jurnalistik.co.id – Wimbledon 2026 kembali menegaskan daya tariknya sebagai panggung untuk nama-nama besar—dari legenda yang kembali, hingga bintang muda yang siap memperebutkan sorotan. Dua pekan di All England Club ini datang dalam musim yang padat, namun justru membuat rumput Wimbledon terasa makin “ditunggu”.
Di antara deretan wajah yang kembali, Serena Williams menjadi salah satu sorotan utama. Petenis Amerika berusia 44 tahun itu bersiap menjalani comeback nomor tunggal Grand Slam pertamanya sejak absen empat tahun dari kompetisi tenis, sekaligus kembali berpasangan dalam nomor ganda bersama Venus Williams yang berusia 46 tahun.
Nama besar lain yang juga hadir adalah Andy Murray. Mantan juara Wimbledon itu kembali ke turnamen, kali ini bergabung dalam tim kepelatihan Jack Draper untuk periode kompetisi lapangan rumput. Kehadiran Murray menambah bobot kisah “old guard” yang selalu hadir di Wimbledon, baik sebagai kenangan maupun pengaruh tak langsung bagi generasi pemain saat ini.
Sementara itu, Novak Djokovic terus mengejar target yang sama: gelar Grand Slam ke-25. Djokovic masih terikat dengan rekor milik Margaret Court dari Australia sejak US Open 2023, sehingga Wimbledon 2026 menjadi satu lagi kesempatan untuk memecahkan catatan tersebut.
Venus Williams menilai momen kepulangan para legenda sebagai sesuatu yang istimewa. “It’s very special to be here – we have quite a history here. It’s nice to be back in 2026,” ujar Venus, yang telah mengoleksi lima gelar tunggal dan enam gelar ganda di All England Club.
Direktur turnamen Wimbledon, Jamie Baker, juga menekankan bahwa tahun ini tetap akan ramai karena pesta olahraga lain turut bersaing merebut perhatian publik. “We’re always unbelievably excited to be part of an exciting summer of sport,” katanya kepada BBC World Service. “Every summer there are always other big events on and I think that does add to the buzz around sport in general. We do love being part of that.”
Di sisi pemain tuan rumah, harapan akan “lari jauh” khas Inggris berhadapan dengan realitas undian yang tidak mudah. Andy Murray memahami betul antusiasme yang muncul saat pemain Inggris bisa bertahan hingga minggu kedua, tetapi peluang itu dinilai tidak besar.
Jack Draper menjadi figur Inggris yang memiliki beban paling berat untuk membuat dampak. Draper, yang sebelumnya menjadi peringkat dunia nomor empat, sempat sulit mendapatkan waktu bermain selama satu tahun terakhir akibat rangkaian cedera. Meski ia menunjukkan sinyal positif dengan mencapai semifinal Eastbourne pada turnamen comeback setelah menjadi semifinalis US Open 2024, rangkaian pertandingan lima set akan menjadi ujian yang lebih keras untuk kebugarannya.
Cameron Norrie menjadi petunjuk lain dari sisi pengalaman. Ia adalah satu-satunya unggulan Inggris pada undian putra dengan status seed ke-26, dengan rekam jejak mencapai semifinal pada 2022 dan perempatfinal pada tahun lalu. Sementara itu, Emma Raducanu sebagai nomor satu Inggris masuk turnamen dengan seed ke-30 dan memiliki permainan yang dianggap cocok dengan karakter rumput, terlihat dari larinya hingga final Queen’s a fortnight ago.
Namun, Raducanu menghadapi keraguan kebugaran. Ia memendekkan sesi latihan pada Sabtu karena cedera tulang kering (shin injury), sehingga jelang Wimbledon muncul tanda tanya tentang kondisi fisiknya. Secara keseluruhan, undian Inggris dinilai berat, dengan 21 pemain tuan rumah di dua undian tunggal dan 18 di antaranya berhadapan dengan lawan yang berada di peringkat 55 besar dunia.
