jurnalistik.co.id – TSA mengumumkan serangkaian perubahan di bandara AS yang—setelah lebih dari dua dekade sejak era pasca-9/11—akan memudahkan sebagian penumpang untuk kembali melakukan aktivitas tertentu yang sebelumnya dilarang.
Kabar ini terutama menyasar akses ke area gate bersama keluarga atau orang terdekat. Melalui kebijakan baru, TSA akan mengizinkan individu tanpa tiket pesawat untuk melewati pemeriksaan keamanan dan kemudian menuju area gate, selama mereka termasuk dalam kategori yang memenuhi syarat.
Untuk tahap awal, TSA menyebut peserta TSA PreCheck atau mereka yang memiliki known traveller number (nomor pelancong yang sudah terdaftar) akan menjadi kelompok pertama yang dapat memanfaatkan aturan baru tersebut. Program ini memang sudah dikenal karena memberi proses penyaringan yang lebih cepat di bandara AS.
Bagi warga yang memiliki TSA PreCheck dan ingin pergi ke gate tanpa tiket, mereka dapat mengajukan permohonan secara daring. TSA menyatakan pendaftaran bisa dilakukan 1 sampai 3 hari sebelum kunjungan yang direncanakan.
Selain itu, TSA juga memperkenalkan Gateside TSA PreCheck yang akan tersedia di 13 bandara di seluruh AS. Program ini, menurut TSA, ditujukan untuk membantu penumpang dan pihak yang menemani agar bisa kembali merasakan momen “penjemputan dan perpisahan” di area gate.
TSA menuliskan: “This new program makes it easier to return to the gate for welcomes and send-offs, meet friends during a layover, and enjoy dining and shopping along the way, bringing back the moments that once defined air travel,”
Menurut Jeff Price, seorang pakar keamanan penerbangan sekaligus profesor di Metro State University Denver, perubahan kebijakan pasca-9/11 pada dasarnya merupakan upaya untuk mengurangi jumlah orang yang harus disaring oleh petugas keamanan. Price mengatakan: “It keeps the lines moving and allows us to focus more on the traveling passenger,”
Namun, Price juga menegaskan bahwa saat ini perubahan dapat dilakukan karena adanya kemajuan teknologi. Dengan kata lain, perubahan aturan tidak disertai penurunan standar, melainkan berhubungan dengan perangkat dan kemampuan pemeriksaan yang lebih modern.
Berlakunya kembali akses gate untuk “visitor” ini muncul bersamaan dengan pembahasan kebijakan lain yang juga berkaitan dengan barang bawaan. Dalam laporan media AS, disebutkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan penumpang TSA PreCheck membawa botol air penuh melalui pemeriksaan keamanan.
Jika rencana itu benar-benar diterapkan, maka aturan tersebut akan membalik larangan yang dipasang setelah rencana aksi teror yang gagal pada 2006. Saat itu, terdapat upaya untuk menyelundupkan campuran bahan kimia berbasis cairan menggunakan botol minuman ringan dan minuman olahraga.
Berita Terkait
BBC sempat meminta konfirmasi terkait perubahan yang diberitakan tersebut, tetapi TSA tidak merespons permintaan BBC. Meski demikian, kerangka diskusinya tetap merujuk pada kemampuan deteksi keamanan yang dinilai sudah lebih baik dibanding masa ketika larangan awal diberlakukan.
Price menjelaskan bahwa TSA sedang memasang mesin keamanan yang lebih baru untuk menggantikan rontgen (X-ray) tradisional. Ia menyebut perangkat tersebut memiliki kemampuan computed tomography (CT), yang menurutnya dapat melakukan deteksi jauh lebih baik terhadap bahan peledak berbasis cairan.
Price mengatakan: “can do a much better job of detecting liquid-based explosives” saat membahas kapasitas deteksi dari mesin-mesin baru tersebut.
Langkah penyesuaian prosedur ini juga mengikuti perubahan lain yang dilakukan TSA. Tahun lalu, TSA mengakhiri persyaratan penumpang untuk melepas sepatu saat pemeriksaan keamanan, sebuah aturan yang telah berlaku selama dua dekade.
Respons publik di media sosial, menurut laporan BBC, juga beragam. Sebagian pengguna yang lebih senior—yang mengingat masa sebelum kebijakan-kebijakan pasca-9/11 diterapkan—menilai perubahan tersebut sebagai kembalinya situasi yang terasa “normal”.
Sementara itu, pengguna yang lebih muda mempertanyakan apakah pelonggaran prosedur menandakan adanya penurunan keselamatan. Price menanggapi dinamika ini dengan menyatakan bahwa banyak orang merindukan kondisi sebelum 9/11.
Price mengatakan: “People have a nostalgia for a pre 9/11, it’s a calling back to a normal world, and I can see that part of it,” lalu menambahkan, “I can see people wanting to get back to something that they feel more comfortable with, which was a pre 9/11 world.”
Meski demikian, Price menegaskan bahwa perubahan yang diumumkan tidak perlu berdampak pada keselamatan penumpang, selama langkah keamanan inti tetap dipertahankan dan standar tetap tinggi.
Ia menambahkan: “I don’t want to compromise [valid security measures] simply for a nostalgic feeling before 9/11,”
Price juga menyatakan: “I don’t think we should make those types of decisions so that we feel better. We can make those types of decisions as long as the security measures are not compromised, and that’s always what I look for in these situations.”
Dengan demikian, perubahan akses ke gate dan kemungkinan relaksasi pembawaan cairan—jika benar-benar dijalankan—diposisikan sebagai penyesuaian yang mengikuti perkembangan teknologi pemeriksaan, bukan sebagai penurunan standar keamanan.












