jurnalistik.co.id – Temuan dari peninjauan terbesar terkait layanan persalinan di NHS akhirnya dipublikasikan, membawa kisah-kisah keluarga yang berubah selamanya—dengan angka yang tajam sekaligus menyakitkan.
Dalam laporan yang selama ini dinanti, hasil penyelidikan atas skandal persalinan terbesar dalam sejarah NHS disajikan ke publik setelah masa penantian yang panjang.
Di balik rangkuman statistik, persoalannya tidak berhenti pada angka. Peninjauan ini juga menampilkan wajah, keputusan, serta dampak yang dialami para orang tua dan bayi di Nottingham.
Skala temuan: ribuan keluarga dan ratusan kasus berisiko besar
Penemuan menyebut sekitar 2.500 keluarga terlibat, dengan angka 155 bayi yang “may have survived with better care” jika perawatan yang lebih baik dapat diberikan.
Laporan itu juga mencatat 105 bayi mengalami cedera serius akibat kekurangan layanan.
Secara total, ada 520 kasus ibu dan bayi yang dinilai berada pada tingkat 2 atau 3 untuk tingkat bahaya (harm).
Penjelasan tingkat 2 menyasar “significant concerns” terhadap perawatan, sedangkan tingkat 3 menunjukkan “major concerns”.
Grade 2 merujuk pada perawatan yang dinilai tidak optimal, di mana manajemen yang berbeda mungkin dapat membuat perbedaan terhadap hasil.
Grade 3 adalah kondisi ketika manajemen yang berbeda secara wajar diharapkan dapat mengubah hasil perawatan.
Nottingham University Hospitals (NUH) NHS Trust menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang terdampak dan menyatakan komitmennya untuk melakukan perbaikan.
Kisah Sarah dan Jack Hawkins: dari penantian hingga kehilangan yang disebut hampir pasti bisa dicegah
Sarah Hawkins dan suaminya, Jack, kehilangan putri mereka, Harriet, pada April 2016.
Harriet meninggal dalam kondisi stillborn di Nottingham City Hospital, setelah intervensi disebut berulang kali tertunda.
Harriet baru dilahirkan sembilan jam setelah dia meninggal.
Dalam peninjauan eksternal kasus tersebut, kematian Harriet dinyatakan “almost certainly preventable”.
Dalam laporan landmark-nya, Donna Ockenden menyebut bahwa kematian Harriet “was compounded by a systemic cover-up and investigations designed to mislead, which took a profound toll on the couple’s wellbeing”.
Sarah dan Jack menggambarkan perjuangan mereka untuk memperoleh kebenaran sebagai titik balik yang menentukan.
Jack menyampaikan kepada BBC: “My God, you know, how on earth are you supposed to deal with the change in life from such excitement to utter emptiness?”
Kisah Gary dan Sarah Andrews: tanda gangguan terlewat, penyelamatan dihentikan setelah 23 menit
Gary dan Sarah Andrews juga mengalami kehilangan yang terjadi sangat cepat setelah persalinan.
Anak perempuan mereka, Wynter, meninggal 23 menit setelah dilahirkan melalui operasi caesar pada 15 September 2019.
Mereka menyebut bahwa tanda-tanda yang mengindikasikan kondisi Wynter dalam kesulitan telah muncul, namun peringatan tersebut berulang kali tidak tertangkap.
Gary menyampaikan bahwa salah satu tenaga klinis duduk dan menilai seluruh catatan, lalu menyatakan tidak melihat ada yang salah.
“One clinician sat down and said they’d looked over all the notes and they couldn’t see anything wrong and if they listened to every mother’s concerns the hospital would be overrun.”
Wynter dilahirkan “in poor condition”, dengan tali pusat yang disebut “wrapped tightly around her leg and neck”.
Upaya resusitasi kemudian dihentikan 23 menit setelah kelahiran.
Pada inquest yang digelar pada Oktober 2020, ditemukan bahwa Wynter mungkin dapat bertahan bila “multiple missed opportunities” oleh staf dapat diidentifikasi dan ditangani sejak awal.
Kisah Natalie Needham: bayi pulang lebih cepat dari rumah sakit, kekhawatian dianggap diabaikan
Natalie Needham menghadapi kehilangan putra bayinya, Kouper, pada Juli 2019.
Kouper meninggal akibat komplikasi pernapasan ketika usianya baru 24 jam, ketika dia berada di Moses basket di ruang keluarga.
Mereka menyebut Kouper telah dipulangkan dari Nottingham City Hospital sekitar 14 jam setelah dia lahir.
Menurut Natalie, dia memiliki kekhawatiran tentang kondisi anaknya, namun kekhawatiran itu diyakini diabaikan karena dia memiliki empat anak yang lebih tua.
“We are fighting so much to make sure things are put into place to make it right,” kata Natalie.
Kisah Carly Wesson dan Carl Everson: hasil tes berubah, keputusan yang sudah terlanjur
Carly Wesson dan Carl Everson menghentikan kehamilan mereka pada 2019 setelah diberi nasihat bahwa putri mereka memiliki kondisi genetik langka bernama Patau’s Syndrome.
