Nasional

Sugiono Apresiasi Satgas PRR: Pemulihan Bencana Sumatra & Perkuat Mitigasi Perubahan Iklim

×

Sugiono Apresiasi Satgas PRR: Pemulihan Bencana Sumatra & Perkuat Mitigasi Perubahan Iklim

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menko PMK Apresiasi Kinerja Satgas PRR dalam Mitigasi Perubahan Iklim

jurnalistik.co.id – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono memberikan apresiasi kepada Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR). Menurutnya, upaya pemulihan di wilayah terdampak bencana di Sumatra menunjukkan progres setelah sekitar 11 bulan berjalan.

Sugiono menilai, sebagian besar pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi telah terealisasi. Namun, ia mengingatkan bahwa proses tersebut perlu terus diperkuat agar kesiapsiagaan menghadapi kejadian berikutnya tidak tertinggal.

Pemulihan berjalan, koordinasi tetap jadi kunci

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Minggu (26/10/2026), Sugiono menyebut kerja Satgas PRR sebagai langkah penting untuk memastikan layanan masyarakat kembali berjalan. Ia menilai, pemerintah yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto masih mampu menyelesaikan tanggung jawab pelayanan di daerah bencana.

“Saya kira ini merupakan suatu kerja keras yang luar biasa, yang patut diapresiasi di tengah berbagai keadaan, kita pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto masih bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat mengatasi masalah-masalah yang ada di daerah bencana,” ujar Sugiono.

Ia menyebut sejumlah bentuk dukungan yang dilakukan pemerintah, mulai dari penerbitan regulasi, dukungan anggaran, hingga pemulihan fasilitas serta layanan dasar. Fokus pemulihan tersebut diarahkan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Sugiono menekankan bahwa percepatan penyelesaian pekerjaan yang masih tersisa harus berjalan beriringan dengan perencanaan mitigasi perubahan iklim. Ia berharap langkah-langkah tersebut membuat pemerintah dan masyarakat lebih siap menghadapi risiko bencana di masa mendatang.

Perubahan iklim mengubah pola hujan dan memengaruhi risiko

Selain menyoroti capaian pemulihan, Sugiono juga menekankan perlunya memasukkan aspek mitigasi perubahan iklim ke dalam hitungan program rehabilitasi dan rekonstruksi. Ia menilai perubahan iklim dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia.

Menurut Sugiono, wilayah di utara khatulistiwa diperkirakan mengalami peningkatan curah hujan, sedangkan wilayah di selatan khatulistiwa cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal dalam beberapa dekade mendatang. Kondisi tersebut menurutnya harus menjadi pertimbangan ketika menyusun strategi penanganan bencana berikutnya.

“Oleh karena itu, upaya-upaya mitigasi juga harus kita masukkan dalam perhitungan kita sehingga jika terjadi bencana kita lebih siap dan upaya-upaya penanggulangan maupun rehabilitasi bisa kita lakukan dengan secepat-cepatnya,” katanya.

Ia berpendapat, upaya pemulihan perlu terus diperkuat melalui koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah (Pemda), serta seluruh unsur terkait. Dengan begitu, program tidak berhenti pada perbaikan fisik, tetapi juga mencakup antisipasi risiko yang berubah.

Mendagri laporkan bencana susulan dipicu curah hujan tinggi

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satgas PRR melaporkan bahwa bencana susulan masih menjadi tantangan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Ia menyebut curah hujan tinggi kembali memicu banjir di sejumlah wilayah.

Wilayah yang terdampak banjir ulang, antara lain Padang dan Solok di Sumatra Barat, Tapanuli Tengah di Sumatra Utara, serta beberapa daerah di Aceh. Tito menjelaskan, sedimentasi pada sungai-sungai terdampak ikut meningkatkan risiko luapan saat hujan deras terjadi.

Akibat sedimentasi tersebut, sejumlah infrastruktur yang sempat diperbaiki kembali terdampak. Karena itu, Tito menegaskan penanganan sungai perlu dipercepat agar risiko banjir susulan dapat ditekan.

Dalam laporannya, percepatan penanganan 137 sungai terdampak sedimentasi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat diharapkan menjadi bagian dari upaya mengurangi banjir susulan. Ia juga meminta dukungan Kementerian Pekerjaan Umum agar pembersihan dan penanganan sungai dapat segera dipercepat.

Dengan percepatan tersebut, proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak diharapkan berjalan lebih optimal. Upaya pemulihan pun diarahkan agar tidak hanya menyelesaikan pekerjaan yang tersisa, tetapi juga menjaga keberlanjutan mitigasi terhadap ancaman bencana ke depan.