Internasional

Pemakaman Khamenei dan Rezime Baru Iran: Perubahan yang Membentuk Babak Lanjut

×

Pemakaman Khamenei dan Rezime Baru Iran: Perubahan yang Membentuk Babak Lanjut

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How Iran's new regime is very different to what came before

jurnalistik.co.id – Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei menjadi penanda yang mencolok bagi arah baru Iran setelah rangkaian serangan udara gabungan AS–Israel yang memicu perang dan sekaligus memangkas figur kunci rezim di Teheran.

Di tengah proses pemakaman yang berlangsung sebagai prosesi berskala besar, ketegangan regional belum menunjukkan tanda pelunakan yang berarti—termasuk di sekitar Selat Hormuz, yang tetap menjadi simpul vital bagi jalur pengiriman dunia.

Dalam cara pandang yang lebih luas, perubahan yang sedang terjadi di Iran terasa paralel dengan cara dunia kadang menilai perjanjian damai: bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena konteksnya. Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kesepakatan gencatan senjata dengan Iran di Versailles bulan lalu, banyak pihak melihat adanya ironi.

Makna venue itu, menurut pengamatan, memancing perbandingan dengan perjanjian Versailles 1919 yang membentuk ulang peta Eropa, namun juga menimbulkan tuntutan reparasi besar yang kemudian ikut menyuburkan kemarahan dan kepahitan di Jerman.

Kurang lebih tiga minggu setelah gencatan senjata mulai berlaku, situasi memang “rapuh” dan masih bertahan—tetapi skirmish di sekitar Selat Hormuz berlangsung, sementara persoalan yang sebelumnya menyeret perang belum benar-benar terselesaikan.

Iran kini berada dalam fase perubahan yang mendalam. Negara sedang “mengucapkan selamat tinggal” kepada pemimpin tertingginya yang lama, Ayatollah Ali Khamenei, yang terbunuh lebih dari empat bulan lalu dalam serangan udara bersama AS–Israel yang memulai perang dan “memenggal” banyak struktur rezim.

Momen ini memberi sinyal pergantian generasi—bukan sekadar penggantian wajah, melainkan juga peluang munculnya pendekatan baru dengan konsekuensi yang ikut menyertai.

Papan catur yang ditata ulang

Vali Nasr, profesor urusan hubungan internasional dan studi Timur Tengah di Johns Hopkins’ School of Advanced International Studies, menggambarkan perang ini sebagai peristiwa yang jauh lebih besar dari yang selama ini diperkirakan. Ia mengatakan, “This war is much more consequential and larger than we have given it credit for thus far,” dan menambahkan, “All major wars of this magnitude ultimately reorder the chess board,” serta menyimpulkan, “This will do it for the Middle East.”

Pada awalnya, pergolakan internal turut menambah kerentanan persepsi. Pada Januari, Iran dilanda protes populer, sementara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sama-sama memprediksi protes itu bisa menjadi pertanda runtuhnya Republik Islam.

Ekonomi Iran juga sudah rapuh akibat puluhan tahun sanksi internasional, dan negara masih menyandang luka dari perang 12 hari melawan AS dan Israel enam bulan sebelumnya.

Program nuklir Iran memang tidak “dihapus” seperti klaim Trump, tetapi mengalami kerusakan yang signifikan. Jejak persediaan uranium—yang diperkirakan cukup untuk “10 or 11 atomic weapons jika diperkaya lebih lanjut”—tidak pasti, dan sebagian besar diyakini berada di reruntuhan dekat kompleks nuklir Isfahan.

Di tempat lain, jejaring “Axis of Resistance”—aliansi longgar yang berisi para proksi dan sekutu di kawasan—mengalami serangkaian kemunduran besar. Di Suriah, rezim sekutu dekat Iran Bashar al-Assad hilang setelah beberapa minggu pada akhir 2024.

Di Lebanon, Israel membunuh tokoh-tokoh penting dari kelompok Hezbollah yang didukung Iran dan meluluhlantakkan banyak petempurnya melalui ledakan pada perangkat seperti pager dan walkie-talkie.

