jurnalistik.co.id – Kylian Mbappe dikenal luas sebagai salah satu pesepak bola tercepat dan paling berbakat di dunia saat ini. Kiprahnya terus menjadi sorotan, terutama ketika ia mencatat capaian individu besar di panggung Piala Dunia.
Penyerang Real Madrid itu memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan torehan 22 gol. Meski demikian, langkah Prancis justru harus menerima kekalahan 4-6 dari Inggris pada laga perebutan peringkat ketiga tahun ini.
Di tengah sorotan atas catatan golnya, Mbappe menegaskan bahwa arti sebuah kemenangan tim jauh lebih penting ketimbang rekor pribadi. Ia bahkan berpandangan bahwa gelar individu akan terasa bermakna ketika ia sudah pensiun nanti.
“Saya lebih memilih tidak menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia jika itu berarti saya bisa bermain di pertandingan final besok,” ucap Mbappe, mengutip Kompas.com, Minggu (19/7/2026).
Di balik performa yang konsisten, Mbappe disebut menerapkan pola hidup yang disiplin untuk menjaga tubuh tetap bugar. Dalam pembahasan yang sama, ia disebut memiliki persentase lemak tubuh yang sangat rendah serta menjalankan rutinitas latihan yang sangat terstruktur.
Latihan yang dimulai dari dasar kebugaran
Program olahraga Mbappe tidak berjalan monoton. Ia memastikan sesi latihannya berubah secara berkala agar tetap selaras dengan target kebugaran terkininya.
Biasanya, sesi diawali peregangan dasar. Setelah itu, ia beralih ke aktivitas seperti bersepeda atau berlari untuk menjaga stamina sebelum masuk ke latihan yang lebih spesifik.
Kelincahan, kecepatan, dan respons kaki
Bagian berikutnya menekankan latihan kelincahan dan kecepatan. Mbappe melakukan lari bolak-balik serta latihan halang rintang untuk melatih respons kaki dan kemampuan mengubah arah gerak dengan cepat.
Berita Terkait
Jenis pergerakan yang beragam digunakan untuk mengasah respons saat pertandingan menuntut perubahan ritme. Tujuannya adalah membuat tubuh siap merespons situasi secara cepat, baik saat harus bergerak melaju maupun saat perlu mengubah posisi dengan presisi.
Penguatan otot melalui latihan beban
Selain kerja pada aspek kelincahan, Mbappe juga menjalani latihan beban untuk membentuk otot. Ia melakukan angkat beban sebanyak lima kali seminggu.
Dua hari difokuskan untuk melatih otot kaki, sementara sisanya dibagi rata untuk area tubuh lain. Dengan pembagian itu, ia melatih dada, punggung, bahu, dan lengan secara bergantian agar proporsi kekuatan tubuh tetap terjaga.
Untuk menunjang stabilitas saat bergerak dan berakselerasi, ia juga rutin melatih otot perut. Aktivitas ini dilakukan setidaknya tiga kali seminggu.
Pola makan ketat yang disusun dalam enam porsi
Asupan gizi menjadi bagian penting dari kedisiplinan yang dijalankan Mbappe. Ia mengadopsi gaya hidup disiplin dengan mengonsumsi enam porsi makan sehat setiap harinya.
Yang ditekankan bukan sekadar jumlah, tetapi konsistensi dan pengendalian diri. Mbappe disebut membatasi diri serta hampir tidak pernah menyempatkan waktu untuk hari bebas diet, meski godaan semacam itu lazimnya sulit dihindari bagi banyak orang.
Dengan kombinasi persentase lemak tubuh yang sangat rendah, latihan yang terstruktur, dan pola makan yang ketat, Mbappe menjaga performanya agar tetap berada pada level yang ia butuhkan. Rutinitas tersebut tampak dirancang bukan untuk jangka pendek, melainkan untuk menopang kebutuhan fisik seorang penyerang dalam pertandingan yang menuntut kecepatan serta kekuatan.
Dengan pendekatan yang terencana, rangkaian latihan Mbappe dibangun dari kebutuhan yang saling melengkapi. Setelah bagian dasar, ia mengarah ke kerja stamina melalui aktivitas aerob, kemudian fokus pada gerak cepat dan perubahan arah, sebelum ditutup dengan penguatan otot.
Di sisi lain, pengaturan pola makan juga tidak sekadar soal kuantitas. Asupan yang dibagi menjadi enam porsi membantu menjaga konsistensi dan pengendalian diri, sehingga kondisi fisik—termasuk persentase lemak tubuh yang disebut sangat rendah—tetap mendukung tuntutan pertandingan yang menuntut kecepatan.












