Internasional

Gempa Venezuela: Korban Tewas Mencapai 920 Orang, Puluhan Ribu Masih Hilang

×

Gempa Venezuela: Korban Tewas Mencapai 920 Orang, Puluhan Ribu Masih Hilang

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Jumlah korban tewas akibat gempa di Venezuela terus bertambah. Pada Jumat (26/6/2026), angka itu mencapai 920 orang, sementara puluhan ribu lainnya dilaporkan masih hilang.

Sejak bencana melanda, proses pencarian korban selamat berjalan dalam tempo yang lambat. Tim penyelamat internasional disebut terus meningkatkan upaya, namun tantangan di lapangan masih besar.

Menurut laporan AFP, kepala bantuan PBB Tom Fletcher mengatakan lebih dari 50.000 orang dinyatakan hilang setelah dua gempa dahsyat mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) malam. Dua guncangan tersebut meratakan bangunan di bagian utara negara itu.

Warga Caracas juga menunjukkan kemarahan mereka terhadap respons resmi. Dalam kunjungan Delcy Rodriguez ke lingkungan yang hancur, warga disebut mencemooh dan melampiaskan kekesalan karena kurangnya langkah penanganan yang dirasakan di area terdampak.

Dampak terberat di La Guaira dekat Caracas

Di antara wilayah yang paling parah, daerah pesisir La Guaira—yang berdekatan dengan ibu kota Caracas—menjadi titik terberat dampak. Bangunan-bangunan runtuh satu demi satu akibat gempa dengan kekuatan M 7,2 dan M 7,5.

Akses ke zona bencana dilaporkan akan dibatasi mulai pukul 8 malam waktu pada Jumat. Pembatasan ini diumumkan Menteri Dalam Negeri Diasdado Cabello melalui siaran televisi.

Langkah pembatasan akses muncul di tengah kebutuhan evakuasi dan pencarian yang terus berlangsung. Di lapangan, upaya penyelamatan menghadapi keterbatasan sarana dan kondisi bangunan yang banyak telah hancur.

Tim penyelamat dari Chile disebut tiba di sebuah kompleks perumahan di La Guaira. Kompleks tersebut terdiri dari empat gedung tinggi dan menampung ratusan apartemen yang sebagian besar telah berubah menjadi puing-puing.

Pada lokasi itu, situasi disebut sangat berat. Pemimpin tim penyelamat Nadiomar Polanco menyatakan, “Sayangnya, bangunan itu runtuh total, dan kecil kemungkinan menemukan korban selamat. Upaya sekarang difokuskan pada evakuasi jenazah para korban meninggal,” kata Nadiomar Polanco di lokasi kejadian.

Pencarian korban lambat, keluarga mengandalkan tangan kosong

Di beberapa titik, anggota keluarga, tetangga, dan sukarelawan mencoba menggali reruntuhan menggunakan tangan kosong. Mereka berupaya mencari kemungkinan adanya korban yang masih hidup di bawah bangunan yang runtuh.

Sejumlah warga menyesalkan kurangnya alat berat maupun bantuan resmi untuk menolong korban yang terjebak hidup-hidup. Di tengah keterbatasan itu, upaya penyelamatan bergerak dengan metode manual yang melelahkan.

Marjosly Salazar (40) menggambarkan kepedihan situasi yang ia hadapi. Ia mengatakan, “Saya mencari Gael kecil saya, dia baru berusia lima bulan,” sambil menuturkan bahwa putrinya yang berusia 16 tahun meninggal dalam gempa tersebut.

Ia kemudian menegaskan kebutuhan mendesak di lapangan. “Tolong, kami butuh bantuan di sini. Kami butuh mesin untuk mulai mengangkat tiang-tiang penyangga. Kami belum melihat satu pun pejabat pemerintah di sini, sama sekali tidak ada,” sambungnya.

Penggambaran ini mencerminkan jarak antara kebutuhan di lokasi bencana dan respons yang dirasakan masyarakat. Di tengah proses penggalian, minimnya alat berat membuat peluang penyelamatan sangat bergantung pada ketekunan orang-orang yang bekerja secara manual.

Kemarahan warga dan suasana penanganan di Caracas

Di lingkungan kelas atas Caracas, kerumunan warga dikabarkan menyambut Delcy Rodriguez dengan teriakan marah. Banyak dari mereka kehilangan orang terkasih yang dikabarkan terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

Dalam situasi itu, warga menuding pemerintah tidak bertindak cukup cepat. “Pemerintah tidak melakukan apa pun untuk rakyat,” teriak mereka dari balik barisan pengamanan di samping bangunan yang hancur lebur.

Pekerjaan penyelamatan di reruntuhan dilakukan dengan alat seperti palu godam. Para pekerja juga diminta menyerukan keheningan mutlak demi mendeteksi teriakan dari para penyintas.

Suasana di lokasi terdengar dipenuhi ketegangan: di satu sisi kebutuhan untuk bergerak cepat, di sisi lain upaya menjaga kondisi agar suara dari korban dapat terdeteksi. Saat tim bergerak, keluarga dan warga sekitar terus menunggu tanda-tanda dari bawah puing-puing.

Dengan korban tewas yang telah mencapai 920 orang dan puluhan ribu lainnya masih hilang, pencarian dan evakuasi masih akan menjadi pekerjaan panjang. Tim penyelamat internasional melanjutkan upaya, sementara pembatasan akses serta keterbatasan sarana terus memengaruhi dinamika penanganan di berbagai titik dampak.