jurnalistik.co.id – Ryanair mencatat penurunan laba yang tajam pada kuartal kedua, seiring perang di kawasan Timur Tengah mendorong harga jet fuel dan membuat pelanggan menunda rencana terbang.
Maskapai asal Irlandia itu melaporkan laba sebelum pajak turun 34% menjadi €593 juta (£503 juta) pada periode April hingga Juni, sementara penjualan tetap datar. Perusahaan menyebut kondisi ini muncul karena kombinasi perang yang meningkatkan biaya bahan bakar dan kecenderungan calon penumpang yang ragu memesan.
Menurut Ryanair, tekanan tersebut turut membuat maskapai terpaksa menyesuaikan harga. Perseroan menyatakan harus memangkas tarif untuk merangsang permintaan di tengah “consumer hesitancy” terkait perjalanan udara.
Ryanair juga memperkirakan tarif musim panas akan sedikit lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Alasan yang sama disebut sebagai pertimbangan konsumen yang cenderung ragu untuk melakukan perjalanan udara akibat konflik yang tengah berlangsung.
Kenaikan biaya BBM dipicu kondisi geopolitik
Harga untuk mengisi pesawat meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari. Ryanair mengatakan mereka telah “hedged” atau melakukan pengaturan untuk menutup biaya bahan bakar di masa mendatang, sehingga sebagian dampak lonjakan dapat dikelola untuk periode tertentu.
Namun, untuk pengeluaran yang tidak tercakup dalam pengaturan tersebut, Ryanair menyebut biayanya lebih dari dua kali lipat. Dengan kata lain, porsi biaya yang tidak dilindungi kontrak menjadi faktor yang lebih berat pada hasil keuangan.
Di saat yang sama, harga minyak mentah terus menguat. Crude oil mencapai lebih dari $90 per barel untuk pertama kalinya dalam sebulan setelah akhir pekan yang diwarnai pertukaran tembakan intens antara AS dan Iran.
Berita Terkait
Arus pasokan juga terdampak karena lalu lintas melalui Selat Hormuz—jalur penting bagi suplai minyak dan gas global—“has ground to a halt”. Brent crude sebagai acuan harga minyak global kemudian naik 2,5% pada hari Senin.
Ryanair memperingatkan bahwa kinerja perseroan sepanjang tahun akan “highly sensitive” terhadap faktor eksternal. Perusahaan menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah, situasi terkait Ukraina, serta harga jet fuel yang tidak dilindungi (unhedged).
Risiko harga minyak bisa makin tinggi
Shane Oliver, kepala strategi investasi di AMP, seorang manajer dana, menilai potensi dampak lanjutan dari situasi di Selat Hormuz dapat memperbesar tekanan pada harga minyak. Ia menyampaikan, “The longer the strait remains closed and the war escalates, the greater the risk that oil prices will have to rise to around $150 a barrel to bring demand down to match the hit to supply.”
Oliver menambahkan, “This is not our base case but it’s a high risk again.” Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa skenario kenaikan harga tidak dianggap sebagai skenario utama, tetapi tetap memiliki risiko yang tinggi bila kondisi perang terus berlanjut dan jalur pengiriman tetap tidak pulih.
Dengan demikian, penurunan laba Ryanair pada periode April hingga Juni menjadi cerminan langsung dari dua tekanan sekaligus: biaya bahan bakar yang melonjak dan kecenderungan penumpang yang menunda penerbangan. Di saat perusahaan mencoba menjaga permintaan melalui tarif yang lebih rendah, volatilitas harga energi tetap menjadi salah satu faktor kunci yang dapat menentukan arah hasil keuangan berikutnya.
Dalam paparan terbarunya, Ryanair menekankan bahwa strategi pengelolaan biaya bahan bakar melalui pengaturan (hedging) tidak membuat seluruh beban menjadi nol. Sebaliknya, sebagian kenaikan tetap harus ditanggung karena ada pengeluaran yang berada di luar cakupan pengaturan tersebut, sehingga tekanan terhadap laba menjadi lebih nyata.
Perusahaan juga mengaitkan perubahan biaya dan permintaan sebagai rangkaian yang saling memengaruhi. Ketika harga energi bergerak lebih tinggi akibat gangguan rantai pasokan minyak, maskapai harus menyeimbangkan antara menjaga keterjangkauan tiket dan risiko margin tergerus, sambil tetap menghadapi perilaku calon penumpang yang memilih menunda perjalanan.