Dalam penjelasan yang mereka terima, kondisi tersebut “often results in miscarriage, stillbirth or the baby dying shortly after birth”.
Nanti sekitar enam minggu kemudian, pasangan itu diberi kabar bahwa hasil tes sebelumnya merupakan false positive, sehingga hasil mereka berubah.
Ketika pasangan itu bertanya apakah putri mereka—yang mereka panggil dengan nama Ladybird—sebenarnya bisa bertahan, seorang dokter menjawab dengan pernyataan yang menyakitkan.
“Well, you could have miscarried anyway.”
Mereka kemudian menyerukan adanya penyelidikan publik yang bersifat statutory terhadap layanan persalinan.
Pasangan itu mengatakan: “We hope the Ockenden review leads to clear actionable change, both in Nottingham and nationally.”
Kisah Felicity Benyon: komplikasi plasenta percreta, operasi darurat, dan kesalahan saat pengangkatan
Felicity Benyon menghadapi cedera jangka panjang setelah melahirkan anak keduanya.
Dokter menduga dia memiliki komplikasi kehamilan yang berpotensi fatal, yakni placenta percreta—kondisi ketika plasenta menempel dan tumbuh menembus uterus.
Konfirmasi menyebut Felicity membutuhkan hysterectomy darurat saat persalinan caesar yang telah direncanakan.
Namun saat prosedur dilakukan, mereka menyebut bahwa ketika rahim diangkat, tim juga “mistakenly” mengambil kandung kemihnya, sehingga Felicity harus dipasang stoma.
Felicity menegaskan harapannya terhadap implementasi rekomendasi laporan.
“I want promises that Donna’s recommendations will be implemented – not just ‘thank you for doing this Donna, it’s great’.”
Kisah Hayley Coates: cedera otak besar setelah persalinan sulit dan kematian akibat infeksi
Hayley Coates menjalani kehamilan yang menurutnya normal bersama putranya Kaylan.
Namun semuanya berubah ketika dia mengalami persalinan yang panjang dan sulit.
Ketika Kaylan akhirnya dilahirkan menggunakan forceps pada Queen’s Medical Centre pada tahun 2018, kondisi yang disebut terjadi adalah patah tulang tengkorak, kekurangan oksigen, serta cedera otak besar.
Hayley menyebut putranya meninggal di rumah sakit akibat infeksi satu minggu kemudian.
Hayley mengatakan: “The amount of families and babies and mothers injured which could have and should have been avoided is something more than shocking.
“In no means will this review change any of the past outcomes, but I hope this review now means no more babies loose their lives due to negligence.”
Kisah Kim Errington: kegagalan pemantauan gula darah sebelum bayi dikirim pulang
Kim Errington berduka atas kematian anaknya, Edward Errington-Rozkalns—yang dikenal sebagai Teddy—pada November 2020.
Mereka menyebut Teddy meninggal setelah “undoubted failings” yang membuat bidan gagal memantau kadar gula darah sebelum bayi dikirim pulang.
Teddy baru berusia satu hari saat meninggal.
Kim menekankan pentingnya penyelidikan publik: “A public inquiry is massively important because without it, nobody is held to account and no change is going to happen without that.”
Ia menambahkan: “It’s unbelievable what families have had to put themselves through – or actually what the state and the system has put us through.”
Kisah Michelle Welsh: jadwal operasi caesar yang berulang kali tertunda dan kebutuhan tindakan nyata
Michelle Welsh, kini anggota parlemen (MP) untuk Sherwood Forest, pernah menjadwalkan operasi caesar pada 2020 karena masalah selama kehamilan.
Namun prosedur tersebut disebut berulang kali tertunda.
Meski akhirnya dia meninggalkan rumah sakit bersama bayinya, Michelle menyatakan dia tidak merasa didengarkan dan tidak puas dengan pengalamannya.
Ia juga disebut diangkat menjadi penasihat persalinan pertama pemerintah pada bulan Mei.
“We need to give the Donna Ockenden report the respect that it deserves. We need to look at it thoroughly and we need to take action.”
Kisah Sarah Sissons: keterlambatan penanganan berujung kerusakan otak dan perjuangan meminta penanganan lebih senior
Sarah Sissons mengalami dampak berat pada putranya, Ryan, yang disebut mengalami kerusakan otak akibat perawatan yang buruk dan keterlambatan penanganan saat lahir pada tahun 2008.
Sarah mengatakan bahwa ia harus “plead with doctors” di City Hospital agar putranya diperiksa oleh dokter senior setelah ia mulai mengalami seizures dan menjadi jaundiced.
Sarah menyampaikan harapannya agar peninjauan ini menyoroti banyak anak yang terdampak.
“I hope this review highlights the hundreds of children who have been damaged by NUH. It worries me what their futures will look like.
“I hope the government will now take steps to help them get all the help they need.”









