jurnalistik.co.id – CIANJUR — Di tengah euforia perayaan gelar Persib Bandung, mantan kapten Persib, Atep Rizal, membawa cerita yang terasa lebih personal daripada sekadar konvoi juara. Dalam rombongan “Mapag Juara” yang melintasi Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (26/5/2026), Atep berjalan bersama dua pemain muda Persib, Kakang Rudianto dan Robi Darwis, yang sejak kecil sudah ia kenal dan bina.
Kehadiran Kakang dan Robi dalam iring-iringan itu membuat momen perayaan terasa berbeda. Bagi Atep, dua pemain muda tersebut bukan hanya bagian dari skuad yang ikut mengantar Persib meraih kejayaan, tetapi juga buah dari proses panjang pembinaan yang ia rintis sendiri lewat Sekolah Sepak Bola Atep Seven. Di situlah perjalanan keduanya mulai tumbuh, jauh sebelum nama mereka dikenal publik sebagai bagian dari Persib Bandung.
Atep menceritakan bahwa SSB Atep Seven berdiri pada 7 Juli 2009 sebagai wadah bagi anak-anak di Cianjur untuk mengasah kemampuan sepak bola. Dari tempat itulah Kakang Rudianto yang kini berusia 23 tahun dan Robi Darwis yang berusia 22 tahun mulai meniti langkah. Keduanya masuk ke dalam pembinaan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar dan menjalani latihan dalam waktu yang tidak singkat.
“Sejak kelas 3 SD, Kakang dan Robi sudah berlatih di SSB Atep Seven selama tujuh tahun. Mereka bagian dari keluarga besar kami,” ujar Atep di hadapan ribuan bobotoh di halaman Mako Polres Cianjur, Selasa (26/5/2026).
Kalimat itu menggambarkan betapa dekatnya hubungan Atep dengan dua pemain muda tersebut. Bagi dia, Kakang dan Robi bukan sekadar mantan anak didik, melainkan bagian dari keluarga besar yang tumbuh bersama dalam proses latihan, disiplin, dan perjuangan. Selama masa pembinaan itu, Atep mengaku bisa melihat langsung perkembangan keduanya dari waktu ke waktu, termasuk kemampuan serta semangat yang dinilainya luar biasa.
Perjalanan Panjang Menuju Persib
Setelah menimba ilmu di SSB Atep Seven, Kakang dan Robi terus berkembang. Langkah mereka berlanjut ke Akademi Persib Cimahi, tempat pembinaan yang kemudian membawa keduanya semakin dekat dengan mimpi masa kecil yang sudah lama dipendam. Menurut Atep, sejak kecil mereka punya tujuan yang sama, yakni menjadi pemain Persib Bandung.
Mimpi itu tidak datang dalam satu malam. Ada proses panjang yang harus dilalui, ada latihan yang dijalani bertahun-tahun, dan ada tahapan pembinaan yang harus ditempuh satu per satu. Namun, perjalanan itu akhirnya mengantar Kakang dan Robi ke titik yang mereka impikan sejak lama, sekaligus menjadi bagian dari sejarah besar Persib.
Atep menilai keberhasilan dua anak didiknya itu bukan hanya milik mereka berdua, tetapi juga kebanggaan bagi pembinaan sepak bola di Cianjur. Ia menyebut perjalanan keduanya sebagai perjalanan yang panjang dan penuh perjuangan sampai akhirnya mereka meraih gelar juara bersama dan mengukuhkan Persib hattrick juara.
Keberhasilan itu, bagi Atep, menjadi bukti bahwa jalur pembinaan yang konsisten dapat melahirkan pemain-pemain muda yang siap bersaing di level tertinggi. Dari lapangan latihan sederhana di SSB Atep Seven, Kakang dan Robi kini berdiri dalam barisan pemain yang ikut menorehkan sejarah untuk klub kebanggaan Bandung itu. Peralihan dari anak sekolah dasar yang berlatih tiap pekan menjadi bagian dari skuad juara memperlihatkan betapa panjangnya proses yang mereka lalui.
Atep juga berharap kisah Kakang dan Robi bisa menjadi contoh bagi generasi muda di Cianjur. Menurutnya, daerah itu menyimpan banyak potensi yang layak diberi ruang untuk berkembang. Ia ingin lebih banyak anak-anak dari Cianjur berani mengejar mimpi di sepak bola, dengan harapan suatu saat mereka bisa mewakili daerahnya di Timnas Indonesia atau bersama Persib Bandung.
Harapan itu ia sampaikan bukan tanpa alasan. Atep melihat sendiri bagaimana pembinaan yang dimulai sejak dini bisa membentuk karakter, disiplin, dan ketekunan seorang pemain. Karena itu, keberhasilan Kakang dan Robi tidak hanya dibaca sebagai capaian individu, tetapi juga sebagai inspirasi bagi atlet muda lain yang sedang menempuh jalan serupa.
Di tengah sorak-sorai bobotoh yang memenuhi suasana konvoi, Atep juga mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat dalam menyambut pemain Persib di Cianjur. Momen itu memperlihatkan betapa kuatnya hubungan emosional antara klub, pemain, dan para pendukungnya. Bagi Atep, sambutan hangat itu menjadi penanda bahwa prestasi Persib bukan hanya milik tim, tetapi juga milik banyak orang yang ikut tumbuh bersama perjalanan klub tersebut.
Kisah Kakang dan Robi pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar cerita dua pemain muda yang meraih gelar juara. Ini adalah kisah tentang pembinaan, kesabaran, dan mimpi yang dijaga sejak kecil hingga benar-benar menjadi kenyataan. Dari SSB Atep Seven hingga mengangkat kebanggaan bersama Persib, perjalanan keduanya menunjukkan bahwa sejarah besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.












