Politik & Parlemen

PKB Dorong PBNU Selesaikan Pembenahan Kepemimpinan Menjelang Muktamar di Jombang

×

PKB Dorong PBNU Selesaikan Pembenahan Kepemimpinan Menjelang Muktamar di Jombang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dorongan Pembenahan Kepempimpinan PBNU Jelang Muktamar di Jombang

jurnalistik.co.id – Ijtima Ulama Indonesia yang digelar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk jalannya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang. Dalam rekomendasi itu, pembenahan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disebut perlu dilakukan agar proses muktamar berjalan sesuai harapan.

Wakil Sekretaris Dewan Syura PKB, Maman Imanulhaq, menegaskan bahwa Muktamar ke-35 NU harus menjadi ruang pembenahan di internal PBNU. Ia menilai, arah pembicaraan dan pelaksanaan muktamar perlu dijaga supaya tidak diwarnai praktik-praktik yang bertentangan dengan prinsip organisasi.

Menurut Maman, Ijtima Ulama menghendaki agar muktamar benar-benar jauh dari pola yang bersifat transaksional. Pernyataan tersebut ia sampaikan setelah gelaran Ijtima Ulama Indonesia berlangsung di Hotel Fairmont, Jakarta, pada Kamis (23/7/2026).

Jauh dari praktik transaksional

Maman menyebutkan, Ijtima Ulama meminta agar proses Muktamar berlangsung “betul-betul jauh” dari transaksi. Ia mengatakan, “Ijtima Ulama meminta agar Muktamar di Jombang besok betul-betul jauh dari praktik transaksional dan jauh dari praktik yang hanya memanfaatkan PC-PC NU,” tegas Maman usai gelaran tersebut.

Ia melanjutkan penekanannya pada kualitas penyelenggaraan muktamar. “Sebaliknya, muktamar ini harus melibatkan banyak pihak, memberikan peluang bagi anak muda, serta menonjolkan profesionalisme,” sambungnya.

Dalam pandangan PKB, pembenahan yang dimaksud tidak berhenti pada aspek prosedural. Ijtima ulama juga mendorong agar muktamar menjadi momentum yang menguatkan kembali orientasi NU sebagai organisasi kemasyarakatan.

Maman menilai para ulama mengharapkan PBNU kembali mengokohkan peran strategisnya di tengah masyarakat. “Mereka tetap menginginkan PBNU sebagai lokomotif civil society dalam memberikan kritik yang konstruktif kepada pemerintah, mendampingi umat untuk melakukan pemberdayaan ekonomi, serta meningkatkan kualitas pendidikan,” ujar Maman.

Dengan kerangka tersebut, PKB memandang penting agar pembenahan internal menghasilkan penguatan fungsi-fungsi organisasi. Fokusnya, kata Maman, pada upaya yang dapat dirasakan dalam kerja-kerja sosial, pendampingan umat, serta peningkatan kualitas layanan pendidikan.

Perubahan kepemimpinan jadi poin utama

Di sisi lain, Sekretaris Dewan Syuro PKB, Saifullah Ma’shum, menyatakan bahwa sorotan utama dalam rangkaian narasi Ijtima Ulama adalah pergantian pucuk pimpinan. Ia menegaskan pembahasan itu dipandang sebagai kebutuhan yang harus masuk dalam agenda muktamar.

Ma’shum menyebutkan, “Saya ingin menambahkan soal Muktamar ya. Jadi poinnya bahwa Muktamar nanti harus terjadi perubahan kepemimpinan di PBNU. Itu aja poinnya. Dari seluruh narasi tadi itu, harus ada perubahan pimpinan di dalam tubuh PBNU,” tegas Ma’shum.

Pernyataan tersebut memperjelas bahwa dorongan yang muncul tidak hanya menyasar praktik-praktik tertentu, tetapi juga menyentuh struktur kepemimpinan. Dengan demikian, arah pembenahan dipusatkan pada pembaruan figur dan penguatan tata kelola.

Konsep pembenahan kepemimpinan ini juga dipandang sejalan dengan harapan agar NU dapat menjalankan fungsi kontrol sosial secara lebih konstruktif. Selain itu, organisasi juga diharapkan makin kuat dalam mendukung pemberdayaan ekonomi dan pendidikan.

Gus Yahya kembali maju sebagai calon ketua umum

Menjelang muktamar, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menyatakan kesiapannya untuk kembali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU. Ia menyampaikan hal itu dalam konferensi pers persiapan Muktamar ke-35 NU di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).

Gus Yahya menjelaskan bahwa pencalonannya didorong keinginan untuk menyelesaikan program-program yang telah dirancang sejak awal masa kepemimpinannya. Ia mengatakan, “Concern saya adalah bahwa ya saya sudah menyatakan saya maju lagi sebagai calon,” ujar Gus Yahya dalam kesempatan tersebut.

Menurut Gus Yahya, sejumlah program yang telah digagas masih perlu disempurnakan. Ia menekankan bahwa penyempurnaan itu penting agar manfaatnya dapat lebih luas dan benar-benar dirasakan oleh warga NU.

Ia juga menyampaikan, “Bagaimana menyempurnakannya sehingga bisa sungguh-sungguh dirasakan manfaatnya secara nyata oleh warga Nahdlatul Ulama,” kata Gus Yahya.

Dengan adanya dorongan dari PKB yang menekankan perubahan kepemimpinan, pernyataan Gus Yahya memperlihatkan adanya dua arus yang berjalan beriringan: satu pihak mendorong pembenahan dan pergantian, sementara pihak lain menyatakan niat untuk melanjutkan serta menyempurnakan agenda yang tengah berjalan.

Ke depan, pembahasan di Muktamar ke-35 NU di Jombang menjadi titik penting untuk menentukan arah pembenahan internal PBNU. Apakah yang ditekankan dalam Ijtima Ulama akan diwujudkan melalui perubahan kepemimpinan, atau melalui penyempurnaan program yang dianggap masih perlu diperkuat, semuanya akan menjadi bagian dari proses yang harus dijaga kualitasnya.

PKB melalui Ijtima Ulama Indonesia juga menempatkan muktamar sebagai momen yang seharusnya mendahulukan profesionalisme dan membuka ruang bagi banyak pihak. Dalam kerangka itu, diharapkan muktamar tidak hanya berjalan secara prosedural, melainkan juga menghasilkan pembaruan yang nyata bagi organisasi dan masyarakat luas.