Olahraga

Kenapa Bendera Arab Saudi Tak Boleh Menyentuh Tanah di Piala Dunia?

×

Kenapa Bendera Arab Saudi Tak Boleh Menyentuh Tanah di Piala Dunia?

Sebarkan artikel ini
Istimewa, Kenapa Bendera Arab Saudi Tak Boleh Sentuh Tanah di Piala Dunia? Global 20 Juni 2026
Ilustrasi: Istimewa, Kenapa Bendera Arab Saudi Tak Boleh Sentuh Tanah di Piala Dunia?

jurnalistik.co.id – Menjelang laga penyisihan Grup H Piala Dunia 2026 antara Arab Saudi dan Uruguay di Miami, Amerika Serikat, Selasa (16/6/2026), muncul pemandangan yang terasa berbeda dari protokol upacara di lapangan. Jika banyak negara membentangkan bendera di permukaan stadion, Arab Saudi justru menerapkan aturan agar benderanya sama sekali tidak menyentuh tanah.

Di Miami, bendera Arab Saudi diperlakukan dengan cara yang tidak lazim: bendera tidak dibiarkan terhampar, melainkan terus dipegang dan diangkat tinggi oleh para relawan. Dengan demikian, bendera tetap berada pada posisi yang tidak bersentuhan dengan rumput maupun permukaan apa pun di bawahnya.

Perbedaan perlakuan ini bukan sekadar variasi penampilan. Newsweek, sebagaimana diberitakan Kompas.com, menautkannya dengan makna religius yang melekat di dalam bendera Arab Saudi itu sendiri.

Makna religius di balik kalimat syahadat

Di dalam bendera Arab Saudi tertera kalimat syahadat Islam. Karena kandungan tersebut dipandang suci, bendera tidak diperlakukan seperti lambang negara pada umumnya. Ada aturan ketat mengenai bagaimana bendera harus ditangani dan cara penggunaannya dalam rangkaian acara.

Bendera Arab Saudi tidak boleh diturunkan dengan metode yang dapat dianggap tidak sopan. Yang paling penting, bendera juga dilarang keras untuk menyentuh tanah atau permukaan apa pun di bawahnya, sekalipun tujuan penggunaannya adalah bagian dari prosesi upacara resmi.

Konsekuensi dari aturan ini membuat tantangan tersendiri bagi format standar FIFA pada momen pra-pertandingan. Dalam banyak kesempatan, bendera biasanya dibentangkan melintasi lapangan layaknya spanduk raksasa, tetapi skema semacam itu bertabrakan dengan larangan sentuh tanah pada bendera Arab Saudi.

Penyesuaian FIFA pada upacara pra-pertandingan

Untuk Piala Dunia 2026, FIFA merancang ulang upacara pra-pertandingan agar lebih menonjolkan simbolisme nasional. Salah satu penyesuaian yang disebutkan adalah perubahan arah kumpul pemain: semua pemain diarahkan berkumpul di sekitar lingkaran tengah lapangan saat lagu kebangsaan berkumandang.

FIFA menyatakan, tujuan desain baru tersebut adalah menciptakan pengalaman yang unik dan mendalam, yang dapat dinikmati dari setiap kursi di dalam stadion. Dalam konteks itu, penyelenggara tetap berupaya menjaga daya tarik visual upacara tanpa mengorbankan kewajiban protokol budaya yang harus dihormati.

Karena itu, ketika prosesi pra-pertandingan melibatkan Arab Saudi, bendera mereka akan terus diangkat oleh sekelompok relawan sepanjang rangkaian acara. Tujuannya tegas: memastikan bendera tidak menyentuh rumput dan tetap berada dalam posisi yang sesuai dengan aturan kesakralan.

Penyesuaian tersebut kemudian diperluas agar tidak terkesan mengistimewakan satu tim saja. Untuk menjaga keadilan visual dan agar tampilan di lapangan terasa seimbang, bendera negara lawan juga diperlakukan dengan cara serupa.

Respons publik dan makna diplomatik

Detail kecil nan penting ini cepat menarik perhatian warganet. Di platform media sosial X, banyak pengguna memakai momen tersebut untuk saling mengedukasi tentang alasan di balik posisi bendera dan makna kalimat suci yang tertulis di dalamnya.

Bagi para penonton, keputusan penyelenggara untuk menghormati protokol bendera Arab Saudi dalam Piala Dunia yang diselenggarakan di AS, Meksiko, dan Kanada tidak berhenti pada urusan seremoni. Lebih jauh, hal itu dipandang sebagai sinyal positif dalam hubungan AS–Arab.

Langkah tersebut dinilai menyoroti kesediaan untuk memprioritaskan pemahaman budaya di panggung global. Dalam bingkai yang sama, FIFA disebut berupaya memperkuat citra inklusivitas yang melampaui batas politik dan merangkul ruang publik internasional.

Secara diplomatik, pemaknaan semacam ini menegaskan bagaimana soft power dapat berperan melalui dua jalur sekaligus: olahraga dan simbolisme. Ketika sensitivitas agama suatu negara diakomodasi dalam sebuah ajang bertaraf dunia, pesan yang sampai ke publik menjadi lebih luas—bahwa stadion juga dapat menjadi tempat bertemunya pengertian lintas budaya.

Pada akhirnya, pemandangan di Miami itu merangkum dua hal yang berjalan bersamaan. Piala Dunia tetap menghadirkan pengalaman visual dan seremoni yang rapi, sementara protokol kesakralan bendera Arab Saudi dijaga dengan ketat agar tidak menyentuh tanah, sesuai makna religius yang terkandung di dalamnya.