Peristiwa

BGN Menyelidiki Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang, Hasilnya 5–7 Hari

×

BGN Menyelidiki Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang, Hasilnya 5–7 Hari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BGN Investigasi Penyebab Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang, Hasilnya 5-7 Hari

jurnalistik.co.id – Badan Gizi Nasional (BGN) masih melakukan penelusuran terkait dugaan keracunan yang dialami 707 siswa dan guru di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah. Kepala BGN Sudaryono menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan ditargetkan keluar dalam 5–7 hari ke depan.

Sudaryono menjelaskan, pihaknya meminta dukungan Dinas Kesehatan untuk pengecekan lanjutan di laboratorium. Ia menekankan kebutuhan waktu agar hasil pemeriksaan dapat dipastikan sebelum disimpulkan.

“Kita lagi cek minta dari Dinas Kesehatan untuk dicek lab-nya. Kita butuh waktu paling tidak, ya, 7 hari, 5 hari kerja untuk sampai dengan hasilnya. Kemudian, kita bisa lihat hasil lab-nya,” kata Sudaryono, dalam akun TikTok pribadinya yang dibagikan langsung kepada Kompas.com, Minggu (2/7/2026).

Di saat yang sama, BGN juga melakukan pembekuan sementara (suspend) operasional SPPG Karangturi. Langkah ini diambil sebagai respons awal sambil menunggu kajian menyeluruh mengenai penyebab dugaan keracunan tersebut.

Pemeriksaan awal dan dugaan pemicu

Menurut Sudaryono, investigasi yang diterima BGN sejauh ini mengarah pada kemungkinan pemicu yang melibatkan beberapa bahan makanan. Dalam penelusuran awal, BGN menyebut adanya daun singkong serta bumbu rendang, di samping unsur lain yang masih ditelaah.

“Sejauh ini investigasi yang kami terima adalah ada beberapa bahan, ya ada daun singkong, ada bumbu rendang dan lain-lain,” ucap dia.

Selain faktor bahan, BGN juga menyoroti aspek waktu proses pengolahan. Ia menyebut terdapat indikasi bahwa makanan mungkin dimasak terlalu dini sebelum akhirnya didistribusikan kepada penerima.

Kesimpulan awal tersebut, kata Sudaryono, diperoleh dari perbandingan kondisi di sekolah lain yang juga mendapatkan menu dari SPPG yang sama. Ia menilai peristiwa dugaan keracunan tidak terjadi pada sekolah lain, sehingga ada perbedaan pola distribusi yang perlu dipahami lebih jauh.

“Jadi dari mulai jam 9 (malam) sudah mulai masak. Itu kemudian diberikan sekitar jam 9 atau jam 10 (pagi). Jadi ini cukup lama, karena yang diberikan makan bukan hanya SMK Negeri 6, tetapi juga beberapa sekolah yang lain. Nah sekolah yang lain itu diberikan lebih pagi. Jadi kondisi makanannya masih fresh , masih baik,” beber Sudaryono.

Dengan perbedaan jadwal penerimaan, Sudaryono menilai kualitas makanan yang dikonsumsi di sekolah-sekolah lain lebih terjaga. Sementara itu, sekolah yang mengalami dugaan keracunan diduga menghadapi rentang waktu lebih panjang sejak proses memasak hingga waktu makan.

Sistem pemantauan untuk mencegah kejadian berulang

Setelah investigasi awal, BGN menyatakan tengah mempersiapkan sistem pemantauan agar kasus serupa tidak terulang. Sistem tersebut dirancang untuk mendeteksi dan merekam waktu masak, waktu persiapan, hingga waktu distribusi secara real-time.

Sudaryono berharap pengembangan sistem pemantauan bisa selesai dalam dua minggu ke depan. Dengan adanya sistem itu, orang tua siswa, guru, dan kemungkinan Dinas Kesehatan dapat menelusuri informasi menu yang akan dimakan.

“Kita harapkan orang tua siswa, guru, dan barangkali Dinas Kesehatan bisa melihat jam berapa dimasak, apa saja yang dimasak, bumbu apa yang dimasukkan, itu harus kemudian tersistem kita termonitor semua. Yang bisa dimonitor oleh semua orang,” ungkap Sudaryono.

Ia juga mengingatkan agar SPPG senantiasa menjalankan SOP yang telah diatur. BGN menempatkan pemantauan terstruktur sebagai bagian dari upaya memperbaiki tata kelola proses sejak tahap persiapan hingga distribusi agar risiko serupa dapat ditekan.

Selama proses pemeriksaan berlangsung, BGN menegaskan langkah suspend operasional SPPG Karangturi tetap dijalankan sebagai bagian dari respons awal. Sikap ini diambil sambil menunggu kajian yang lebih lengkap, termasuk penelusuran terkait rangkaian proses pengolahan dan distribusi sebelum makanan sampai ke penerima.

Untuk mendukung pencegahan jangka pendek maupun evaluasi, BGN juga mendorong agar pencatatan kegiatan di SPPG dilakukan lebih rapi. Dengan pemantauan yang tersistem, informasi mengenai kapan makanan mulai dimasak, tahapan persiapan, dan kapan distribusi dilakukan diharapkan dapat terbaca oleh pihak terkait, sekaligus memperkuat kepatuhan terhadap SOP yang telah ditetapkan.