Internasional

Negara-negara NATO mengumumkan dana £37 miliar untuk proyek rudal jarak jauh baru

×

Negara-negara NATO mengumumkan dana £37 miliar untuk proyek rudal jarak jauh baru

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Nato allies announce £37bn for new missile project

jurnalistik.co.id – Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer berada di Ankara untuk menghadiri KTT NATO. Dalam pertemuan itu, pemerintah Inggris bersama sejumlah sekutu lain membahas program rudal jarak jauh baru yang baru diumumkan, menyusul dinamika kebutuhan pertahanan yang makin mendesak di Eropa.

Kabar rencana tersebut datang lewat program yang disebut Deep Precision Strike. Untuk periode sepuluh tahun ke depan, dua belas negara—termasuk Inggris—ditargetkan menyiapkan anggaran lebih dari £37 miliar guna melindungi Eropa lewat kemampuan serangan presisi.

Deep Precision Strike akan menjadi salah satu agenda yang dibicarakan pada hari Rabu di KTT NATO yang berlangsung di ibu kota Turki. Peluncuran program ini dilakukan oleh pemerintahan di Downing Street, sebelum diskusi tingkat pemimpin dilakukan.

Starmer sendiri tengah menghadiri KTT NATO yang dipandang sebagai penutup masa jabatannya sebagai perdana menteri. Ia diperkirakan akan menghadapi kritik, terutama terkait langkah yang berkaitan dengan target belanja pertahanan.

Dalam pemberitaan BBC, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemungkinan menyoroti tidak adanya rencana untuk mencapai 3,5% PDB yang digunakan untuk pertahanan pada tahun 2035. Target itu disepakati oleh hampir semua anggota NATO pada tahun lalu.

Target jangkauan dan ketepatan

Rudal dalam proyek ini diposisikan sebagai salah satu senjata paling maju di jajaran NATO. Program tersebut diarahkan untuk menyerang sasaran pada jarak hampir 200 mil (300 km) dengan akurasi yang ditargetkan sangat tinggi.

BBC menyebut kemampuan proyek ini juga bisa diperluas hingga sekitar 1.250 mil. Perluasan jangkauan itu akan menempatkan program pada posisi yang lebih strategis bagi kebutuhan keamanan jarak jauh.

Dalam pernyataan yang dikutip, Sir Keir Starmer mengatakan inisiatif yang dipimpin Inggris itu akan “help bring European allies together to keep Nato safe for years to come”.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Yvette Cooper menggambarkan rencana tersebut sebagai respons terhadap perubahan situasi global. Ia menuturkan rencana ini “part of a recognition that we’re in a more dangerous world”.

Cooper menambahkan bahwa upayanya ditujukan untuk memperkuat peran Eropa dalam kerangka NATO. “This is about how we make sure we have a stronger Europe within a stronger Nato,” ujarnya dalam wawancara dari Ankara.

Meski ambisi programnya besar, Deep Precision Strike tidak diperkirakan siap sebelum era 2030-an. BBC menekankan bahwa, seperti banyak proyek militer yang masih dalam tahap perencanaan, tenggat kesiapan menjadi faktor penting.

Dalam laporan yang sama, disebutkan pada bulan Juni, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan tinjauan selama enam bulan terkait keberadaan pasukan AS di Eropa. Langkah itu muncul di tengah tekanan agar anggota NATO meningkatkan kontribusi belanja pertahanan di kawasan tersebut.

Pada KTT NATO tahun lalu, anggota aliansi sepakat menargetkan belanja pertahanan dan keamanan sebesar 5% PDB pada tahun 2035. Mengacu pada kerangka itu, Starmer menegaskan tekad pemerintahannya untuk menjaga keselamatan Inggris dan sekutu.

Starmer menyatakan ia “determined” untuk memastikan keselamatan, lalu menambahkan: “We must step up to deliver a stronger, more European Nato.” Pemerintah Inggris juga telah berkomitmen mengalokasikan £300 miliar pada rencana investasi pertahanan hingga tahun 2030.

Rusia jadi fokus pembahasan di KTT

Selain diskusi mengenai rudal, KTT NATO di Ankara juga menyoroti ancaman dari Rusia. Pemerintah Inggris menyebut NATO telah mengerahkan pesawat tempur untuk mencegat pesawat militer Rusia yang mendekati ruang udara sekutu lebih dari 700 kali.

Dalam periode yang sama, aktivitas militer Rusia di sekitar perairan Inggris disebut meningkat hingga 30%. Dengan data tersebut, Starmer diperkirakan menekankan bahwa NATO tidak mencari konfrontasi, tetapi harus siap membela setiap sekutu.

Cooper menggarisbawahi gagasan kemampuan serangan jarak jauh berpresisi dalam konteks pencegahan. Ia menyatakan: “With deep precision strike capability, the UK and our allies will be able to hit high value military targets and the logistical engines that drive armies, deterring any aggressor and strengthening our mutual security”.

Cooper melanjutkan, “At Ankara we are sending a clear message to [Russian] President [Vladimir] Putin; Nato is stronger, more European and ready to defend our citizens against the long-term threat posed by him and the Russian state”.

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memakai pidato pada Selasa untuk meminta para sekutu menyalurkan sistem pertahanan udara yang sangat dibutuhkan. Permintaan itu disampaikan karena Ukraina menghadapi serangan Rusia yang dikatakan terus meningkat.

BBC menulis bahwa Ukraina terus menambah serangan jarak jauh menggunakan drone dan rudal terhadap Rusia. Serangan itu disebut menargetkan kilang minyak serta sasaran militer, hingga memicu kekurangan bahan bakar dan pemadaman listrik yang signifikan.

Dalam pernyataan yang dikutip dari 10 Downing Street, disebutkan bahwa “Ukraine’s Armed Forces have proved that the effective use of long-range systems can have game-changing impacts on the battlefield, giving the Armed Forces the ability to degrade enemy forces far behind the frontline”.

10 Downing Street menambahkan, “Ukrainian long-range strikes, such as those on key logistics hubs, have significantly impacted Russia’s ability to sustain their offensives”.

Sementara itu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan pada Selasa bahwa Rusia akan memantau KTT di Ankara secara saksama. Rusia, yang menyerang Ukraina pada 2022, disebut tidak menganggap ada senjata baru dari NATO yang mampu menghentikan operasi militer mereka sampai target tercapai.

Peskov mengatakan kepada wartawan, “In the context of preparations for this summit we heard a great many statements concerning our country”. Ia menambahkan bahwa “To our regret, these were not statements about constructive engagement and dialogue but rather statements of a confrontational nature”.

Menurut Peskov, penyelesaian konflik melalui jalur politik dan diplomatik tetap lebih disukai. Ia juga menegaskan bahwa “Settlement of this conflict through political and diplomatic means remains preferable” bagi Rusia.

Dengan rangkaian agenda itu, KTT NATO di Ankara tidak hanya membahas rencana rudal jarak jauh baru, tetapi juga memperlihatkan prioritas terkait kemampuan, jadwal kesiapan, serta cara aliansi merespons tantangan keamanan di Eropa. Diskusi tingkat pemimpin pada hari Rabu diharapkan menjadi penanda arah kerja sama sekaligus bagian dari perdebatan lebih luas soal kontribusi belanja pertahanan antaranggota.