Untuk peta persaingan global, Jannik Sinner menempati posisi favorit di nomor putra sebagai juara bertahan. Keunggulan itu semakin menguat karena Carlos Alcaraz absen akibat cedera pergelangan tangan, meski hasil di French Open tidak memberi angin segar. Pada turnamen tersebut, Sinner tersingkir di babak kedua karena kombinasi sakit dan kelelahan di tengah gelombang panas Paris.
Meski belum bermain kompetitif sejak saat itu, Sinner menyatakan merasa siap secara fisik dan mental untuk membidik gelar mayor kelimanya. Ia menegaskan cara pandang yang berbeda ketika menunggu tanpa ikut turnamen: “If you don’t play any tournament, you don’t have these doubts, you just go and play.” Ia juga mengaitkan pengalamannya ke Wimbledon tahun lalu: “Last year I lost in the second round in Halle. I came here and I played very well. Every year is different. I try to have as much confidence as possible in my shots and in my abilities.”
Djokovic sendiri kembali mengusung ambisi gelar mayor ke-25 sebagai rekor tunggal. Undian dinilai akan membuka peluang besar bila salah satu dari Sinner atau Djokovic lebih cepat tumbang sejak awal, karena kejutan semacam itu akan mengubah peta persaingan secara menyeluruh.
Di nomor putri, Aryna Sabalenka menjadi nama besar lain yang menargetkan kebangkitan. Pemain peringkat dunia nomor satu itu berusia 28 tahun dan berusaha kembali dari hasil yang dinilai tidak memenuhi ekspektasi setelah kehilangan peluang emas menambah koleksi gelar mayornya. Ia sebelumnya memiliki empat gelar major, dan Wimbledon 2026 diposisikan sebagai momen lanjutan setelah kekecewaan di Roland Garros.
Sabalenka gagal memanfaatkan keuntungan besar saat kalah di perempatfinal Roland Garros. Ia “capitulated” dari situasi unggul set dan 4-1, sehingga peluang untuk meraih gelar mayor pertamanya yang tidak terjadi di lapangan keras ikut menguap. Sesudah pertandingan, ia sempat menyatakan kesiapan untuk berhenti dari tenis, namun cepat pulih dari kekecewaan melalui cara yang ia sebut sederhana: “a couple bags of chips and some sweets”.
Menurut Sabalenka, proses memulihkan diri memakan waktu singkat. “I think it took a couple of days to get over. I just needed to leave the place where everything happened and then I feel a little bit better,” katanya. Di saat yang sama, para rivalnya tetap dianggap mengantongi potensi besar untuk mengganggu jalannya turnamen.
Elena Rybakina, yang berstatus unggulan kedua dan merupakan juara Wimbledon pada 2022, selalu menjadi ancaman karena servisnya yang besar. Di belakangnya, Iga Swiatek—yang menjadi runner-up tahun lalu—serta Amanda Anisimova, dan Mirra Andreeva yang baru saja menjuarai French Open, juga diharapkan mampu melaju jauh.
French Open menjadi pengingat bahwa baik tenis putra maupun putri sanggup menghadirkan kejutan besar. Di Wimbledon, peluang “kejutan” kembali relevan karena rumput masih menjadi permukaan yang tidak selalu familiar bagi banyak pemain elit, sementara ritme permainan juga berbeda. Poin yang lebih pendek, bola yang memantul lebih rendah, serta risiko baselines yang licin membuat adaptasi menjadi kunci, terutama bagi pemain yang tidak tumbuh dan berkembang di lingkungan lapangan rumput.
Gabungan antara hadirnya superstar yang lebih senior, momentum pemain muda yang mengambil alih perhatian, serta karakter unik Wimbledon sebagai penghasil kejutan—semua itu memberi indikasi kuat bahwa turnamen ini berpotensi menghadirkan dua pekan yang sangat menarik.










