Peristiwa

Krisis Air Melanda Ungaran Timur, Warga Kalikayen Mandi di Sungai demi Hemat Air

×

Krisis Air Melanda Ungaran Timur, Warga Kalikayen Mandi di Sungai demi Hemat Air

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ungaran Dilanda Kekeringan, Warga Kalikayen Terpaksa Mandi di Sungai demi Hemat Air

jurnalistik.co.id – Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, kini menghadapi kekeringan yang mulai merambat hingga tingkat dusun. Di Dusun Kebontaman, warga Desa Kalikayen terpaksa menghemat air dengan cara yang makin berat: sebagian mandi dan mencuci di sungai.

Kekeringan mulai melanda wilayah Dusun Kebontaman, Desa Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kondisi ini muncul di musim kemarau tahun ini dan mengganggu kebiasaan warga yang sebelumnya mengandalkan air sumur.

Selama ini warga bergantung pada air sumur untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, memasuki musim kemarau, jumlah air yang bisa diambil semakin menipis sehingga pasokan tidak lagi mencukupi untuk semua rumah tangga.

Tandon umum menyusut, warga mulai kesulitan

Warga menyebut di wilayah mereka tersedia persediaan air bersih dari tandon umum. Akan tetapi, saat kondisi saat ini memburuk, ketersediaan air menjadi terbatas.

Sarti (52), warga Dusun Kebontaman, menjelaskan bahwa tandon umum yang sebelumnya membantu kebutuhan warga kini tidak sanggup memenuhi seluruh permintaan. “Namun karena kondisi saat ini, airnya juga terbatas, sehingga tidak cukup untuk seluruh warga,” ungkapnya pada Kamis (16/7/2026) sore.

Menurut Sarti, kesulitan ini mulai dirasakan oleh sekitar 300 keluarga di dusun tersebut. Dalam praktiknya, warga dituntut untuk terus mengambil air agar persediaan di rumah tidak habis.

“Tiap hari harus mengangsu air, agar di rumah ada persediaan. Kalau tidak ada air ya susah,” kata Sarti. Ia menilai rutinitas pengambilan air menjadi semakin melelahkan karena jumlahnya tidak lagi seperti saat kondisi normal.

Mandai di sungai, memasak tetap bergantung sumur tetangga

Dengan terbatasnya air bersih, sebagian warga memilih menggunakan sungai untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian. Sementara untuk kebutuhan memasak, warga mengambil air dari sumur tetangga.

Namun, sumber sumur tetangga pun tidak luput dari dampak kekeringan. Sarti menyebut ada penurunan kemampuan pengambilan air harian yang terasa langsung oleh warga.

Dari yang awalnya bisa mengambil 10 galon setiap hari, kini warga hanya bisa mengambil enam galon saja. “Sedangkan kebutuhan untuk memasak harus mengambil dari sumur tetangga. Awalnya bisa 10 galon tiap hari, tapi sekarang sehari hanya bisa mengambil enam galon saja,” ungkapnya.

Perubahan jumlah air itu membuat warga harus menyesuaikan cara mengelola kebutuhan rumah tangga. Kebutuhan memasak tetap harus dipenuhi, tetapi pengambilan air untuk keperluan lain menjadi semakin terbatas.

Sumur terdalam tujuh meter, tetapi air habis saat kemarau

Selain soal tandon umum, warga juga membahas kondisi sumur di sekitar permukiman. Salmi (64) mengatakan bahwa air sumur di lahan seberang rumahnya semakin menipis seiring berjalannya musim kemarau.

Ia menyebut, ketika kemarau berlangsung, air sumur dapat habis. “Tapi kalau kemarau seperti ini airnya habis. Padahal sumur ini kedalamannya tujuh meter, tapi sekarang airnya sedikit,” ujarnya.

Menurut Salmi, penurunan debit membuat aktivitas pengambilan air menjadi tidak seperti biasa. Saat kondisi normal, sumur dapat dimanfaatkan lebih banyak, tetapi kini warga harus bergantian karena keterbatasan air.

“Kalau kondisi normal yang mengambil air di sumur ini cukup banyak, tapi sekarang bergantian dan terbatas, karena airnya sedikit,” kata Salmi. Ia menilai dampak kekeringan terasa makin nyata karena pengurangan air terjadi secara bertahap.

Salmi menuturkan, air sumur mulai berkurang sejak Juni. Lalu pada Juli ini, penurunannya makin parah. “Memang setiap tahun kalau kemarau kondisinya seperti ini, kekeringan dan warga susah mendapatkan air,” ungkapnya.

Di tengah situasi tersebut, upaya warga bertumpu pada penghematan dan pengambilan air yang diusahakan setiap hari. Rutinitas itu sekaligus menunjukkan bagaimana kekeringan memengaruhi kebutuhan dasar—mulai dari kebersihan diri hingga pemenuhan air untuk memasak—yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga Dusun Kebontaman.