Internasional

Kunjungan Monyet Salju di Jepang Dibatasi, Usai Lonjakan Pengunjung dan Perilaku Bandel

×

Kunjungan Monyet Salju di Jepang Dibatasi, Usai Lonjakan Pengunjung dan Perilaku Bandel

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kunjungan Monyet Salju di Jepang Dibatasi Usai Banyak Wisatawan Bandel

jurnalistik.co.id – Pengelola Jigokudani Yaen-Koen, taman monyet salju di Jepang yang terkenal dengan kera Jepang liar berendam di mata air panas, akan membatasi jumlah pengunjung harian. Langkah ini diambil setelah lonjakan wisatawan dan meningkatnya perilaku buruk pengunjung di lokasi.

Taman Jigokudani Yaen-Koen berada di sebuah lembah dengan ketinggian sekitar 850 meter di wilayah Nagano, Jepang tengah. Di tempat itu, kera Jepang liar secara teratur mandi di air panas vulkanik yang berada di lokasi.

Di laman resminya, pengelola menjelaskan pengalaman di musim dingin. “Pada hari-hari musim dingin yang dingin dan bersalju, banyak monyet terlihat berendam di mata air panas, beberapa di antaranya selama berjam-jam”.

Taman ini disebut-sebut sebagai “surga monyet”. Ia diklaim sebagai satu-satunya tempat di dunia yang menawarkan pemandangan seperti itu, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Jumat (26/6/2026).

Beberapa tahun terakhir, jumlah wisatawan yang berkunjung mengalami peningkatan tajam dan sebagian besar di antaranya merupakan wisatawan mancanegara. Disebutkan pula bahwa, pada kondisi tertentu, jumlah pengunjung dapat mencapai 3.000 hingga 4.000 orang per hari.

Pengelola menyebut antrean menjadi salah satu masalah yang makin terasa. “Kami telah melihat antrean pengunjung yang sangat panjang menunggu di luar loket tiket. Untuk mengurangi hal itu, kami akan meminta mereka membeli tiket terlebih dahulu secara online,” kata seorang pejabat yang enggan disebutkan namanya.

Pergeseran menuju sistem pemesanan online direncanakan mulai berjalan pada Agustus. Dalam rencana tersebut, kemungkinan pembatasan jumlah pengunjung mencapai 2.000 orang per hari juga disebutkan sebagai opsi untuk mengendalikan kepadatan.

Bersamaan dengan lonjakan pengunjung, insiden perilaku buruk ikut meningkat. Di antara bentuk pelanggarannya adalah upaya memberi makan atau menyentuh monyet.

Lebih jauh, beberapa pengunjung bahkan mencoba mandi bersama hewan-hewan tersebut. Pengelola menindaklanjuti situasi ini sebagai bagian dari alasan pembatasan, karena perilaku tersebut berpotensi mengganggu rutinitas satwa yang berada di lokasi.

Lonjakan wisatawan di Jepang disebut terjadi dalam konteks yang lebih luas. Sekitar 42,7 juta wisatawan mengunjungi Jepang pada 2025, yang disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang masa, dan salah satu pemicunya adalah nilai tukar yen yang lemah sehingga destinasi di “daftar impian” makin menarik.

Di sejumlah tempat wisata, keluhan soal kepadatan juga terus bermunculan. Di Kyoto, misalnya, beberapa turis dianggap mengganggu para penari geisha berkimono saat mereka berupaya berfoto.

Peristiwa serupa turut memengaruhi agenda wisata di wilayah lain. Pada Februari, festival bunga sakura di Fujiyoshida yang menawarkan pemandangan Gunung Fuji dibatalkan setelah warga mengeluh bahwa “kehidupan tenang” mereka terancam.

Kota di Jepang tengah itu juga melaporkan persoalan lain di luar keramaian, termasuk kemacetan lalu lintas kronis, puntung rokok yang dibuang sembarangan, pelanggaran batas wilayah, dan keluhan wisatawan yang membuang air besar di kebun pribadi.

Dengan pembatasan jumlah pengunjung yang akan diterapkan di Jigokudani Yaen-Koen, pengelola berharap pengaturan kedatangan dapat meredam antrean panjang serta menekan perilaku yang dinilai tidak pantas terhadap satwa di lokasi. Rencana pembelian tiket secara online mulai Agustus diharapkan membantu menata alur pengunjung sejak awal.

Dengan pembatasan jumlah pengunjung dan pengalihan penjualan tiket ke sistem pemesanan daring, pengelola berupaya mengubah pola kedatangan yang sebelumnya bertumpu pada loket saat hari kunjungan. Antrean yang mengular di luar loket diharapkan bisa berkurang karena kedatangan tiap kelompok menjadi lebih terukur. Selain itu, rencana pembatasan hingga sekitar 2.000 orang per hari dipandang sebagai opsi untuk menjaga kepadatan tetap terkendali.

Langkah serupa juga muncul dalam lanskap pariwisata Jepang yang sedang menghadapi keluhan terkait keramaian. Di Kyoto, gangguan terhadap para penari geisha saat mereka berupaya berfoto ikut menambah keresahan. Di tempat lain, festival bunga sakura di Fujiyoshida pernah dibatalkan setelah warga mengeluhkan terganggunya suasana tenang. Di Jigokudani Yaen-Koen sendiri, kekhawatiran itu diperkuat oleh meningkatnya perilaku buruk pengunjung yang berpotensi mengacaukan rutinitas satwa.