Internasional

Iran Pelajari Usulan Kesepakatan Damai, Trump Sebut Dialog Tetap Berjalan

0
×

Iran Pelajari Usulan Kesepakatan Damai, Trump Sebut Dialog Tetap Berjalan

Sebarkan artikel ini
Iran Kaji Usulan Kesepakatan Damai, Trump Klaim Dialog Jalan Terus Global 3 Juni 2026
Ilustrasi: Iran Kaji Usulan Kesepakatan Damai, Trump Klaim Dialog Jalan Terus

jurnalistik.co.id – TEHERAN — Iran tengah mengkaji usulan perjanjian dengan Amerika Serikat untuk menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Di saat yang sama, komunikasi antara kedua pihak dilaporkan sempat terhenti dalam beberapa hari terakhir, tetapi klaim itu langsung dibantah Presiden AS Donald Trump.

Media Iran melaporkan bahwa Teheran belum memberikan respons atas teks final usulan perjanjian sementara tersebut. Kantor berita Mehr News Agency, mengutip seorang sumber, menyebut Iran mengambil sikap “keras” karena sejarah panjang ketidakpatuhan AS dan ketidakpercayaan yang sudah berakar lama.

Kantor berita semi-resmi Fars juga melaporkan bahwa pertukaran pesan terkait kemungkinan kesepakatan, atau nota kesepahaman, telah berhenti beberapa hari lalu. Dalam laporan itu disebutkan bahwa pesan terakhir yang diklaim dikirim adalah pesan tegas Teheran soal Lebanon, di mana Iran menuntut penghentian invasi Israel terhadap Hezbollah, sekutu utamanya.

Trump menepis laporan tersebut lewat unggahan di media sosial. “Pernyataan itu salah dan keliru,” tegasnya. Ia menambahkan, “Percakapan antara kami terus berlangsung tanpa henti, termasuk empat hari lalu, tiga hari lalu, dua hari lalu, kemarin, dan hari ini.”

Di tengah saling bantah itu, isu nuklir Iran tetap berada di meja perundingan. Sehari sebelumnya, Trump menyatakan akan ada kesepakatan dalam pekan ini untuk memperpanjang gencatan senjata yang mulanya disepakati awal April lalu, sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

Sejak pertengahan Maret, Trump berkali-kali mengklaim dirinya sudah dekat dengan sebuah kesepakatan yang akan menunda isu-isu pelik, termasuk masa depan program nuklir Iran. Pernyataan itu menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih diposisikan sebagai salah satu ruang utama, meski perbedaan sikap antara Washington dan Teheran belum terlihat menyempit.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang juga menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional Trump, mengatakan kepada anggota Kongres bahwa Iran telah setuju untuk menegosiasikan aspek-aspek program nuklirnya yang sebelumnya ditolak untuk dibahas. Namun, Rubio mengingatkan bahwa langkah itu bukan jaminan perundingan akan berujung pada kesepakatan.

Rubio menegaskan, “Iran dikenai sanksi karena pengayaan uranium tingkat tinggi. Iran dikenai sanksi karena aktivitas nuklir mereka. Jika mereka setuju melepaskan hal-hal itu, akan ada keringanan sanksi yang dikaitkan dengan komitmen dan kepatuhan mereka terhadap perjanjian tersebut.”

Dengan demikian, pembicaraan antara Iran dan AS masih berada dalam fase yang rapuh. Di satu sisi, Teheran disebut sedang menimbang usulan yang ada, sementara di sisi lain Washington menegaskan komunikasi tetap berjalan. Namun, dari pernyataan yang muncul sejauh ini, belum ada tanda bahwa kedua pihak sudah mencapai titik temu final atas perang yang berlangsung, gencatan senjata, maupun masa depan program nuklir Iran.

Situasi ini memperlihatkan bahwa ruang diplomasi masih dibuka, tetapi dibayangi oleh rasa saling curiga yang kuat. Ketika satu pihak menyebut ada jeda komunikasi, pihak lain justru menegaskan pembicaraan tetap hidup. Kontradiksi semacam ini membuat proses negosiasi tampak rapuh sejak awal dan mudah terganggu oleh pernyataan publik maupun pesan yang bocor ke media.

Di sisi lain, perdebatan yang muncul tidak hanya soal satu teks perjanjian, melainkan juga rangkaian isu yang saling terkait. Pembicaraan mengenai gencatan senjata, Selat Hormuz, program nuklir Iran, hingga Lebanon menunjukkan bahwa setiap langkah kecil dari kedua pihak memiliki dampak yang jauh lebih besar. Karena itu, belum adanya respons final dari Teheran dapat dibaca sebagai kehati-hatian, bukan sekadar penundaan teknis.

Pernyataan pejabat AS juga menegaskan bahwa kesepakatan, bila benar-benar tercapai, masih harus melewati banyak syarat dan verifikasi. Iran diminta menunjukkan kepatuhan pada komitmen yang disepakati, sementara Washington tetap mengaitkan kemungkinan keringanan sanksi dengan hasil konkret dari perundingan. Dalam kondisi seperti ini, pertemuan kepentingan keduanya masih jauh dari kata pasti, meski pintu dialog belum tertutup.