Peristiwa

Kolong Flyover: Kuburan Kendaraan, Motor Ringsek hingga Bus Hancur

0
×

Kolong Flyover: Kuburan Kendaraan, Motor Ringsek hingga Bus Hancur

Sebarkan artikel ini
Penampakan Kuburan Kendaraan di Kolong Flyover, Motor Ringsek hingga Bus Hancur News 4 Juni 2026
Ilustrasi: Penampakan Kuburan Kendaraan di Kolong Flyover, Motor Ringsek hingga Bus Hancur

jurnalistik.co.id – Suara kendaraan yang melintas di atas flyover Tanjung Barat, Jakarta Selatan, terdengar nyaring pada Selasa (26/5/2026) siang. Namun, suasana berubah ketika pandangan mengarah ke bagian bawah konstruksi beton yang menjadi penghubung Jakarta dan Depok.

Di balik tiang-tiang penyangga, tersimpan ratusan kendaraan dalam berbagai kondisi kerusakan. Sebagian berupa mobil ringsek akibat benturan keras, sementara sebagian lain terlihat sudah lama tak tersentuh, berdebu, dan terhampar di antara tanah becek serta rerumputan liar.

Lakopannya menyerupai kuburan kendaraan di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Lokasi itu dipenuhi tumpukan kendaraan yang berdiri atau tersandar seadanya, seolah membentuk hamparan bangkai yang sulit dipisahkan satu sama lain.

Pemandangan pertama yang menarik perhatian datang dari sebuah sedan hitam bernomor polisi B 1098 SDZ. Kendaraan tersebut mengalami kerusakan berat di bagian depan, moncongnya ringsek akibat benturan keras, lalu kini bersandar pada sebuah truk bertuliskan “Unit Penerangan Lalu Lintas” milik Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.

Tidak jauh dari sedan itu, sejumlah kendaraan dinas kepolisian tampak bernasib serupa. Beberapa mobil patroli milik Polda Metro Jaya dan Polsek Pancoran terparkir tanpa roda yang utuh, dengan bodi penyok, kaca pecah, serta cat yang mulai memudar akibat cuaca.

Di antara kendaraan-kendaraan tersebut, ada satu yang paling mencolok, yakni mobil patroli Ford Focus. Pada bagian tertentu, masih tersisa stiker bertuliskan “Timsus Penindak Pelanggar Prokes Covid-19 Polsek Metro Kebayoran Baru”.

Kerusakan pada kendaraan yang teronggok juga terlihat pada angkutan umum. Sebuah angkot berwarna biru muda bernomor polisi B 1286 TV berdiri kaku dengan kaca depan hancur dan bagian depan mengalami penyok parah.

Di area itu pula, bangkai sebuah bus hanya menyisakan kerangka besi yang mencuat ke berbagai arah. Atap kendaraan tampak robek, bagian bodinya koyak, sementara interiornya nyaris tak lagi dikenali.

Jika kendaraan roda empat mendominasi bagian depan lokasi, pemandangan berbeda terlihat pada area berpagar di sisi lain kolong flyover. Di sana, raturan sepeda motor tersusun rapat tanpa jarak, dengan mayoritas unit berada dalam kondisi rusak dan berdebu.

Jok-jok yang robek memperlihatkan busa di bagian dalam. Beberapa spion terlihat patah, lampu pecah, dan sejumlah bagian kendaraan mulai diselimuti karat.

Motor-motor yang tertumpuk berasal dari berbagai merek dan tahun produksi. Di antaranya terdapat Honda Beat, Yamaha Mio, Yamaha Fino, hingga beberapa motor bebek lawas yang nyaris tak lagi dapat dikenali.

Dari kejauhan, keseluruhan area terlihat seperti labirin bangkai besi yang perlahan membusuk di tengah kota. Susunan yang rapat dan kondisi yang sudah demikian rusak membuat kendaraan-kendaraan itu tampak tak lagi berfungsi.

Keberadaan tumpukan kendaraan tersebut bukan pemandangan baru bagi warga sekitar. Jeri (25), penjaga warung di seberang flyover, mengaku telah melihat tumpukan kendaraan tersebut selama bertahun-tahun.

Ia menyebut kendaraan itu telah ada sejak lama, bahkan sebelum ia mulai bekerja di lokasi. “Udah lama banget. Saya kerja di warung sini hampir lima tahunan, itu kendaraan udah ada dari dulu. Makin lama malah keliatan makin numpuk,” kata Jeri saat ditemui di lokasi.

Menurut pengakuannya, makin ke waktu, kerusakan dan penumpukan yang tampak di area itu semakin jelas. Dengan kondisi yang terus terkumpul di bawah flyover, tempat tersebut semakin menyerupai kuburan kendaraan yang berdiri di tengah arus aktivitas sehari-hari.

Di bagian atas flyover, suara kendaraan terdengar bersambung, tetapi di bawahnya situasinya terasa seperti dunia yang terpisah. Tanah becek, rerumputan liar, dan debu yang menempel pada permukaan kendaraan membuat kolong itu terlihat makin “tertutup” dari aktivitas luar, seolah tumpukan yang sama dibiarkan terus bertahan tanpa ada pembaruan berarti.

Kerusakan yang terlihat tidak hanya menyangkut satu jenis kendaraan. Rangka bus yang tersisa, kaca yang hancur pada angkot, hingga kondisi roda yang tidak lagi utuh pada sejumlah mobil dinas kepolisian menunjukkan bahwa tiap unit mengalami nasib yang berbeda, namun ujungnya sama: kendaraan tidak lagi berada dalam kondisi berfungsi dan hanya tersandar atau berdiri seadanya.

Warga di sekitar lokasi, termasuk Jeri, juga menggambarkan bahwa proses penumpukan tersebut berlangsung bertahap. Ia menuturkan kendaraan itu sudah lebih dulu ada sebelum dirinya bekerja di warung selama hampir lima tahun, dan seiring waktu ia melihat susunan kendaraan kian memenuhi ruang di bawah flyover—membentuk pemandangan yang bagi orang yang lewat terasa sulit dihindari, karena menempati area yang berdekatan satu sama lain.