Internasional

Ilmuwan: gletser runtuh diduga jadi pemicu banjir dahsyat Nepal–Tibet

×

Ilmuwan: gletser runtuh diduga jadi pemicu banjir dahsyat Nepal–Tibet

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Collapsed glacier likely caused devastating Nepal-Tibet floods, scientists say

jurnalistik.co.id – NEPAL–TIBET — Investigasi awal yang disampaikan para ilmuwan mengarah pada runtuhnya gletser sebagai pemicu banjir kilat dahsyat di wilayah perbatasan Nepal–Tibet. Temuan ini sekaligus menyoroti risiko yang terus membesar dari es Himalaya yang mencair lebih cepat dari sebelumnya.

Semula, laporan awal menyebut adanya gempa yang memicu dugaan getaran atau tremor menyebabkan longsor, lalu air bah yang terbentuk kemudian menyeret sejumlah besar material hingga memicu banjir. Namun, klarifikasi kemudian datang dari US Geological Survey (USGS) yang menyatakan bencana itu diakibatkan oleh “glacial collapse”, yaitu terurainya gletser atau sebagian gletser.

Runtuhnya gletser dan benturannya ke dasar lembah dinilai begitu kuat hingga tercatat sebanding kejadian seismik dengan magnitudo 5,2, menurut data USGS serta hasil analisis para peneliti.

Dari sisi pemetaan ilmiah, Dr Simon Cook, ahli gletser dari University of Dundee, menyampaikan bahwa timnya mendeteksi bagian bawah sebuah gletser di Nepal dekat puncak Langtang Lirung—sekitar 15 km (9 mil) di sebelah barat lokasi banjir berlangsung—mengalami runtuh. Ia memperkirakan runtuhan bergerak ke arah barat melalui jalur hilir setelah pecah terlebih dahulu menuju barat-barat laut.

Di lapangan, akibat banjir ini tercatat sedikitnya 177 korban jiwa. Selain itu, lebih dari 800 orang dilaporkan hilang, sementara otoritas juga menyebut keterkaitan warga negara Inggris: terdapat 33 orang yang masuk daftar hilang, dengan dua remaja berusia 13 dan 14 tahun di antaranya.

Sejauh ini, pihak terkait masih belum memastikan faktor pemicu spesifik yang membuat gletser tersebut runtuh pada hari Rabu. Kendati demikian, selama bertahun-tahun ilmuwan telah memperingatkan bahwa pemanasan global meningkatkan laju pencairan es dan kondisi permafrost di kawasan Himalaya.

Analisis dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD)—institusi ilmiah antar-pemerintah—menyimpulkan bahwa kemungkinan terjadi “ice-rock avalanche” yang bermula dari area beraltitud tinggi. Material berupa “large volume of ice and rock debris” kemudian masuk ke Lende Khola, anak sungai dari Bhote Koshi, sebelum akhirnya memicu lonjakan mendadak pada aliran yang membawa air, sedimen, dan bongkahan besar ke hilir.

ICIMOD juga menyebut bahwa ketinggian air di sungai-sungai di bagian hilir sempat naik antara tujuh hingga sembilan meter hanya dalam tempo 30 menit. Di waktu yang sama, beberapa stasiun pemantau air dilaporkan hanyut atau mengalami kerusakan.

Karena lembah di area tersebut dikelilingi pegunungan dengan kemiringan curam, rekaman kejadian menunjukkan air dan reruntuhan material mengalir menukik dengan kecepatan tinggi mengikuti jalur sungai. Kondisi bentuk medan seperti ini membuat proses pengumpulan material dan percepatan aliran berlangsung sangat cepat.

Polanya: peringatan ilmuwan soal pencairan es dan permafrost

ICIMOD pernah merilis analisis awal tahun ini yang menyebut gletser di Hindu Kush Himalaya kini kehilangan es dengan laju dua kali lipat dibanding sejak tahun 2000. Lonjakan kehilangan massa es semacam ini ikut memperbesar bahaya, termasuk potensi banjir dan runtuhan yang berulang.

Dr Cook menambahkan bahwa ada sejumlah insiden serupa yang melibatkan runtuhnya gletser dan longsor susulan di beberapa negara, termasuk India, Swiss, dan Italia, dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengingat kasus 2021 di lembah Chamoli, India utara, ketika sebagian besar gletser Himalaya runtuh dan mengirim banjir material ke hilir hingga menewaskan 200 orang. Para ilmuwan kemudian memperkirakan dampak runtuhan itu setara dengan 15 bom atom.

Bahkan di Nepal, wilayah yang sama juga pernah mengalami banjir tahun lalu akibat pecahnya danau gletser di Tibet. Rangkaian kejadian semacam ini menjadi latar yang membuat para peneliti menilai urgensi pengamatan perubahan di daerah kriosfer.

Mohd Farooq Azam, spesialis ICIMOD, menyatakan meningkatnya frekuensi bahaya di kriosfer—bagian Bumi yang membeku—“is becoming more visible than ever before. The pace of change is so rapid that current efforts are struggling to keep up.” Menurutnya, perubahan yang terjadi bergerak terlalu cepat untuk ditangani dengan upaya yang ada saat ini.

Mengenai keterkaitan langsung antara bencana tunggal dan perubahan iklim, Dr Cook menegaskan sulit memastikan satu kejadian sepenuhnya disebabkan oleh faktor tersebut. Meski demikian, ia menilai pola peristiwa menunjukkan kemungkinan adanya pengaruh perubahan iklim. Ia menjelaskan logikanya: ketika planet menghangat, gletser menyusut, dan pencairan salju meningkat. Pada saat yang sama, permafrost—tanah beku berusia ratusan tahun—yang sebagian menahan kestabilan lereng mulai memanas, mencair, dan melemah. Dampaknya, lingkungan pegunungan tinggi menjadi makin tidak stabil dan membuka peluang lebih besar bagi longsor, aliran puing, air lelehan gletser, luapan danau, hingga runtuhnya gletser.