jurnalistik.co.id – Pemilihan parlemen Israel yang digelar Selasa menjadi ujian paling menentukan bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Di tengah situasi perang yang terus bergulir, ia menghadapi pemilu dengan sejumlah penantang yang sama-sama berpeluang mengubah peta kekuasaan.
Menurut laporan Reuters pada Senin (26/10/2026), pemilu ini merupakan yang pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Peristiwa itu kemudian memicu perang di Jalur Gaza dan Lebanon, sekaligus memperluas konflik di kawasan Timur Tengah hingga melibatkan Iran.
Dalam sistem pemilu Israel, warga memberikan suara kepada partai politik, lalu kursi parlemen dibagikan secara proporsional. Karena itu, pembentukan pemerintahan sangat bergantung pada kemampuan setiap kubu membangun koalisi setelah perhitungan suara selesai. Hingga menjelang pemungutan suara, belum terlihat jalur yang benar-benar pasti bagi pihak mana pun untuk meraih dukungan mayoritas.
Sejumlah survei sebelumnya sempat mengisyaratkan bahwa kubu Netanyahu berpotensi kehilangan dukungan. Namun, dinamika politik menjelang hari pemungutan suara justru kian ketat, dan ruang untuk koalisi yang stabil masih terbuka untuk banyak skenario.
Netanyahu sendiri telah mendominasi politik Israel sejak 2009. Ia juga pernah menjabat sebagai perdana menteri pada dekade 1990-an. Bagi pendukungnya, figur ini dipandang mampu menjaga keamanan Israel di tengah ancaman regional. Meski demikian, di dalam negeri Netanyahu juga menjadi sosok yang memecah opini publik.
Karier politik Netanyahu kerap disorot karena kritik atas kegagalan pemerintah mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Selain itu, ia juga sedang menghadapi proses hukum di Israel atas dugaan korupsi yang dibantahnya, termasuk tuduhan kejahatan perang yang dikaitkan dengan operasi militer di Gaza.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah terkait isu agama, negara, dan kewajiban militer turut memicu ketidakpuasan sebagian warga Israel. Meski tekanan meningkat, Netanyahu dikenal sebagai politikus yang mampu bertahan menghadapi arus tuntutan tersebut. Ia menyatakan akan membentuk pemerintahan dengan basis dukungan nasional yang luas jika memperoleh kemenangan.
Empat penantang yang bersaing merebut kursi PM
Pesaing utama Netanyahu datang dari empat figur yang mencoba menawarkan alternatif arah politik. Salah satunya adalah Gadi Eisenkot, mantan kepala militer Israel berusia 66 tahun. Eisenkot membangun citra sebagai tokoh dengan latar belakang militer yang relatif berada di luar lingkaran politik tradisional.
Kredibilitas Eisenkot juga dibentuk oleh pengalaman militernya serta kematian putranya dalam pertempuran di Gaza. Ia memimpin Partai Yashar, partai berhaluan tengah dengan nama dalam bahasa Ibrani yang berarti “lurus” atau “jujur”. Dalam kampanyenya, ia menonjolkan persoalan keamanan serta kebutuhan memperbaiki kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Penantang berikutnya adalah Naftali Bennett, mantan perdana menteri berusia 54 tahun. Bennett dikenal sebagai tokoh sayap kanan dengan latar belakang komando militer. Sebelum berpisah secara politik, ia pernah menjadi sekutu dan ajudan Netanyahu.
Kini Bennett bersekutu dengan mantan perdana menteri Yair Lapid dari kubu tengah lewat Partai Together. Keduanya mengusung agenda pemulihan nasional sekaligus berupaya mengakhiri dominasi Netanyahu. Aliansi Bennett dan Lapid sebelumnya berhasil menggulingkan Netanyahu dalam pemilu 2021, tetapi pemerintahan koalisi yang mereka bangun hanya bertahan sekitar 18 bulan.
