Daerah

Gusnar Ismail Tinjau Inseminasi Buatan, Pemprov Targetkan 3.000 Ekor Sapi di 2026

×

Gusnar Ismail Tinjau Inseminasi Buatan, Pemprov Targetkan 3.000 Ekor Sapi di 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pemprov Gorontalo Genjot Inseminasi Buatan Tingkatkan Populasi Sapi

jurnalistik.co.id – Pemerintah Provinsi Gorontalo terus menggenjot program inseminasi buatan sebagai upaya meningkatkan populasi sapi di daerah.

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail meninjau langsung pelaksanaan inseminasi buatan di Desa Harapan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, pada Rabu (5/8/2026).

Dari kunjungan tersebut, Gusnar menyampaikan bahwa target pelaksanaan inseminasi buatan pada tahun 2026 ditetapkan sekitar tiga ribu ekor sapi.

“Pemprov Gorontalo akan melakukan inseminasi buatan. Untuk tahun 2026 ada kurang lebih tiga ribu ekor. 1.100 ekor ada di Kabupaten Boalemo dan dari jumlah itu 800 ekor sudah terlapor bunting,” ungkap Gusnar.

Gusnar menjelaskan inseminasi buatan pada sapi merupakan proses memasukkan sperma atau semen dari sapi jantan unggul ke dalam saluran reproduksi sapi betina menggunakan alat khusus yang disebut insemination gun, tanpa perkawinan alami.

Menurutnya, program ini tidak hanya ditujukan untuk memperbanyak populasi, tetapi juga untuk meningkatkan mutu genetik, menekan biaya pemeliharaan, serta membantu pencegahan penularan penyakit kelamin.

Target 2026 dan fokus peningkatan produktivitas

Dalam peninjauan itu, Gusnar menekankan bahwa inseminasi buatan dipandang sebagai cara yang efektif untuk perbanyakan populasi sapi dengan proses yang lebih terarah.

Ia menilai metode ini sekaligus lebih murah dan cepat untuk menghasilkan anak sapi, sehingga dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan masyarakat.

Lebih jauh, data yang disampaikan terkait Boalemo menunjukkan adanya 1.100 ekor sapi dalam target pelaksanaan, dengan 800 ekor sudah terlapor bunting pada periode pelaporan yang disebutkan dalam kesempatan tersebut.

Pengalaman peternak: limosin lebih cepat berkembang

Di lokasi yang sama, Drion Hanton, peternak asal Desa Harapan, berbagi pengalaman terkait keunggulan inseminasi buatan, khususnya pada jenis sapi limosin.

Drion menyebut pertumbuhan sapi limosin yang dihasilkan melalui inseminasi buatan lebih cepat dibandingkan sapi bali. Ia juga mengungkap bahwa harga jual sapi limosin dinilai lebih tinggi sehingga memberi keuntungan lebih besar bagi peternak.

“Saya pernah pelihara sapi bali umur tiga tahun hanya laku Rp16 juta. Kalau limosin umur satu tahun harganya sudah Rp20 juta lebih,” ungkap Drion.

Perbandingan yang disampaikan Drion menegaskan manfaat inseminasi buatan dari sisi waktu penggemukan dan nilai jual hasil ternak.

Drion juga menceritakan bahwa ia memiliki dua ekor indukan sapi limosin usia delapan tahun yang telah lima kali melahirkan melalui proses inseminasi buatan.

Ia menyatakan keberhasilan pengembangan ternak limosin dengan metode tersebut berdampak pada kehidupan keluarganya, termasuk untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

Gusnar Ismail, melalui kunjungan ini, terlihat menegaskan komitmennya agar program inseminasi buatan dapat berjalan berkesinambungan dan memberi hasil nyata bagi peningkatan populasi sapi di Gorontalo, sesuai target pada tahun 2026 yang disampaikan.

Dalam sosialisasi dan peninjauan tersebut, Gusnar menempatkan inseminasi buatan sebagai langkah yang mengoptimalkan tahapan reproduksi sapi betina agar program berjalan lebih terukur. Pendekatan ini diharapkan membuat distribusi pelaksanaan lebih terarah, sekaligus mempermudah pemantauan capaian di lapangan dari waktu ke waktu.

Gusnar juga menyoroti bahwa sebagian proses dalam program ini tidak bergantung pada kawin alami, melainkan dilakukan melalui penggunaan alat khusus saat memasukkan semen dari pejantan unggul. Dengan mekanisme itu, diharapkan produktivitas peternakan dapat lebih konsisten, sekaligus menjadi upaya pencegahan penularan penyakit kelamin pada ternak melalui pengelolaan yang lebih terkontrol.

Di sisi lain, pengalaman Drion Hanton memperlihatkan bagaimana inseminasi buatan dapat memberi dampak langsung bagi usaha peternak. Ia mencontohkan perbedaan respons pertumbuhan antara limosin dan bali, termasuk soal nilai jual yang dinilai lebih menguntungkan. Ia juga menyebut keberlanjutan hasil dari indukan limosin yang sudah beberapa kali melahirkan melalui program tersebut, yang pada akhirnya turut membantu kebutuhan keluarga, dari pendidikan anak hingga jenjang yang lebih tinggi.