Olahraga

Kebiasaan Bersih-bersih di Stadion Piala Dunia Jepang Dipuji, tapi Kritik Muncul di Rumah

×

Kebiasaan Bersih-bersih di Stadion Piala Dunia Jepang Dipuji, tapi Kritik Muncul di Rumah

Sebarkan artikel ini
Di Balik Kebiasaan Bersih-bersih di Stadion, Tak Semua Pria Jepang Melakukan Hal yang Sama di Rumah Lifestyle 21 Juni 2026
Ilustrasi: Di Balik Kebiasaan Bersih-bersih di Stadion, Tak Semua Pria Jepang Melakukan Hal yang Sama di Rumah

jurnalistik.co.id – Aksi suporter Jepang yang memungut sampah setelah pertandingan di stadion Piala Dunia 2026 kembali menuai pujian dari luar negeri. Di saat yang sama, di Jepang muncul kritik karena kebiasaan serupa di ruang publik dinilai tidak selalu tercermin pada pembagian pekerjaan rumah tangga di rumah.

Perdebatan itu mencuat setelah foto-foto suporter Jepang membersihkan tribun usai pertandingan penyisihan grup melawan Belanda pada 14/6/2026 menjadi viral di media sosial. Apresiasi dari berbagai pihak di luar negeri mengarah pada disiplin dan tanggung jawab terhadap ruang publik yang terlihat saat pertandingan selesai.

Namun, sebagian warganet di Jepang membaca situasi itu dengan sudut pandang berbeda. Mereka mempertanyakan apakah semangat merapikan lingkungan yang ditunjukkan di stadion juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, khususnya terkait pekerjaan rumah tangga yang masih kerap dianggap timpang antara laki-laki dan perempuan.

Poster parodi memantik diskusi

Melansir BBC (19/6/2026), sebuah poster parodi yang beredar di platform X menjadi pemicu diskusi yang lebih luas. Poster tersebut menampilkan dua gambaran kontras tentang orang yang digambarkan sebagai pria yang sama.

Di satu sisi, pria itu terlihat mengenakan atribut tim nasional Jepang dan memungut sampah di stadion. Di sisi lain, pria yang sama digambarkan bersantai di sofa sambil memainkan ponsel, sementara istrinya mencuci piring di dapur.

Tulisan pada poster itu berbunyi, “Tolong lakukan juga di rumah.” Unggahan tersebut mendapatkan puluhan ribu tanda suka dan dibagikan secara luas. Banyak pengguna media sosial menilai bahwa kebiasaan menjaga kebersihan di ruang publik seharusnya juga terlihat dalam urusan domestik di rumah.

BBC juga mengutip komentar yang mencerminkan nada kritik yang muncul di ruang digital: “Semua orang ingin menyelamatkan dunia, tetapi tidak ada yang ingin membantu ibu mencuci piring.” Kalimat itu menekankan kesenjangan antara simbol tanggung jawab di luar rumah dan keterlibatan yang dianggap kurang di dalam rumah.

Kesenjangan jam kerja rumah tangga

Perdebatan yang berkembang dinilai memiliki landasan data. The Straits Times (18/6/2026) menyebutkan, data tahun 2021 dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan pria Jepang termasuk yang paling sedikit menghabiskan waktu untuk pekerjaan rumah tangga di antara negara-negara maju.

Menurut data tersebut, rata-rata perempuan Jepang menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk pekerjaan domestik yang tidak dibayar. Sebaliknya, laki-laki hanya sekitar 47 hingga 51 menit per hari untuk urusan serupa.

Kesenjangan itu disebut makin terlihat pada keluarga dengan anak kecil. Survei pemerintah Jepang tahun 2021 menemukan bahwa perempuan dalam rumah tangga dengan dua orang tua yang bekerja menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari untuk mengurus rumah dan anak, sedangkan laki-laki kurang dari dua jam.

Dengan gambaran waktu yang demikian, sebagian warganet melihat aksi bersih-bersih di stadion sebagai ironi. Apresiasi yang diberikan untuk tindakan di ruang publik dinilai tidak cukup menutup fakta bahwa tanggung jawab domestik yang setara masih banyak ditanggung perempuan di lingkungan rumah.

Dalam diskusi tersebut, kritik tidak semata-mata diarahkan pada kebiasaan membersihkan tribun. Yang dipersoalkan adalah ketidakseimbangan pembagian peran yang, menurut penilaian sebagian orang, terus berulang di kehidupan keluarga. Ketika satu bentuk kepedulian lingkungan tampil jelas di stadion, pertanyaan yang muncul adalah apakah sikap serupa juga dibangun melalui keterlibatan yang setara dalam pekerjaan rumah.

Pada akhirnya, viralnya aksi suporter Jepang membuka dua lapisan pembacaan yang berjalan bersamaan: di luar negeri tindakan itu dianggap sebagai teladan disiplin dan tanggung jawab, sedangkan di Jepang sebagian warga menilai ada pekerjaan yang belum seimbang untuk dibenahi, khususnya dalam relasi domestik antara laki-laki dan perempuan.