jurnalistik.co.id – Dua penembakan mematikan yang melibatkan petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Texas dan Maine membuat ICE diminta menghentikan sebagian besar pemeriksaan kendaraan di seluruh Amerika Serikat secara segera. Kebijakan baru ini diumumkan media AS dengan menyebut adanya rujukan dari sumber penegak hukum yang tidak disebutkan namanya.
Menurut laporan tersebut, penghentian akan berlaku untuk kebanyakan situasi, namun ada pengecualian bagi kasus yang melibatkan target kriminal serius. Pergeseran kebijakan ini digambarkan sebagai perubahan besar bagi ICE setelah kritik yang muncul sepanjang setahun terakhir, termasuk tuduhan penggunaan kekuatan berlebihan serta pengawasan terhadap sejumlah kematian selama operasi agensi berlangsung.
BBC menyatakan telah menghubungi Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) untuk meminta tanggapan terkait kebijakan tersebut, tetapi perwakilan DHS menolak untuk berkomentar secara spesifik. Ia hanya menyampaikan, “We are always evaluating our procedures to keep our officers safe and criminals off our streets.” dan menambahkan, “We will not disclose or discuss law enforcement tactics.”
Insiden di Maine
Dalam peristiwa paling baru, seorang petugas ICE menembak sampai tewas seorang pria berusia 26 tahun asal Kolombia saat operasi penegakan imigrasi di negara bagian Maine. DHS menyebut petugas melakukan penembakan karena “fearing for public safety”, setelah pria tersebut mencoba melarikan diri dari lokasi operasi dan ketika agen berupaya menghentikan kendaraannya.
DHS tidak merinci ancaman seperti apa yang dinilai muncul dari pria tersebut. Penembakan terjadi di Biddeford, Maine, sekitar 24 km (15 miles) di selatan Portland.
Kelompok advokasi imigran mengatakan pria itu belum mendapat nama resmi, namun telah diidentifikasi oleh sejumlah anggota legislatif setempat dan tetangga sebagai Joan Sebastian Guerrero. Mereka menyatakan Guerrero memiliki otorisasi untuk bekerja di AS serta memiliki nomor jaminan sosial.
Maine Immigrants’ Rights Coalition dan Presente! Maine dalam pernyataan bersama menggambarkan kematian tersebut sebagai “devastating, enraging, and unacceptable”.
Insiden di Texas, satu pekan sebelumnya
Berita Terkait
Kurang dari sepekan sebelum kejadian di Maine, ICE juga terlibat dalam penembakan mematikan di Houston, Texas. Korban adalah seorang pria berkewarganegaraan Meksiko yang telah tinggal di AS selama puluhan tahun.
Pejabat DHS menyebut nama korban Lorenzo Salgado Araujo, usia 52 tahun. Ia dihentikan sekitar pukul 07:00 waktu setempat (12:00 GMT) saat sedang mengemudi menuju tempat kerja, sebelum akhirnya meninggal tidak lama setelah insiden tersebut.
DHS menyatakan penghentian kendaraan dimulai karena petugas melihat “a white van with an individual who resembled the target” dari operasi yang sedang berlangsung. Dalam keterangannya, DHS menegaskan petugas menembak sebagai bentuk pembelaan diri, serta menyebut bahwa Araujo bukanlah orang yang menjadi target yang dicari ICE.
Namun, penumpang di dalam van serta keluarga korban membantah versi DHS tersebut. Mereka menilai cerita yang disampaikan pihak departemen tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya, sementara pengawas hukum (legal watchdog) menyatakan telah membuka penyelidikan atas penembakan mematikan itu.
Gelombang protes dan konteks kebijakan
Baik penembakan di Maine maupun Texas disikapi dengan protes. Peristiwa ini juga disebut datang dalam lanjutan dari demonstrasi yang terjadi di berbagai wilayah AS pada awal tahun, menyusul kematian Renée Good dan Alex Pretti.
Renée Good dan Alex Pretti sama-sama berusia 37 tahun dan merupakan warga negara AS. Mereka ditembak dan tewas oleh petugas ICE pada bulan Januari saat dilakukan penggerebekan di Minneapolis.
Setelah rangkaian itu, Presiden Donald Trump melakukan pergantian di lingkungan pemerintahan terkait urusan keamanan dalam negeri. Ia menggantikan Kristi Noem dengan Markwayne Mullin, seorang senator dari Oklahoma. Tidak lama setelah itu, mantan kepala Border Patrol Gregory Bovino juga disebut diganti.
Trump kemudian meluncurkan kampanye deportasi massal tak lama setelah kembali ke Gedung Putih. Langkah ini disebut memenuhi janji kampanye besar yang telah disampaikan sebelumnya.
Reuters melaporkan bahwa setidaknya tujuh orang telah tewas dalam operasi penegakan imigrasi sejak Januari 2025. Dalam konteks tersebut, permintaan agar ICE menghentikan sebagian besar pemeriksaan kendaraan menjadi sorotan baru, terutama karena perubahan ini muncul di tengah kritik publik terhadap prosedur dan penggunaan kekuatan oleh aparat.












