Politik & Parlemen

Pramono: Jakarta Ada di Posisi Lebih Tinggi dari Washington DC dan Abu Dhabi dalam Indeks Kota Global

×

Pramono: Jakarta Ada di Posisi Lebih Tinggi dari Washington DC dan Abu Dhabi dalam Indeks Kota Global

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pramono: Jakarta Lebih Bagus dari Washington DC dan Abu Dhabi

jurnalistik.co.id – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan Jakarta kini menempati posisi yang lebih tinggi dalam Indeks Kota Global dibandingkan Washington DC dan Abu Dhabi. Pernyataan itu ia sampaikan saat hadir dalam Jakarta Kreatif Festival 2026 di Istora Senayan.

Menurut Pramono, survei oleh lembaga internasional yang berpusat di Brussels dilakukan beberapa pekan terakhir. Dalam kajian tersebut, Jakarta dinyatakan berada di peringkat 53 dari total 100 kota dunia.

Pramono menegaskan bahwa hasil tersebut menempatkan Jakarta melampaui Washington DC, Amerika. Ia juga menyebut Jakarta lebih baik dibandingkan Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Di kesempatan yang sama, Pramono mengaitkan kabar peningkatan peringkat dengan kondisi awal saat ia mulai menjabat sebagai gubernur. Ia menyebut ketika dilantik, Indeks Kota Global Jakarta masih berada pada peringkat 74.

Ia kemudian mengatakan bahwa dalam rentang sekitar 10 bulan, posisi Jakarta mengalami kenaikan menjadi peringkat 71. “Dan alhamdulillah, dalam 10 bulan naik menjadi 71,” ujarnya dalam keterangan di Istora Senayan.

Kota global dan dorongan kebijakan

Pramono menjelaskan alasan perlunya terobosan berbeda agar Jakarta bisa bersaing sebagai kota global dan pusat perekonomian nasional. Ia menuturkan Jakarta tidak cukup hanya bergerak mengikuti pola kota-kota lain di Indonesia.

Ia juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 yang menempatkan Jakarta pada status kota global, sekaligus pusat perekonomian nasional. Dalam kerangka regulasi itu, Jakarta dinyatakan masih berfungsi sebagai ibu kota negara.

Karena itu, pemerintah provinsi terus melakukan langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing Jakarta di tingkat global. Dorongan pembenahan tersebut ia sampaikan sebagai bagian dari upaya menjaga posisi Jakarta dalam berbagai indikator.

Ekonomi Jakarta dan peran BI

Pramono memaparkan capaian ekonomi Jakarta pada triwulan I 2026. Ia menyebut ekonomi Jakarta tumbuh sebesar 5,59 persen dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 16,67 persen.

Ia juga menyoroti transaksi digital sebagai salah satu indikator aktivitas ekonomi. Pramono mengatakan Jakarta secara keseluruhan menyumbang hampir 38 persen transaksi yang menggunakan QRIS di seluruh Indonesia.

Di lokasi yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan menilai Jakarta menjadi kunci bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Iwan menyebut kontribusi Jakarta terhadap angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 16,67 persen.

Iwan menambahkan, sekitar seperlima inflasi nasional bergantung pada stabilitas harga di Jakarta. “Dengan demikian, menjaga Jakarta berarti menjaga Indonesia,” ucapnya.

Ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan

Iwan menyatakan sektor ekonomi kreatif memiliki peluang besar untuk menjadi new engine of growth bagi perekonomian Jakarta. Ia menjelaskan ekonomi kreatif dapat bertumpu pada ide, inovasi, kreativitas, teknologi, serta budaya.

Menurut Iwan, pendekatan itu memungkinkan penciptaan nilai tambah ekonomi yang tinggi. Ia menegaskan ekonomi kreatif juga tidak bergantung pada sumber daya alam yang terbatas.

Iwan menutup dengan menyebut sejumlah kota besar dunia yang dinilai telah membuktikan peran ekonomi kreatif. Ia menyebut London, Paris, New York, Seoul, Tokyo, dan Beijing sebagai contoh yang mampu menciptakan lapangan kerja luas, menarik investasi, serta mendorong pariwisata.

Pramono juga menggambarkan peningkatan posisi tersebut sebagai hasil dari perubahan yang berproses. Ia menekankan bahwa survei yang menjadi rujukan menyajikan Jakarta pada urutan 53 dari 100 kota dunia, sehingga Jakarta dipandang melampaui beberapa kota yang selama ini dikenal kuat. Ia lalu mengaitkan temuan itu dengan kondisi awal saat mulai memimpin, ketika indikator yang sama menunjukkan Jakarta masih berada di peringkat 74 sebelum kemudian bergerak naik dalam kurun sekitar sepuluh bulan.

Dalam uraian mengenai arah kebijakan, Pramono menilai status Jakarta sebagai kota global dan pusat perekonomian nasional tidak cukup dijawab dengan pendekatan yang sekadar meniru langkah kota-kota lain. Ia menyebut kerangka regulasi melalui UU Nomor 2 Tahun 2024 sebagai landasan yang menegaskan fungsi Jakarta, sekaligus menuntut pemerintah provinsi melakukan pembenahan agar daya saing yang ditunjukkan lewat berbagai indikator tetap terpelihara. Dengan cara itu, peningkatan capaian yang tercermin dalam indeks dinilai dapat terus dijaga.

Di sisi ekonomi, penyampaian yang sama menempatkan kinerja Jakarta pada beberapa ukuran yang saling melengkapi. Pramono menyebut pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan I 2026 sebesar 5,59 persen, sekaligus kontribusi terhadap PDB nasional mencapai 16,67 persen. Ia juga menyinggung aktivitas ekonomi melalui transaksi digital, termasuk penggunaan QRIS yang menurutnya menyumbang porsi besar di tingkat nasional. Iwan Setiawan melengkapi dengan penekanan bahwa stabilitas harga di Jakarta berpengaruh pada besaran inflasi nasional, sekaligus memperkuat pesan bahwa menjaga Jakarta berarti menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.

Iwan Setiawan menambahkan bahwa ekonomi kreatif dipandang sebagai salah satu penggerak pertumbuhan karena kekuatan utamanya bersumber dari ide, inovasi, kreativitas, teknologi, dan kekayaan budaya. Ia menilai nilai tambah yang dihasilkan dari pendekatan ini dapat membuka ruang penciptaan peluang ekonomi tanpa bergantung pada ketersediaan sumber daya alam yang terbatas. Sebagai gambaran peran ekonomi kreatif di berbagai belahan dunia, ia menyebut sejumlah kota seperti London, Paris, New York, Seoul, Tokyo, dan Beijing yang dinilai mampu menarik investasi sekaligus mendorong kegiatan ekonomi dan pariwisata.