jurnalistik.co.id – Peristiwa kebakaran kandang kambing terjadi di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada Kamis (16/7/2026) dini hari. Api menghanguskan seluruh area kandang dan menewaskan sejumlah ternak milik warga setempat.
Kaleb Untung Satrio Wicaksono, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kediri, menyampaikan bahwa pihaknya menerima laporan kejadian sekitar pukul 05.50 WIB. Ia menjelaskan respons awal dilakukan dengan pengerahan armada pemadam.
“Lalu kita kerahkan satu unit armada dari pos Grogol dengan kapasitas 5.000 liter. Jumlah anggota 5 orang,” ujar Kaleb Untung Satrio Wicaksono, Kamis. Petugas kemudian memulai proses pemadaman di lokasi kejadian.
Menurut Kaleb, waktu penanganan pemadaman berlangsung sekitar 1,5 jam. Hal itu dipengaruhi oleh banyaknya material kayu yang menjadi bahan kandang, sehingga mudah terbakar dan mempercepat penjalaran api.
Pihak Satpol PP memastikan tidak ada korban luka maupun jiwa dalam peristiwa ini. Namun, dari kejadian tersebut, sebanyak 50 ekor kambing dilaporkan mati akibat kebakaran.
Kaleb juga menyebutkan dampak kerugian yang harus ditanggung pemilik peternakan. “Kerugian 50 ekor kambing mati. Total estimasi kerugian sekitar Rp 170 juta,” lanjut Kaleb.
Kerugian tersebut dialami Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Bulusari selaku pemilik kandang. Perkiraan nilai kerugian yang disampaikan menjadi gambaran besarnya kerusakan yang ditimbulkan oleh api pada kandang ternak.
Hingga saat ini, penyebab kebakaran diduga berkaitan dengan aktivitas pembakaran sampah di sekitar kandang. Kaleb menjelaskan bahwa pembakaran tersebut berfungsi sebagai sistem penghangat ruangan secara tradisional, sebelum akhirnya merembet dan memicu kebakaran pada kandang.
Berita Terkait
- Jenazah 2 Turis China Korban Tenggelam di Pulau Kelor Masih di Labuan Bajo, Keluarga Menyusul
- Santri Terbakar di NTB, Lalu M. Iqbal Minta Pengawasan Ponpes dan Sekolah Asrama Diperketat
- “Saya Benar-benar Dianggap Manusia” — Cerita Anggi Wahyuda, Pendaki Disabilitas di Gunung Binaia hingga Everest Basecamp
“Berdasarkan keterangan yang kami terima, penyebab kebakaran dikarenakan dari aktivitas pembakaran sampah di sekitar kandang. Namun pembakaran yang berfungsi sebagai sistem penghangat ruangan secara tradisional itu merembet ke kandang hingga terjadi kebakaran,” kata Kaleb. Dengan demikian, api yang semula dimaksudkan untuk penghangatan beralih menjadi pemicu kerusakan yang lebih luas.
Peristiwa ini menegaskan risiko yang muncul ketika pembakaran dilakukan di dekat bangunan atau area yang memiliki bahan mudah terbakar. Penanganan pemadaman yang memerlukan waktu cukup lama juga menunjukkan bahwa konstruksi kandang yang berbahan kayu ikut memperbesar kerentanan saat api sudah menyebar.
Meski upaya pemadaman telah dilakukan oleh petugas dengan armada dan personel yang dikerahkan, hasil akhirnya tetap menunjukkan kerusakan besar pada kandang ternak. Sebanyak 50 kambing yang berada di lokasi dilaporkan hangus terbakar, sementara pemilik peternakan menanggung estimasi kerugian sekitar Rp 170 juta.
Selanjutnya, informasi mengenai penyebab kebakaran tetap mengacu pada dugaan awal dari aktivitas pembakaran sampah di sekitar kandang. Pemeriksaan dan penelusuran penyebab kejadian menjadi penting untuk memastikan apakah ada faktor lain di luar praktik penghangatan tradisional yang berperan dalam peristiwa tersebut.
Petugas Satpol PP juga mencatat bahwa proses pemadaman sempat mengalami kendala karena karakter kandang berbahan kayu. Kondisi itu membuat api lebih cepat merambat dari satu bagian ke bagian lain, sehingga penanganan tidak bisa berlangsung singkat.
Dalam penanganan awal, selain pengerahan armada, langkah di lapangan difokuskan untuk menekan penyebaran api agar tidak meluas ke area lain di sekitar lokasi kejadian. Respons yang dilakukan sejak menerima laporan menjadi dasar utama dalam upaya pemadaman saat kebakaran berlangsung.
Kaleb Untung Satrio Wicaksono menyatakan bahwa hasil pemadaman tetap memperlihatkan kerusakan yang signifikan pada kandang. Karena kerugian ditanggung pemilik kandang, termasuk pihak BUMDES Bulusari, evaluasi terhadap kondisi bangunan dan pola aktivitas di sekitar kandang juga dianggap penting agar kejadian serupa tidak terulang.
Terkait dengan dugaan penyebab, pembakaran sampah yang berfungsi sebagai penghangat ruangan secara tradisional disebut berpotensi menjadi pemicu ketika merembet ke kandang. Karena itu, penelusuran lanjutan diperlukan untuk memperjelas apakah praktik pembakaran di area sekitar kandang benar-benar menjadi faktor utama kebakaran.