Figur ketiga adalah Avigdor Lieberman, mantan menteri pertahanan berusia 68 tahun. Ia sempat menjadi sekutu dekat Netanyahu, namun meninggalkan pemerintahan pada 2018 dengan pertimbangan bahwa Netanyahu dinilai terlalu lunak terhadap kelompok militan Palestina di Gaza.
Berita Terkait
Lieberman kemudian mengambil sikap lebih keras terhadap kelompok tersebut dan menjadi salah satu pengkritik utama Netanyahu. Partainya, Israel Our Home, banyak memperoleh dukungan dari komunitas imigran yang berasal dari bekas Uni Soviet.
Terakhir, Yair Golan, mantan jenderal berusia 64 tahun, memimpin Partai Democrats. Partai ini dibentuk dari sisa-sisa Partai Buruh Israel serta partai sayap kiri Meretz. Golan mendapat pujian atas tindakannya membantu menyelamatkan warga saat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Dengan latar tersebut, Golan tampil sebagai salah satu penantang Netanyahu dari kubu kiri-tengah. Bersama tokoh oposisi lain, ia berusaha membangun alternatif pemerintahan meskipun terdapat perbedaan pandangan di antara partai-partai yang menentang Netanyahu.
Figur sayap kanan di kubu Netanyahu
Di sisi kubu Netanyahu, dua nama dari kelompok sayap kanan menjadi figur penting: Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir. Keduanya menuai kritik internasional terkait sikap keras terhadap warga Palestina.
Smotrich mendukung perluasan permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki serta secara terbuka menentang gagasan pembentukan negara Palestina. Sementara itu, Ben-Gvir mendukung hukuman mati bagi militan Palestina yang dinyatakan bersalah, pengetatan kondisi penahanan warga Palestina, serta pelonggaran aturan kepemilikan senjata bagi warga Israel.
Keduanya juga mendukung pemindahan warga Palestina dari Gaza dan pembangunan kembali permukiman Israel di wilayah tersebut. Sikap mereka menjadi isu yang diperdebatkan dalam politik Israel, terutama saat perang berlangsung dan tekanan internasional terhadap kebijakan terkait Palestina semakin menguat.
Partai religius dan Arab sebagai faktor penentu
Kelangsungan politik Netanyahu selama ini turut ditopang dua partai Yahudi ultra-Ortodoks, yakni United Torah Judaism dan Shas. Kedua partai memiliki pengaruh penting dalam pembentukan koalisi pemerintahan.
Namun, tuntutan agar anggota komunitas mereka memperoleh pengecualian dari wajib militer memicu ketidakpuasan di kalangan warga Israel. Persoalan tersebut semakin sensitif ketika negara berada dalam situasi perang dan kebutuhan personel militer meningkat. Di tengah perdebatan publik, ketergantungan sebagian komunitas ultra-Ortodoks pada tunjangan negara serta rendahnya partisipasi kerja juga menjadi bahan yang memperkeruh diskusi politik.
Bukan hanya dua kubu utama, partai-partai lain juga berpotensi memengaruhi siapa yang akhirnya dapat membentuk pemerintahan. Raam dan Joint List mewakili sebagian warga Arab Israel, sementara partai-partai yang lebih kecil seperti People of Israel dan The Reservists masih menghadapi ketidakpastian dukungan dalam jajak pendapat.
Sistem politik Israel yang terfragmentasi membuat perolehan kursi bagi partai-partai kecil kerap menjadi faktor penentu. Dengan pola ini, bahkan jika suatu kubu meraih suara lebih banyak, mereka tetap harus menggalang dukungan yang cukup di parlemen untuk membentuk pemerintahan.
Pada akhirnya, hasil pemilu Selasa akan menentukan apakah Netanyahu mampu mempertahankan kekuasaannya, atau oposisi berhasil menyatukan dukungan untuk membangun pemerintahan baru.












