Peristiwa

Jenazah 2 Turis China Korban Tenggelam di Pulau Kelor Masih di Labuan Bajo, Keluarga Menyusul

×

Jenazah 2 Turis China Korban Tenggelam di Pulau Kelor Masih di Labuan Bajo, Keluarga Menyusul

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jenazah Turis China Masih Tertahan di Labuan Bajo, Tunggu Keluarga Datang ke Indonesia

jurnalistik.co.id – Jasad dua wisatawan asal China yang tewas tenggelam di perairan Pulau Kelor masih berada di Labuan Bajo, tepatnya di kamar mayat RSUD Komodo. Hingga Kamis (16/7/2026), pemulangan jenazah masih menunggu kedatangan keluarga.

Menurut informasi yang diterima, kedua korban adalah Guo Xingyu (29) dan Sha Gingyang (30). Peristiwa tenggelam terjadi pada Rabu (15/7/2026) di perairan Pulau Kelor.

Pihak rumah sakit menahan jenazah di kamar mayat RSUD Komodo, Labuan Bajo, sambil proses koordinasi berjalan. Keluarga korban di luar negeri menjadi pihak yang nantinya menyusul ke Indonesia untuk penanganan lanjutan.

Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo mengambil langkah administratif dengan menghubungi otoritas terkait. Charles Mathaus menjelaskan, instansinya telah bersurat resmi ke Direktorat Jenderal Imigrasi melalui Kanwil Ditjen Imigrasi NTT.

“Tujuannya agar dapat disampaikan ke kantor perwakilan RRT baik Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal RRT untuk diketahui dan penanganan lebih lanjut,” terang Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo, Charles Mathaus, Kamis (16/7/2026).

Charles menambahkan, pihaknya juga telah menerima respons dari keluarga korban. “Kita tahu dari Konjen Bali bahwa keluarganya sudah terinfo dan akan ke Indonesia,” ucap dia.

Ia menegaskan bahwa keluarga korban akan datang ke Indonesia dalam waktu dekat. Dengan demikian, proses lanjutan terkait jenazah tetap mengacu pada informasi yang sudah diterima dari pihak perwakilan RRT di Bali.

Tata ulang Pulau Kelor

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat juga melakukan konsolidasi terkait peristiwa tersebut. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Barat, Petrus A Rasyid, mengatakan berbagai pihak tengah memeriksa legalitas pelaku usaha yang berkaitan dengan rangkaian kejadian.

“Berdasarkan informasi sementara yang sudah masuk ke saya, usaha kemarin yang terlibat dalam proses transportasi ataupun mobilisasi ataupun kegiatan berwisata di sana itu sudah mematuhi izin,” kata Petrus.

Selain memeriksa kepatuhan perizinan, pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi lain. Petrus menyebut adanya rencana penataan ulang kawasan wisata Pulau Kelor, dengan fokus pada infrastruktur serta sarana-prasarana yang dinilai masih minim di lokasi tersebut.

“Sebenarnya jauh sebelum kejadian ini, pemerintah kabupaten juga sudah merespons berbagai masukan dari masyarakat terkait dengan penataan ulang destinasi Pulau Kelor,” beber Petrus.

Dengan rangkaian langkah koordinasi tersebut, proses penanganan jenazah dan evaluasi kawasan wisata di Pulau Kelor berjalan secara paralel. Jenazah dua wisatawan China tetap tertahan di Labuan Bajo sambil menunggu keluarga korban menyusul ke Indonesia.

Koordinasi penanganan kasus ini melibatkan komunikasi lintas instansi sejak awal kejadian. Selain langkah administratif yang dilakukan pihak imigrasi, rumah sakit juga terus mengatur kebutuhan terkait jenazah sambil menunggu kehadiran pihak keluarga untuk kelanjutan proses pemulangan.

Dalam penjelasannya, Charles Mathaus menyampaikan bahwa pihaknya sudah menempuh prosedur dengan menyampaikan informasi resmi melalui jalur yang ditentukan kepada otoritas keimigrasian. Nantinya, pemberitahuan tersebut ditujukan agar perwakilan RRT di Bali dapat mengambil peran lebih jauh sesuai kebutuhan penanganan.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menempatkan penanganan kawasan Pulau Kelor sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh. Pemeriksaan diarahkan pada aspek kepatuhan izin dan keterkaitan pihak usaha yang disebut terlibat pada tahapan transportasi maupun aktivitas mobilisasi dan kegiatan berwisata pada rangkaian waktu kejadian.

Rencana penataan ulang tersebut, menurut Petrus, bukan semata respons sesudah peristiwa terjadi, melainkan juga telah muncul dari masukan masyarakat sebelumnya. Dengan konsolidasi yang berjalan bersamaan, proses lanjutan jenazah tetap menunggu keluarga korban, sementara agenda perbaikan infrastruktur dan sarana-prasarana di Pulau Kelor dikaji untuk disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.