Peristiwa

Diska (8) Tinggalkan Jenazah Ibunya saat KM Nurul Salsa Tenggelam, Bertahan Hingga Bantuan Tiba

×

Diska (8) Tinggalkan Jenazah Ibunya saat KM Nurul Salsa Tenggelam, Bertahan Hingga Bantuan Tiba

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kisah Pilu Anak 8 Tahun Tinggalkan Jenazah Ibu di Tengah Laut demi Bertahan Hidup

jurnalistik.co.id – Di perairan barat Pulau Polassi, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Diska Yanti (8) menyimpan kenangan paling pahit dari sebuah kecelakaan laut. Ia menyaksikan ibunya meninggal dunia ketika mereka sama-sama berjuang bertahan di tengah Laut Flores.

Kapal Layar Motor (KLM) Nurul Salsa tenggelam saat berlayar dari Pulau Jampea, Kecamatan Pasimasunggu menuju Pelabuhan Rauf Rahman di Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar, pada Rabu (15/7/2026). Dalam kondisi kapal karam, Diska sempat berada dalam pelukan ibunya sebelum akhirnya terpisah dari orang yang memeluknya.

Diska dan sejumlah penumpang lain memilih bertahan dengan berpegangan pada pelampung gabus. Selama beberapa hari, mereka berada di atas laut sambil mengikuti arus dan menunggu kapal lain yang melintas.

Di malam hari, ombak semakin besar dan menghantam para korban yang masih bertahan. Di tengah guncangan dan derasnya gelombang, pegangan ayah Diska kepada istrinya akhirnya terlepas sehingga keduanya terpisah.

Hari demi hari berlalu, Diska tetap berada di pelampung bersama penumpang selamat lainnya. Ia harus menyaksikan kondisi ibunya yang terus melemah sementara mereka masih terbawa menjauh dari lokasi tenggelam kapal.

Memasuki hari ketiga, daya tahan ibunya menurun hingga akhirnya meninggal dunia. Ketika itu, Diska terpaksa menghadapi situasi yang tidak dapat dibayangkan anak seusianya: ibu yang selama ini berada di sisinya tidak lagi mampu bertahan mengapung.

Paman Diska, Andi Samad, mengatakan nyawa ibu Diska tidak dapat diselamatkan. “Nyawanya tidak bisa diselamatkan, sudah tidak mampu bertahan mengapung kasian,” kata Andi Samad, dikutip dari TribunSulsel, Senin (20/7/2026).

Andi Samad juga menjelaskan bahwa ia mengetahui kejadian tersebut karena ikut menjadi korban dan berada di pelampung yang sama. Dalam situasi yang terbatas, Diska harus terus berupaya agar tetap hidup, meski harus menghadapi kenyataan ketika bantuan belum kunjung tiba.

Menurut cerita, Diska meninggalkan jenazah ibunya di tengah laut karena ia harus melanjutkan perjuangan untuk bertahan. Keputusan itu bukan diambil dengan mudah, melainkan merupakan konsekuensi dari kondisi di lautan yang semakin menipis.

Memasuki hari keempat, lima korban yang berada di atas pelampung masih berharap akan ada kapal yang melintas. Mereka berulang kali berteriak meminta pertolongan, tetapi suara yang mulai serak tidak kunjung didengar.

Kabar akhirnya datang dari pihak nelayan. Diska bersama sejumlah korban selamat ditemukan kapal nelayan asal Bulukumba setelah hanyut berhari-hari di laut.

Di tengah upaya penyelamatan, kisah Diska menjadi gambaran tentang betapa rapuhnya keadaan saat kecelakaan terjadi jauh dari jangkauan darat. Ia bertahan selama empat hari sambil memegang pelampung gabus, namun kehilangan ibunya justru saat bantuan masih berada di jalan.

Bagi Diska, perjalanan di Laut Flores itu berakhir dengan evakuasi, tetapi meninggalkan luka mendalam yang melekat pada ingatan tentang hari-hari menunggu pertolongan. Peristiwa ini sekaligus menegaskan bahwa di tengah ombak dan keterbatasan, waktu dan kondisi fisik bisa menjadi penentu antara hidup dan tidak bisa bertahan lagi.

Selama menunggu, Diska dan para penumpang selamat terus berada di atas laut dengan cara yang seadanya, berpegang pada benda mengapung agar tidak terombang-ambing terlalu jauh. Di setiap pergantian hari, harapan mereka bertumpu pada kemungkinan ada kapal lain yang melintas dan melihat keberadaan para korban.

Di saat-saat yang paling berat, Diska tetap harus menghadapi momen ketika orang terdekatnya mulai kehilangan tenaga. Ia berada dalam jarak yang tidak memungkinkan pertolongan langsung, sehingga setiap detik terasa lebih panjang karena bantuan masih belum juga datang dari arah yang mereka nantikan.

Ketika akhirnya ditemukan, kejadian itu menyisakan ingatan yang sulit dihapus: empat hari berada di lautan dengan penuh ketidakpastian, tetapi yang paling menyakitkan adalah kehilangan ibu yang terjadi sebelum pertolongan benar-benar tiba. Perjalanan dari lokasi tenggelam menuju pelabuhan baru berakhir lewat proses evakuasi, namun luka yang tertinggal tetap melekat sebagai pelajaran pahit tentang keterbatasan di tengah laut.