jurnalistik.co.id – Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengumumkan “fit for the future Olympian grant”, sebuah skema hibah yang memungkinkan setiap atlet Olimpiade masa depan mengajukan dana sebesar $10.000 (£7.600) untuk setiap Olimpiade yang mereka ikuti.
Menurut IOC, hibah ini dirancang untuk mendukung perjalanan karier atlet Olimpiade, sekaligus membantu transisi mereka setelah masa kompetisi berakhir.
Nilai hibah, dana khusus per penyelenggaraan, dan perkiraan penerima
IOC menetapkan bahwa setiap penyelenggaraan Olimpiade akan memiliki dana sebesar $140 juta (£106,5 juta) yang disisihkan untuk mendukung skema hibah tersebut.
Atlet yang berkompetisi pada Olimpiade Musim Dingin tahun ini menjadi kelompok pertama yang dapat mengajukan hibah.
Dari sisi cakupan, IOC memperkirakan sekitar 14.000 Olympian per Games akan memenuhi syarat untuk mengajukan hibah.
Ketentuan kelayakan dan penyaluran melalui struktur nasional
Hibah tidak tersedia bagi atlet yang melakukan pelanggaran anti-doping, atau melanggar Kode Etik IOC, syarat berpartisipasi, serta Piagam Olimpiade.
IOC juga menyatakan hibah akan disalurkan melalui struktur Komite Olimpiade Nasional (National Olympic Committees/NOC) yang sudah ada.
Selain itu, IOC menegaskan hibah ini tidak akan dipotong karena adanya dukungan yang telah diberikan IOC kepada NOC, federasi olahraga internasional, panitia penyelenggara Olimpiade, maupun Olympic Solidarity.
Sejumlah NOC memang menyediakan hadiah uang, namun British Olympic Association tidak termasuk di antara yang menyalurkan skema tersebut.
Bagian dari kerangka “fit for the future” dan pesan pimpinan atlet
Inisiatif hibah ini merupakan salah satu langkah awal dalam kerangka “fit for the future” yang ingin mencari cara baru untuk mendukung atlet.
Pau Gasol, peraih medali basket tiga kali untuk Spanyol yang kini menjadi ketua komisi atlet IOC, menyampaikan bahwa setiap perjalanan atlet memiliki bentuknya masing-masing.
Ia mengatakan: “While every athlete’s journey is different, every Olympian has made sacrifices to reach the Olympic stage – years of dedication, years of hard work, years of believing in a dream. This is not prize money. This is about recognising the journey and the commitment it takes to become an Olympian. And it is about recognising that every Olympian is part of our Olympic community, and honouring those who have come before us and paved the way, so that current and future generations of Olympians can benefit.”
Kaitan dengan diskursus hadiah Olimpiade
Dalam catatan perkembangannya, pada Olimpiade Paris 2024, World Athletics menjadi federasi internasional pertama yang memberikan hadiah uang di ajang Olimpiade, dengan medali emas memperoleh $50.000 (£38.000).
Skema itu akan diperluas untuk medali perak dan perunggu pada Olimpiade Los Angeles 2028.
IOC, melalui presiden Kirsty Coventry, sebelumnya menyatakan sikapnya yang menolak pemberian hadiah uang Olimpiade, namun ia menilai organisasi tetap perlu “find more ways to directly impact athletes and help them on their journey”.
Coventry menambahkan pada hari Rabu bahwa topik tersebut telah lama menjadi bahan pembicaraan dan ia merasa bangga karena kini IOC dapat mewujudkannya.
Proses untuk Olimpiade berikutnya dan batasan kelompok
IOC menyebut hibah akan tersedia untuk semua atlet yang bertanding dengan akreditasi Aa, serta tidak berlaku bagi mereka yang hanya bertanding pada Youth Olympic Games.
IOC juga menargetkan agar proses pengajuan untuk Olympians tahun 2026 dibuka pada akhir tahun ini.
Pembayaran pertama direncanakan dilakukan pada 2027.
Dalam penjelasan skema ini, IOC menekankan bahwa hibah yang diberikan tidak diposisikan sebagai imbalan tunggal semata, melainkan dukungan yang mengiringi atlet sejak fase persiapan hingga proses menyelesaikan kompetisi. Dengan demikian, dana $10.000 per Olimpiade yang diikuti ditempatkan sebagai pengakuan atas komitmen panjang menuju panggung Olimpiade.
IOC juga menyusun kerangka pelaksanaan agar hibah berjalan terukur, mulai dari ketersediaan dana per penyelenggaraan hingga mekanisme penyaluran melalui NOC yang sudah ada. Bagi atlet, syaratnya mencakup kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, termasuk aspek anti-doping, kode etik, serta piagam Olimpiade, sehingga hanya mereka yang memenuhi prasyarat yang dapat memanfaatkan skema ini.






