asing menjadi pendorong utama
Dari sisi pelaku, pertumbuhan perdagangan tahun ini terutama ditopang perusahaan-perusahaan milik asing. Kontribusi mereka mencapai US$778 miliar dari total nilai perdagangan, atau naik 37% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, perusahaan domestik menyumbang sebesar US$223 miliar dan tumbuh 16%. Komposisi ini memperlihatkan peran yang lebih dominan dari pelaku asing dalam kinerja transaksi barang Vietnam pada periode 2026.
Berita Terkait
Jika dilihat dari jenis barang, tiga kelompok komoditas dengan nilai perdagangan terbesar adalah komputer beserta produk elektronik dan komponennya, telepon beserta komponennya, serta mesin, peralatan, perkakas, dan suku cadang. Pola ini menempatkan sektor barang bernilai teknologi dan komponen sebagai penopang utama volume perdagangan.
Keterkaitan dagang dengan mitra utama
China dan Amerika Serikat tetap menjadi dua mitra dagang terbesar Vietnam. Perubahan kinerja ekspor ke berbagai pasar juga tampak meningkat, terutama pada negara yang memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Vietnam.
Ekspor Vietnam ke Meksiko tumbuh 42,5%, ke Korea Selatan naik 19,1%, ke Jepang meningkat 18,6%, dan ke Kanada naik 14,4%. Rangkaian kenaikan tersebut menunjukkan bahwa perluasan akses pasar—melalui skema kerja sama—ikut berpengaruh pada percepatan pengiriman barang.
Secara jangkauan, Vietnam kini memiliki hubungan perdagangan dengan 237 negara dan wilayah. Angka ini menggambarkan jejaring pasar yang luas, sehingga kontribusi dari berbagai destinasi membantu menopang target perdagangan secara keseluruhan.
Strategi hingga 2030 dan fokus pada kuartal IV-2026
Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam sedang menyusun strategi impor dan ekspor barang hingga 2030. Diversifikasi pasar ditetapkan sebagai prioritas utama dalam perencanaan kebijakan perdagangan ke depan.
Salah satu sasaran kebijakan adalah memastikan tidak ada satu pasar yang menyumbang lebih dari 25% dari total ekspor atau 35% dari total impor pada 2030. Selain itu, pangsa gabungan dari tiga pasar atau wilayah ekspor terbesar juga dibatasi hingga 55%.
Untuk kuartal IV-2026, kementerian berencana memusatkan perhatian pada pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas, perluasan pasar, serta peningkatan kemampuan perusahaan dalam memenuhi ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut mencakup peringatan dini tentang kasus-kasus penanggulangan perdagangan, hambatan tarif, standar ramah lingkungan, persyaratan ketertelusuran, dan aturan asal barang.
Kementerian juga menargetkan promosi ekspor formal, perluasan perjanjian dan protokol untuk karantina pertanian, serta investasi dalam logistik rantai dingin. Pada saat yang sama, standarisasi area penanaman dan fasilitas pengemasan direncanakan untuk memenuhi persyaratan pasar global.
Dengan kerangka tersebut, Vietnam berupaya menjaga momentum perdagangan sekaligus menata struktur pasar agar lebih seimbang. Pada periode berjalan, data GDVC memperlihatkan bahwa percepatan kinerja tidak hanya dipimpin ekspor, tetapi juga dipengaruhi meningkatnya peran perusahaan asing dalam transaksi barang.