Di Jalur Gaza, sekutu lain Iran, Hamas, juga menerima nasib serupa. Serangan Israel terhadap Hamas—sebagai respons atas serangan 7 Oktober 2023—berlangsung tanpa henti dan menewaskan puluhan ribu warga sipil serta meratakan sebagian besar wilayah.

Sementara itu, di Yaman, pemberontak Houthi yang didukung Iran meluncurkan rudal balistik ke Israel dan mulai menyerang pengiriman di Laut Merah setelah perang Gaza. Sebagai balasan, Israel, AS, dan Inggris melancarkan serangan balik yang menargetkan, di antaranya, kepemimpinan kelompok tersebut.

Dari rangkaian pukulan di dalam dan luar negeri, konsensus yang terbentuk adalah bahwa Iran berada pada posisi yang sangat rentan. The New York Times melaporkan bahwa Trump menerima beberapa laporan intelijen yang menyebut Iran lebih lemah dibanding titik mana pun sejak Revolusi Islam 1979, sehingga gagasan bahwa Iran bisa melawan AS dan Israel sampai mentok dianggap tidak masuk akal.

Namun, realitasnya berbeda: Republik Islam tetap bertahan. Salah satu faktor yang disebut adalah kemampuan Iran menutup salah satu jalur air paling penting di dunia, Selat Hormuz, sehingga ekonomi global ikut “dicekik.”

Keuntungan: Teheran menguasai tempo

Trump kerap mengatakan bahwa ia telah mencapai “regime change” di Iran. Vali Nasr tidak menolak gagasan itu, tetapi menyatakan bahwa proses tersebut ternyata justru bekerja untuk keuntungan Teheran. Ia mengatakan, “A whole new generation has taken over,” lalu menegaskan, “They have a very clear agenda. They managed the war and now they’re going to manage the peace as well.”

Nasr menambahkan bahwa kepemimpinan baru tidak terdiri dari figur yang biasanya disebut Washington sebagai “woolly-brained apocalyptic ideologues.” Menurutnya, mereka lebih fokus pada kelangsungan negara dan bersedia bertindak lebih tegas ketimbang pendahulunya.

Pada usia 56 tahun, pemimpin tertinggi baru Mojtaba Khamenei lebih muda 30 tahun dibanding ayahnya, Ali Khamenei, yang diyakini berada dalam kondisi fisik rapuh saat ia terbunuh pada awal perang. Presiden Masoud Pezeshkian berusia 71 tahun, tetapi generasi yang mengusung revolusi 1979 telah tiada.

Ia juga menyebut dua figur kunci: Ketua parlemen sekaligus perunding utama Mohammad Bagher Ghalibaf dan komandan-in-chief Garda Revolusioner Ahmad Vahidi, keduanya berada di usia 60-an dan memiliki kedekatan dengan Korps Garda Revolusioner Iran (IRGC).

Sanam Vakil dari Chatham House mengaitkan perubahan ini dengan regenerasi yang lahir dari revolusi. Ia berkata, “They’re children of the revolution,” lalu menambahkan, “An 86-year old is no longer guiding the ship of the Islamic Republic. The big handbrake on evolution of the system was Ali Khamenei.”

Selama puluhan tahun, Khamenei yang lebih berhati-hati menempuh strategi yang kadang dijuluki “no war, no peace.” Para penggantinya, sebaliknya, tampil lebih berani: melancarkan serangan ke pangkalan militer AS di kawasan, lalu dalam hitungan minggu bersedia duduk untuk bernegosiasi mengakhiri perang dengan syarat yang pada pandangan awal tidak tampak merendahkan Teheran.

Nasr menggarisbawahi perbedaan itu dengan menyatakan, “They’ve shown that they’re willing to engage in war in a much more aggressive way than the previous generation.”

Ia juga mencontohkan respon Iran setelah Trump memerintahkan serangan yang menewaskan Qasem Soleimani pada 2020. Iran, menurut narasi ini, memberi sinyal niat balas dendam sebelum meluncurkan 12 rudal balistik ke pangkalan AS di Irak, dan tidak ada personel layanan AS yang tewas.

Tahun ini, saat menghadapi serangan habis-habisan dari AS dan Israel, Iran tidak menunjukkan sikap serupa. Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke beberapa pangkalan militer AS di berbagai wilayah, termasuk markas “Fifth Fleet” di Bahrain serta pangkalan al-Udeid di Qatar.

