Olahraga

Kebangkitan Spanyol: dari “Si Burung Nasar” sampai Talenta Muda Akademi

×

Kebangkitan Spanyol: dari “Si Burung Nasar” sampai Talenta Muda Akademi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kebangkitan Spanyol, dari Burung Nasar hingga Talenta Muda Akademi

jurnalistik.co.id – Dalam sepak bola Spanyol, kebangkitan bukan muncul tiba-tiba. Pola itu dibentuk oleh rentetan momen sejak Piala Dunia, lalu dipadatkan melalui ekosistem klub-klub yang melahirkan pemain dari akademi.

Jejak awal yang sering dijadikan penanda datang dari Piala Dunia 1986. Di turnamen tersebut, Emilio Butragueno menyelinap dalam barisan bintang seperti Diego Armando Maradona, Michel Platini, Gary Lineker, Enzo Scifo, Enzo Francescoli, Michael Laudrup, hingga Zico—dan namanya langsung melejit lewat julukan “Si Burung Nasar”.

Perjalanan itu dimulai di fase sistem gugur. Butragueno, pria Madrid kelahiran 22 Juli 1963, membungkam Denmark di babak 16 besar dengan empat gol. Hasil 5-1 membuat “tim dinamit” berakhir lebih cepat daripada yang mereka bayangkan.

Di babak grup, Laudrup dan kawan-kawan yang sempat mengilap harus angkat kaki. Spanyol kemudian tersandung di perempat final, saat kalah dari Belgia dengan kemenangan lewat adu penalti 5-4. Meski demikian, satu hal sudah tercetak: “Si Burung Nasar” berhenti terbang, tetapi rekor dan sorot nama Spanyol tetap mengunci ingatan publik.

Saya sendiri tidak menyaksikan duel panas Spanyol versus Denmark pada 1986; yang saya pegang hanya catatan rekor dari koran dan siaran buletin TVRI saat itu. Namun, catatan angka tersebut memang menempel kuat pada sejarah turnamen empat tahunan.

Delapan tahun berselang, rekor empat gol itu dipatahkan Oleg Salenko dari Rusia di Piala Dunia 1994. Salenko secara tak terduga mencetak lima gol saat Rusia berhadapan dengan Kamerun, merombak ukuran “keajaiban” yang sebelumnya dilakukan Butragueno.

Selain fase 1986 dan 1994, jejak lain memperlihatkan bahwa Spanyol pernah berada di posisi penting lebih awal. Tim ini sempat menjadi semifinalis Piala Dunia 1950. Empat belas tahun setelahnya, Spanyol kembali menambah catatan ketika merebut trofi Piala Eropa 1964.

Setelah itu, arah kompetisi berputar lagi pada era tuan rumah. Spanyol memulai babak baru ketika dipercaya menjadi penyelenggara Piala Dunia 1982. Sukses sebagai tuan rumah tidak lantas berbuah manis di lapangan; tim hanya lolos hingga babak kedua.

Di sinilah narasi mulai bergeser: bukan sekadar mengandalkan bintang, melainkan menghidupkan identitas permainan yang lebih tahan lama. Justru saat kampanye nama Spanyol kembali digaungkan lewat gelaran Piala Dunia di Meksiko 1986, banyak yang melihat Spanyol sebagai “kekuatan kedua”, bukan poros sepak bola dunia.

Namun perubahan spektrum itu kemudian mencuat seiring keriuhan dunia menerima Barcelona sebagai bagian dari klub elite Eropa dan dunia. Kebangkitan Spanyol di tanah Eropa, menurut alur yang tampak jelas, bermula dari kiprah Barcelona.

Bersama Real Madrid, dua klub itu menjadi penyumbang terbesar kebangkitan sepak bola Spanyol pada tahun 2008. Real Madrid sudah lama menjadi “raja Eropa” sejak 1950-an, sementara Barcelona mulai menunjukkan taringnya sebagai kampiun benua biru pada 1992—saat ditukangi Johan Cruyff.

Sesudah masa itu, Frank Rijkaard dan Josep Guardiola membuat daya saing Barcelona makin tinggi. Rijkaard memberi satu trofi Liga Champions, sementara Guardiola mempersembahkan dua trofi Liga Champions. Dengan akumulasi tersebut, Barcelona menghimpun lima trofi lambang supremasi sepak bola Eropa pada level klub.

Yang membuat konstruksi itu terasa menyeluruh adalah kualitas pemain yang berangkat dari akademi. Dalam permainan Barcelona, nama-nama seperti Xavier Hernandez dan Andres Iniesta—keduanya produk akademi Barcelona—serta Carles Puyol dan pemain-pemain lain menjadi penopang gaya main yang bertumpu pada penguasaan bola, umpan pendek, dan permainan cair.

Permainan itu tidak berhenti pada penguasaan; setiap pemain bergerak memanfaatkan ruang-ruang kosong di pertahanan lawan. Di periode yang sama, tak pelak muncul pula figur yang kemudian mendefinisikan era: Lionel Messi, produk akademi Barcelona (La Masia), yang belakangan menjadi jimat Argentina.

Di level tim nasional, keberlanjutan gaya bermain itu membuat Spanyol mencapai puncak baru. Dua tahun setelah Rijkaard mengantarkan Barcelona juara Eropa pada musim 2005/2006, Spanyol menjadi juara Piala Eropa (Euro) 2008.

Fernando Tores dan kawan-kawan menumbangkan raja turnamen, Jerman, di final. Setelah itu, Guardiola mempersembahkan trofi Liga Champions 2008/2009 untuk Barcelona, menutup rangkaian keberhasilan klub sekaligus menguatkan fondasi skuad nasional.

Departemen Pengembangan Akademi dan Pembentukan Bibit Baru

Setelah fase kejayaan yang lahir dari klub, Spanyol kemudian memperkuat mesin dari akar. La Liga membentuk Departemen Pengembangan Akademi pada 2015, lima tahun setelah status juara dunia, dengan tujuan menumbuhkan bibit muda Spanyol.

Langkah itu menegaskan bahwa kebangkitan tidak cukup hanya dirayakan lewat trofi. Ia perlu dipelihara lewat struktur yang merawat talenta sejak dini, memastikan gaya main yang selama ini berkembang—dari penguasaan bola, umpan pendek, hingga permainan cair—tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.

Jika menghubungkan seluruh jejaknya, mulai dari “Si Burung Nasar” pada 1986, lonceng rekor yang dipecahkan Salenko pada 1994, semifinal Piala Dunia 1950, gelar Piala Eropa 1964, hingga masa tuan rumah Piala Dunia 1982 yang tidak sepenuhnya memuaskan, tampak jelas satu benang merah: Spanyol terus mencari cara agar kualitasnya bisa diwariskan, bukan hanya diproduksi sesaat.

Rangkaian itu akhirnya berujung pada keputusan yang lebih sistematis pada 2015. Di titik itulah bibit muda menjadi fokus—melanjutkan kebangkitan yang dulu tampak dari lapangan Eropa, kini ditanam kembali lewat akademi.