Daerah

Subakir (60) Tanam Bibit Durian “Pohon Cinta” Usai Menikah di KUA Kabupaten Semarang

×

Subakir (60) Tanam Bibit Durian “Pohon Cinta” Usai Menikah di KUA Kabupaten Semarang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kisah Subakir, Duda 60 Tahun yang Tanam "Pohon Cinta" Durian sebagai Syarat Nikah di KUA

jurnalistik.co.id – Kabupaten Semarang kembali mencatat sebuah rangkaian pernikahan yang memberi makna lebih luas, tidak berhenti pada akad dan status keluarga baru. Pada Selasa, 14/7/2026, Subakir (60) resmi kembali menjadi pengantin baru setelah mengikuti proses administrasi di KUA.

Subakir, seorang duda beranak dua, menjalani momen tersebut bersama Nuriyah (44). Selain perasaan bahagia karena membangun kehidupan rumah tangga kembali, ia juga menyelesaikan kewajiban program lingkungan yang kini menjadi bagian dari syarat administrasi pernikahan di daerah itu.

Dalam kesempatan tersebut, Subakir menanam bibit durian “Pohon Cinta” di area MTs Tahfidzul Quran, Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak. Ia turun langsung ke lokasi dengan memegang cangkul, lalu menimbun bibit yang ditanam ke dalam tanah.

Menurut Subakir, pilihannya pada durian bukan tanpa alasan. Ia menyampaikan, “Saya menanam bibit durian sebagai perlambang cinta yang berharga bersama calon istri saya,” sambil tersenyum dan didampingi Nuriyah.

Bagi Subakir, kegiatan menanam bibit penghijauan itu juga dipandang sebagai simbol tanggung jawab bersama terhadap lingkungan. Ia menambahkan, “Ini bentuk perhatian kepada lingkungan yang asri dan hijau menjadi tanggung jawab bersama. Saya tidak merasa terbebani harus menyediakan bibit tanaman penghijauan, namun malah bangga bisa ikut serta menghijaukan lingkungan desanya,”.

Subakir turut menempati posisi sebagai satu dari sepuluh pasangan calon pengantin yang mengikuti jalannya launching program “Pohon Cinta” di Kabupaten Semarang. Kehadiran beberapa pasangan calon pengantin memperlihatkan bahwa kewajiban menanam bibit dimaknai sebagai bagian dari proses menuju pernikahan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, H Ta'yinul Birri Bagus Nugroho, menjelaskan bahwa program “Pohon Cinta” memang mewajibkan setiap calon pengantin yang menggunakan jasa pelayanan petugas KUA untuk menyerahkan satu bibit pohon penghijauan. “Program ini sebenarnya duplikasi dari para sesepuh terdahulu yang menanam cikal atau pohon kelapa ketika akan menikah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ta'yinul menjelaskan bahwa gerakan ramah lingkungan ini sejatinya sudah berjalan sejak setahun sebelumnya di wilayah Kabupaten Semarang. “Program sudah berjalan sejak tahun lalu. Ini bagian dari dukungan terhadap program prioritas Kementerian Agama yakni Ecotheologi yang memadukan ajaran agama dengan upaya pelestarian lingkungan,” katanya.

Dalam aspek teknis pelaksanaan, calon pengantin tidak harus langsung menanam bibit di lokasi yang ditentukan. Mereka dapat menitipkan bibit pohon penghijauan tersebut kepada petugas Kantor Urusan Agama setempat untuk kemudian dikoordinasikan penanamannya.

Namun, opsi penanaman mandiri juga tetap tersedia bagi pasangan calon pengantin yang memilih melakukannya sendiri. Ta'yinul memaparkan fleksibilitasnya, “Selain itu juga bisa ditanam sendiri lalu mengirimkan foto atau videonya sebagai salah satu syarat menikah di KUA,”.

Sejak kali pertama digulirkan pada tahun lalu, tercatat sudah tidak kurang dari 6.600 batang bibit pohon penghijauan yang berhasil ditanam secara hijau di berbagai sudut Kabupaten Semarang. Sebagian besar bibit yang disumbangkan berasal dari tanaman keras produktif, seperti kelengkeng, alpukat, durian, hingga mangga.

Program ini tidak hanya menekankan kelestarian alam, tetapi juga diarahkan untuk membantu roda perekonomian masyarakat kelas bawah di pedesaan. Ta'yinul menegaskan arahan yang diberikan kepada calon pengantin, “Kami mengimbau para calon pengantin untuk membeli bibit pohon dari petani setempat. Sehingga ekonomi warga juga dapat bergerak,”.

Bagi Subakir, rangkaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju rumah tangga yang baru. Di hari yang sama ketika statusnya berpindah dari duda menjadi pengantin baru, durian yang ia tanam di Wonokerto pun menjadi penanda sekaligus simbol perhatian pada lingkungan yang akan tumbuh dari waktu ke waktu.