Daerah

Rabu (5/8/2026) Gusnar Ismail Tinjau Inseminasi Buatan di Desa Harapan Boalemo, Bidik 3.000 Ekor 2026

×

Rabu (5/8/2026) Gusnar Ismail Tinjau Inseminasi Buatan di Desa Harapan Boalemo, Bidik 3.000 Ekor 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pemprov Gorontalo Genjot Inseminasi Buatan Tingkatkan Populasi Sapi

jurnalistik.co.id – Pemerintah Provinsi Gorontalo terus mendorong program inseminasi buatan sebagai upaya meningkatkan populasi sapi. Langkah itu ditegaskan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail saat meninjau pelaksanaan program di Desa Harapan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, pada Rabu (5/8/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Gusnar berbincang dengan peternak setempat, termasuk Drion Hanton, yang turut menceritakan pengalaman keberhasilan inseminasi buatan. Drion menuturkan hasil yang dirasakannya terutama pada jenis sapi limosin.

Secara mekanisme, inseminasi buatan pada sapi dilakukan dengan memasukkan sperma atau semen dari sapi jantan unggul ke dalam saluran reproduksi sapi betina menggunakan alat khusus. Proses ini berlangsung tanpa perkawinan alami.

Gusnar menjelaskan bahwa inseminasi buatan dijalankan untuk sejumlah tujuan. Di antaranya peningkatan mutu genetik, penghematan biaya pemeliharaan, serta pencegahan penularan penyakit kelamin.

Gubernur juga memaparkan capaian dan target pelaksanaan program pada tahun 2026. “Pemprov Gorontalo akan melakukan inseminasi buatan. Untuk tahun 2026 ada kurang lebih tiga ribu ekor. 1.100 ekor ada di Kabupaten Boalemo dan dari jumlah itu 800 ekor sudah terlapor bunting,” ungkap Gusnar.

Menurut penjelasan Gusnar, cara ini dinilai efektif untuk perbanyakan populasi sapi. Inseminasi buatan juga disebut lebih murah dan cepat dalam menghasilkan anak sapi dibandingkan proses pemeliharaan yang bergantung pada perkawinan alami.

Pada kesempatan yang sama, Drion Hanton menyampaikan informasi mengenai keunggulan inseminasi buatan, khususnya untuk sapi limosin. Ia menyebut pertumbuhan sapi limosin yang dihasilkan dari inseminasi buatan berlangsung lebih cepat dibandingkan sapi bali.

Drion menambahkan bahwa selisih kecepatan pertumbuhan tersebut berpengaruh pada nilai jual. “Saya pernah pelihara sapi bali umur tiga tahun hanya laku Rp16 juta. Kalau limosin umur satu tahun harganya sudah Rp20 juta lebih,” ungkap Drion.

Dalam praktiknya, Drion menuturkan memiliki dua ekor indukan sapi limosin usia delapan tahun yang sudah lima kali melahirkan melalui proses inseminasi buatan. Dari pengalaman tersebut, ia menilai program ini membawa dampak nyata bagi keberlangsungan usaha peternakan.

Keberhasilan yang dirasakan Drion tidak berhenti pada aspek produksi. Ia menyampaikan bahwa hasil yang diperolehnya juga digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

Gusnar, melalui kunjungan kerja di Desa Harapan, menekankan komitmen agar program inseminasi buatan terus berjalan. Dengan target tahun 2026 yang ditetapkan kurang lebih tiga ribu ekor, khusus di Kabupaten Boalemo diarahkan 1.100 ekor, dengan 800 ekor yang sudah terlapor bunting.

Uraian peternak dan arahan Gubernur memperlihatkan bahwa inseminasi buatan diposisikan sebagai langkah yang terukur. Program ini diharapkan dapat mendorong peningkatan populasi sapi melalui perbaikan mutu genetik, sekaligus menekan biaya pemeliharaan serta meminimalkan risiko penularan penyakit kelamin.

Kunjungan di Kecamatan Wonosari tersebut menjadi momentum penguatan pelaksanaan program di lapangan. Di tengah penjelasan mekanisme, target, serta testimoni keberhasilan peternak, Gusnar menegaskan bahwa pengembangan inseminasi buatan menjadi bagian dari strategi Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk meningkatkan populasi sapi secara berkelanjutan.

Selain meninjau pelaksanaan di lokasi, Gusnar juga menegaskan program ini dijalankan dengan kerangka target dan pemantauan yang dapat dilihat dari progres kebuntingan. Untuk 2026, rencana inseminasi buatan mencakup kurang lebih tiga ribu ekor, dan pada Kabupaten Boalemo terdapat 1.100 ekor dengan sekitar 800 ekor yang sudah terlapor bunting.

Gambaran mekanisme yang disampaikan dalam kunjungan itu menunjukkan inseminasi buatan dilakukan tanpa perkawinan alami, melalui penyaluran sperma atau semen dari sapi jantan unggul ke saluran reproduksi sapi betina memakai alat khusus. Dari sisi hasil, testimoni peternak memperlihatkan manfaat yang terasa pada sapi limosin, terutama terkait percepatan pertumbuhan sehingga berdampak pada nilai jual sejak usia lebih dini.

Pengalaman Drion Hanton juga memperlihatkan bahwa manfaat inseminasi buatan tidak hanya berhenti pada peningkatan produksi, tetapi turut menopang keberlangsungan usaha peternakan. Ia menyebutkan bahwa keuntungan yang diperoleh kemudian dimanfaatkan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi, sehingga program ini memiliki dampak nyata bagi kehidupan keluarga peternak.