jurnalistik.co.id – Di suatu petang awal Agustus, Daniel Sizer mendapat pesan singkat dari dewan pengelola air di wilayahnya. Isinya merangkum situasi yang makin sering terjadi: aliran sungai rendah, tetapi sempat membaik cukup untuk membiarkan irigasi satu malam saja.
Seperti banyak petani di Inggris bagian bawah, Daniel—pengelola pertanian generasi keempat—hampir tidak menerima hujan selama hampir tiga bulan. Di lahan seluas 300 hektare di Suffolk, ia memperlihatkan sisa tanaman kacang polong dan gandum; kondisi itu membuat separuh hasil panen hancur. “There’s no water in the river so half my crop is completely and utterly ruined,” ujarnya, menggambarkan kenyataan bahwa ketika debit turun, pilihan untuk “mengambil sedikit lagi” berisiko pada ekosistem.
Karena permukaan sungai semakin merosot hingga pengambilan tambahan dikhawatirkan mengganggu satwa liar, pada bulan Juli otoritas lingkungan sementara menghentikan Daniel dan ribuan petani lain untuk menyiram tanaman dari sungai. Bagi Daniel, larangan tersebut bukan sekadar soal prosedur, melainkan penanda bahwa problem kekeringan dapat masuk ke pola musiman yang lebih sulit ditebak.
Yang membuat situasi ini lebih mengkhawatirkan adalah gabungan beberapa faktor yang saling memperkuat: gelombang panas yang kian sering, curah hujan yang jauh berkurang di musim-musim berikutnya, serta proyeksi kenaikan kebutuhan air. Dalam skenario terburuk, Inggris diperkirakan bisa menghadapi kekurangan sekitar lima miliar liter air per hari untuk kebutuhan pasokan publik pada tahun 2055—hampir sebanding dengan mengisi Stadion Wembley empat setengah kali dalam sehari.
Perbandingan dengan masa lalu bahkan terdengar kontras. Pada 1818, John Keats menulis, “It is impossible to live in a country which is continually under hatches… Rain! Rain! Rain!” Namun pertanyaan yang kini muncul bukan lagi apakah hujan akan turun, melainkan apakah sistem air mampu bertahan ketika tekanan meningkat dari banyak arah sekaligus.
Perubahan kebiasaan dan lonjakan kebutuhan
Menurut gambaran yang diangkat dalam artikel BBC, konsumsi air di Inggris dan Denmark dulu berada pada tingkat yang mirip, tetapi pola itu kini berubah. Warga Denmark mengonsumsi 97 liter air per orang per hari, sementara Inggris mencapai 136,5 liter per orang per hari, mengacu pada Danva, lembaga industri air dan limbah negeri tersebut.
Nicci Russell, pengelola Waterwise—organisasi kampanye efisiensi air—menekankan bahwa terjadi peningkatan besar dalam durasi puluhan tahun. “We’ve actually doubled the amount of water we use per person, on average, in the last 50, 60 years,” katanya, mengaitkan perubahan dengan pergeseran kebiasaan lintas generasi. Dari mandi bersama seminggu sekali di satu rumah menjadi kebiasaan memiliki beberapa kali pancuran dalam seminggu, bahkan bisa terjadi setiap hari.
Rumah tangga disebut bertanggung jawab hampir 60% pemakaian air di Inggris dan Wales. Russell berpendapat jika pola konsumsi domestik lebih dekat dengan Denmark, maka lebih dari separuh kekurangan pada 2055 dapat ditekan. “If we had domestic water consumption patterns more like Denmark… more than half the 2055 shortfall would be wiped out,” ujarnya. Ia juga menilai, bahkan dengan pertumbuhan penduduk yang diperkirakan, perubahan kecil bisa memberi efek nyata. Misalnya, bila setiap orang di Inggris memotong satu menit dari waktu mandi, penghematan yang diklaim mencapai hampir satu miliar liter air per hari pada tahun 2050.
Pada praktiknya, kampanye yang mendorong penggunaan lebih sedikit air sudah dilakukan perusahaan-perusahaan penyedia. Namun Will Willoughby, direktur pasokan air di Wessex Water, mengakui bahwa persepsi publik yang negatif terhadap industri membuat pesan itu terbatas dampaknya. Ia menilai pemerintah bisa lebih efektif mendorong perubahan karena lebih mampu membangun kepercayaan. “I think that would absolutely go a long way to… undoing some of the disdain towards the water companies and get people on board to help look after our water resources,” ujarnya.
