Hukum & Kriminal

Kronologi Mahasiswa Unnes Dikepung Massa Usai Diduga Mengirim Pesan Cabul ke Sejumlah Perempuan

×

Kronologi Mahasiswa Unnes Dikepung Massa Usai Diduga Mengirim Pesan Cabul ke Sejumlah Perempuan

Sebarkan artikel ini
Kronologi Mahasiswa Unnes Dikepung Massa Usai Diduga Kirim Pesan Cabul ke Sejumlah Perempuan Regional 18 Juni 2026
Ilustrasi: Kronologi Mahasiswa Unnes Dikepung Massa Usai Diduga Kirim Pesan Cabul ke Sejumlah Perempuan

jurnalistik.co.id – SEMARANG—Dugaan pelecehan seksual verbal yang dilakukan seorang mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) berinisial FA berujung kemarahan massa. Peristiwa itu terjadi setelah percakapan yang diduga berisi pesan bernada cabul kepada sejumlah perempuan viral di media sosial.

Kamis (18/6/2026) dini hari, FA disebut berada di sekitar kawasan kampus. Dalam situasi tersebut, ratusan orang diketahui mengepung lokasi keberadaan terduga pelaku hingga suasana memanas.

Menurut keterangan ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM) Unnes, Septia Linasari, peristiwa bermula dari laporan beberapa perempuan. Para pelapor mengaku menerima pesan bernuansa seksual dari terduga pelaku.

Septia menjelaskan, “Kronologi ada mahasiswa laki-laki Unnes yang melakukan pelecehan seksual verbal kepada beberapa orang korban,” kata Septia kepada Kompas.com, Kamis. Ia menyebut dugaan tindakan tersebut terkait pengiriman pesan bernada seksual hingga ajakan berhubungan badan kepada sejumlah perempuan.

Dalam penjelasan yang sama, Septia turut mengaitkan sumber nomor yang dipakai terduga pelaku. “Korban rata-rata adalah driver anjem perempuan yang nomornya dia dapat dari grup unnes market group,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa nomor para korban diduga diperoleh dari grup jual beli dan jasa titip di lingkungan kampus. Dugaan ini kemudian menjadi salah satu pemicu perhatian publik setelah percakapan yang diduga melibatkan terduga pelaku beredar luas.

Penyebaran tangkapan layar percakapan tersebut berlangsung cepat di berbagai platform media sosial. Unggahan yang menyebar kemudian memicu kecaman dari warganet sekaligus mahasiswa, sebelum akhirnya FA diketahui berada di sekitar kampus pada malam hari.

Setelah kasus itu ramai diperbincangkan, massa mulai mendatangi lokasi yang disebut sebagai tempat keberadaan terduga pelaku. Dorongan emosi terlihat saat banyak orang berkumpul dan menuntut kepastian terkait dugaan yang beredar.

Di tengah kerumunan, beberapa pihak berupaya mencegah tindakan kekerasan. BEM Unnes bersama sejumlah elemen mahasiswa disebut menenangkan massa agar situasi tidak berkembang menjadi tindakan main hakim sendiri.

Septia menegaskan alasan upaya penenangan tersebut. “Karena takut terjadi tindak kekerasan lain terhadap pelaku dan membuat masalah menjadi lebih besar lagi,” lanjut Septia.

Langkah penanganan diarahkan agar persoalan dapat berjalan melalui jalur yang semestinya. Pihak kampus dan mahasiswa berupaya membawa isu tersebut ke proses hukum, bukan menyelesaikannya secara langsung di lokasi.

Dalam perkembangan berikutnya, terduga pelaku disebut telah ditangani aparat kepolisian. Septia menyatakan, “BEM KM dan elemen lain akan mengawal prosesnya,” ucapnya.

Sementara massa sempat memanas di lokasi, fokus kemudian dialihkan pada pengendalian situasi dan penyerahan persoalan kepada pihak berwenang. Dengan begitu, kepastian proses tetap ditangani aparat, sejalan dengan upaya pencegahan agar kekerasan tidak bertambah.

Kasus ini juga memperlihatkan bagaimana penyebaran informasi viral dapat dengan cepat mengubah situasi di lingkungan kampus. Dari dugaan percakapan yang beredar, perhatian publik berkembang menjadi pengepungan lokasi, hingga akhirnya melibatkan upaya penenangan serta pengawalan proses hukum.

Hingga saat ini, yang menjadi rujukan utama adalah laporan para perempuan yang menerima pesan bernuansa seksual, serta peredaran tangkapan layar percakapan yang kemudian viral. Dugaan pelecehan seksual verbal itu selanjutnya diproses melalui aparat, setelah massa sempat berkumpul dan menuntut kejelasan.

Dalam narasi yang disampaikan, FA adalah terduga pelaku yang diduga mengirim pesan bernada seksual kepada beberapa perempuan. Proses penanganannya kini berada di kepolisian, sementara BEM Unnes bersama elemen mahasiswa menyatakan akan mengawal jalannya perkara.

Dalam situasi yang sempat dibanjiri emosi, sejumlah mahasiswa dan pengurus organisasi kampus diarahkan untuk memastikan kerumunan tidak melebar. Fokusnya pada pengamanan suasana agar tuntutan yang muncul tidak berubah menjadi tindakan agresif yang bisa memperumit keadaan.

Dengan adanya pengarahan tersebut, persoalan kemudian ditata agar kembali pada mekanisme resmi. Ketika pihak berwenang menangani prosesnya, pihak kampus dan elemen mahasiswa menyatakan akan tetap berada di jalur pengawalan, sekaligus memastikan peristiwa yang berawal dari pesan viral tidak berhenti pada keributan di lokasi.