Dalam perang itu, enam prajurit AS tewas di Kuwait, dan ratusan lainnya mengalami cedera selama pertempuran berlangsung.

Kemauan Iran menyerang sekutu Teluk AS, menarget pengiriman, dan menutup Selat Hormuz—yang disebut sebagai jalur pengiriman penting—juga tampak mengejutkan Gedung Putih.

Selama ini, Washington berupaya membendung Iran melalui jaringan fasilitas militer dan hubungan yang berkembang dengan negara-negara Teluk. Respons dramatis Iran terhadap serangan Israel dan AS memberi kesan bahwa strategi tersebut tidak lagi berjalan sebagaimana diharapkan.

Ali Vaez, direktur proyek Iran di International Crisis Group, mengatakan, “A lot of these countries were hoping that US military bases on their territory would provide them with security, not make them a target,” lalu menambahkan, “The Gulf states are now questioning the credibility of the US security umbrella and their own deterrence strategy.”

Laporan menunjukkan banyak negara Teluk sedang “mencari jalan” untuk memperbaiki relasi dengan tetangga yang berbahaya itu. Mengutip diplomat anonim, Agence France-Presse bahkan melaporkan bahwa Arab Saudi—yang memulihkan hubungan dengan Teheran pada 2023 setelah puluhan tahun permusuhan—sedang menyiapkan “reconciliation summit” yang mempertemukan Iran dan negara-negara tetangga Teluk di kawasan.

Namun, Vaez meragukan apakah ada yang benar-benar siap memutus tautan dengan kehadiran militer AS. Ia berkata, “They are too reliant on the US to completely cut off security arrangements,” dan menambahkan, “They can try to hedge their bets, but at the end of the day, they don’t have anywhere better to go.”

Sebagai alternatif kerangka historis, Vaez menyebut momen saat ini sebagai “plastic moment”—sebuah kondisi yang membuka kemungkinan. Ia mengungkapkan, “I sense a degree of realism that didn’t exist in the past.” Akan tetapi, pertanyaan paling menonjol kemudian beralih ke masyarakat Iran sendiri: bagaimana nasib mereka?

Janji yang tidak terwujud dan pilihan pragmatis

Pada Januari, Trump menjanjikan warga Iran bahwa “help is on its way.” Saat memulai perang pada 28 Februari, ia juga menyampaikan dorongan yang lebih tegas: “When we are finished, take over your government,” dan menegaskan, “It will be yours to take.”

Namun, janji tersebut hingga kini terbukti ilusi. Generasi baru mungkin berkuasa di Teheran, tetapi belum menawarkan rakyat prospek masa depan yang lebih bebas dan lebih sejahtera.

Aniseh Bassiri Tabrizi dari Chatham House yang berbasis di Abu Dhabi tidak mengharapkan munculnya pendekatan baru terhadap perbedaan pendapat, mengingat rezim sangat berfokus pada kelangsungan dirinya. Ia mengatakan, “They will keep a very, very strong focus on the street,”

Meski begitu, perang juga menghadirkan sinyal perubahan yang tidak sepenuhnya hitam-putih. Disebutkan bahwa penegakan hijab tidak lagi diberlakukan di luar institusi negara, bahkan sebelum perang, dan alkohol perlahan tersedia di restoran-restoran di Teheran. Dalam penilaian Vali Nasr, perubahan ini didorong kebutuhan: “They made a pragmatic decision that their raison d’état [literally “reason of state”] requires them to relax these things,” katanya.

Setelah guncangan akibat “mass bloodletting” pada Januari, rezim menunjukkan bahwa ia setidaknya mampu mempertahankan kedaulatan negara. Namun, bagi orang-orang Iran, perang disebut tetap menjadi sesuatu yang membingungkan.

Dalam situasi ketika gencatan senjata masih rapuh dan Selat Hormuz tetap rawan, pemakaman Khamenei berfungsi lebih dari sekadar ritus kenegaraan: ia menjadi latar yang mempertegas babak baru—dengan agenda yang berubah, tetapi ketidakpastian yang belum benar-benar menghilang.