Perbedaan harga: cermin perilaku
Komponen lain yang dianggap membedakan Inggris dari Denmark adalah harga. Di Denmark, meteran air bersifat wajib, dan biaya yang harus dibayar jauh lebih tinggi. Bahkan dengan naiknya tagihan di Inggris, termasuk kemarahan publik terhadap perusahaan air yang dituduh membagi dividen ketika investasi infrastruktur dibutuhkan, argumen yang muncul adalah bahwa konsumen sebenarnya belum membayar cukup untuk penggunaan yang berkelanjutan.
Dalam artikel itu, Denmark disebut mengenakan biaya rata-rata 9,45 poundsterling untuk setiap meter kubik air dan limbah, sementara Inggris jauh lebih rendah. Thames Water—yang disebut salah satu tarif termurah—mengenakan 4,21 poundsterling, sedangkan Southern sebagai yang paling mahal berada di angka 7,06 poundsterling.
Daniel Johns, managing director Water Resources East, sebuah organisasi yang bekerja dengan petani, perusahaan air, dan pemerintah daerah, menyebut bahwa air di Inggris “terlalu murah.” Ia memperingatkan anggapan bahwa air akan selalu tersedia. “People assume that it will always be readily available. And we need to wean ourselves off that kind of idea that water will always be there.”
Di Denmark, kenaikan harga awalnya diterapkan untuk perbaikan pengolahan limbah. “The behaviour change followed naturally,” tulis artikel tersebut, setelah orang-orang menjadi lebih berhati-hati karena utilitas yang semula murah berubah menjadi lebih mahal. Kebiasaan hemat itu kemudian mengendap dalam budaya: siswa sekolah melakukan kunjungan ke fasilitas pengolahan air untuk memahami nilai sumber daya, sementara rumah tangga mengadopsi perangkat penghemat air seperti kepala shower dan tangki toilet.
Namun, ketika isu yang sama dibahas di Inggris—termasuk pembicaraan tentang “surge charging” bagi pelanggan yang memakai lebih banyak air—ada batasan regulasi industri yang membuat skema tarif seperti itu tidak dapat diterapkan. Feargal Sharkey, mantan vokalis The Undertones yang kemudian memimpin gerakan kualitas air, merangkum kecurigaan sebagian kampanye. Mengutipnya dalam program Today Radio 4, ia mengatakan, “All of this is nothing more than window dressing on the part of companies why they continue to abuse and exploit their customers.”
Berita Terkait
Air minum untuk kebutuhan yang tidak selalu seharusnya
Problem kelangkaan tidak hanya berasal dari rumah tangga. Dunia usaha diperkirakan memakai hampir sepertiga pasokan air di Inggris dan Wales, dengan kontribusi yang sangat terkonsentrasi: justru hampir setengahnya berasal dari hanya 1% perusahaan. Selain itu, perusahaan usaha disebut menerima tarif diskon dari penyedia air—diskon yang makin besar seiring volume pemakaian. Situasi ini, menurut artikel, bertentangan dengan tujuan efisiensi karena insentif justru mengarah pada penggunaan yang lebih tinggi.
Regulator industri, Ofwat, menyebut bahwa lima dari sembilan perusahaan air kini sedang menghentikan skema tarif diskon seperti itu karena dikhawatirkan “might be sending the wrong signal on water efficiency”. Tetapi ada persoalan lain yang lebih spesifik: jenis air apa yang digunakan industri.
Artikel membedakan air yang dapat diminum (potable) dengan air non-minum (non-potable). Air potable bebas dari bakteri dan bahan kimia berbahaya, sehingga aman untuk minum dan memasak. Sebaliknya, air non-potable tidak diproses pada standar yang sama sehingga tidak aman untuk diminum, tetapi masih dapat digunakan untuk kebutuhan industri dan irigasi.
Daniel Johns menyoroti penggunaan air yang seharusnya lebih terjaga. “At the moment, we’re using world-class drinking water to cool data centres, to irrigate our golf courses,” katanya. Ia mendorong regulator meninjau akses air minum untuk beberapa jenis usaha tertentu: “We should simply ban data centres from using potable water supplies. We should require them to use closed-loop systems”.
Kebocoran, meteran, dan teknologi pendeteksi
Di saat publik banyak membahas gangguan besar seperti pipa utama yang pecah, kebocoran justru disebut membaik. Menurut Ofwat, kebocoran air sudah ditekan sebesar 43% sejak 1989. Meski begitu, lebih dari 45 liter air per orang per hari masih hilang dari jaringan air Inggris—hampir seperlima total air yang beredar dalam sistem.
Di titik inilah gagasan menjadikan meteran lebih wajib dipaparkan sebagai langkah yang bisa berdampak melampaui penetapan tagihan. Ketika pelanggan bermeteran mendapat biaya yang lebih tinggi dari perkiraan, itu bisa menjadi petunjuk bagi perusahaan air untuk menemukan kebocoran dan memperbaikinya. Tanpa meter, kebocoran lebih sulit terdeteksi di pipa yang berada di properti pribadi.
Artikel menyebut Lightsonic, yang bekerja dengan Affinity Water, menggunakan kabel serat optik untuk mempercepat identifikasi kebocoran. James Ramsay, chief technology officer Lightsonic, menjelaskan bahwa kabel internet sering berada dekat dengan suplai air. Saat air bocor, getaran yang timbul berinteraksi dengan kabel serat optik, mengubah karakteristik cahaya yang merambat di dalam serat tersebut. “We are just three months into our deployment and the technology has already helped locate over 100 leaks, which has saved the equivalent of two million litres of water every day.”
Jika diaplikasikan ke seluruh jaringan Inggris dan Wales, perusahaan itu memperkirakan bisa menekan kebocoran “by as much as a billion litres a day”. Angka ini menegaskan bahwa penemuan kebocoran yang lebih cepat dapat mengubah dampak yang selama ini sulit dikurangi hanya dengan kampanye penghematan di tingkat rumah tangga.
Penyimpanan: menambah reservoir bukan perkara mudah
Selain tekanan dari konsumsi, ada faktor ketersediaan yang juga berubah. Inggris sudah mengalami musim dingin yang lebih basah, sesuai prediksi model iklim yang mengarah pada pola seperti itu akan berlanjut. Pertanyaan berikutnya adalah apakah air berlebih itu dapat disimpan untuk saat dibutuhkan.
Untuk itu, dibutuhkan reservoir baru. Tetapi Inggris telah tidak membangun reservoir besar baru selama lebih dari 30 tahun. Artikel menjelaskan bahwa minimnya lokasi penyimpanan baru menjadi bahan perdebatan panjang antara perusahaan air dan kalangan kampanye. Kelompok kampanye menilai ada kekurangan investasi dari sektor yang diprivatisasi, sedangkan perusahaan air berargumen bahwa izin untuk membelanjakan dana dibatasi oleh regulator karena dampaknya pada tagihan pelanggan.
Dalam 2025, review independen Cunliffe tentang sektor air menerima bahwa kedua argumen itu benar. Setelah itu, artikel menyebut bahwa pada 2050 nanti, ada rencana pembangunan 10 reservoir di Inggris. Namun, membangun reservoir yang cukup tidak selalu mudah karena terkait geografi: Dr Ross Woods, associate professor water and environmental engineering di University of Bristol, mengatakan, “Building enough reservoirs to hold all that water requires good places, which means places where the land is sloping, where we can find a valley.” Ia menambahkan, “I don’t think that’s realistic countrywide.”
Salah satu lokasi yang dinilai cocok untuk mega-reservoir yang melayani 15 juta orang adalah dekat Abingdon. Kota di Oxfordshire yang berada di tepian Sungai Thames—yang sebelumnya dikenal dengan tradisi melempar bungkusan—kini berada di pusat perdebatan nasional. Opini publik terbelah: sebagian menolak karena khawatir biaya lingkungan akibat perusakan hutan-hutan kuno.
Pemerintah kemudian menetapkan lokasi tersebut dan satu reservoir lain sebagai Nationally Significant Infrastructure Projects, sehingga sebagian proses pengambilan keputusan lokal bisa dilewati. Tetapi penetapan status tidak serta-merta menghapus tantangan lingkungan. Reservoir, sebagai badan air, harus mencapai “good” status kualitas air sesuai hukum lingkungan. Artinya harus bebas dari polusi seperti limpasan pertanian dan spesies invasif. Artikel mencatat hanya 14% badan air di Inggris yang saat ini mencapai standar tersebut.
Dengan demikian, mengamankan pasokan air Inggris bukan hanya soal menekan konsumsi atau mengurangi kebocoran, melainkan juga menyelesaikan persimpangan antara harga, perilaku, jenis air yang digunakan, serta kemampuan infrastruktur untuk menyimpan dan menjaga kualitas. Ketika kekeringan makin sering, pertarungannya menjadi lebih luas dari sekadar musim panas—ia menyangkut desain ulang cara Inggris memandang sumber daya air untuk jangka panjang.












