jurnalistik.co.id – Partai Liberal Demokrat (Lib Dem) menghadapi permintaan agar ada penyelidikan independen terkait pencoretan seorang calon menjelang pemilu. Mantan jurnalis BBC, David Campanale, menggugat proses pendeseleksian itu dan partai mengakui terjadi diskriminasi yang melanggar hukum berdasarkan keyakinan agamanya.
Di London, sebuah pengadilan sipil akan mulai pekan ini untuk menentukan besaran ganti rugi dan biaya yang seharusnya diterima Campanale. Kasus tersebut muncul setelah Lib Dem dinyatakan menerima klaimnya “sepenuhnya” dalam perkara yang diajukan ke Central London County Court.
Campanale sebelumnya dipilih sebagai calon anggota parlemen prospektif untuk daerah pemilihan Sutton and Cheam pada akhir 2021. Namun, menjelang pemilihan umum pada 2024, ia dicoret dan digantikan oleh Luke Taylor yang kemudian memenangkan kursi tersebut untuk partai.
Kelompok Lib Dem Christian Forum mendorong adanya penyelidikan. John Pugh, juru bicara forum sekaligus mantan anggota parlemen, mengatakan bahwa peluncuran penyelidikan akan mengirim pesan bahwa Lib Dem serius soal diskriminasi.
Dalam proses hukum, Campanale menyampaikan bahwa ia “diejek dan dilecehkan” oleh anggota partai terkait keyakinan Kristen yang dimilikinya. Ia juga menegaskan bahwa keyakinan tersebut dilindungi di bawah Equality Act.
Campanale juga mengklaim ia diberi tahu untuk tidak berkampanye di beberapa wilayah (wards). Menurutnya, penolakan itu datang karena para aktivis di area tersebut tidak menghendaki kehadirannya, dengan alasan mereka tidak sepaham dengan pandangannya tentang “matters of conscience”.
Pengakuan partai dan pertimbangan pengadilan Lib Dem, melalui pernyataan resminya, menerima klaim Campanale itu secara penuh. Sementara itu, juru bicara partai tidak memberikan komentar terhadap perkara yang masih berjalan, namun menyatakan bahwa partai “berisi orang-orang dari semua agama dan tidak beragama”.
Secara terpisah, kasus yang sama turut memunculkan respons dari tokoh internal partai. Tim Farron, mantan pemimpin Lib Dem, menyatakan bahwa sekalipun ia selama ini melihat partai sebagai “tempat yang menyambut semua agama”, tetap terlihat bahwa dalam perkara ini partai “tidak melakukannya dengan benar”.
Farron menegaskan bahwa langkah perbaikan perlu dilakukan agar kejadian seperti itu tidak diperbolehkan terjadi lagi kepada siapa pun dengan karakteristik yang dilindungi, termasuk umat Kristen. Ia juga menyatakan bahwa ia akan terus mendorong partai untuk mengambil langkah tersebut.
Gugatan diskriminasi lain yang disorot Selain persoalan Campanale, Lib Dem juga menghadapi sorotan dari kelompok Liberal Voice for Women. Kelompok yang menyatakan bergerak untuk memastikan hak, representasi, dan suara perempuan berbasis seks dihormati itu mengancam akan mengangkat isu diskriminasi internal ke Equality and Human Rights Commission.
Zoe Hollowood, ketua kelompok tersebut, menulis kepada chief executive partai, Mike Dixon. Dalam suratnya, ia berargumen bahwa keluhan yang diajukan oleh pihaknya kerap diabaikan, sementara keluhan terhadap mereka “rutin” diproses.
Equality Act melindungi agama atau keyakinan, termasuk sikap gender-critical, dari diskriminasi. Aturan itu berlaku untuk Great Britain, sementara Irlandia Utara memiliki kerangka hukum kesetaraan yang terpisah.
Surat tersebut juga menyebut batas waktu penyelesaian tinjauan sistem keluhan partai oleh Federal Audit and Scrutiny Committee. Jika peninjauan tidak selesai pada September, Hollowood meminta agar prosesnya diserahkan kepada peninjau independen dan selesai sebelum akhir tahun.
Dari informasi yang dipahami, Dixon merespons dengan menyatakan bahwa ia akan memprioritaskan dukungan untuk menyelesaikan tinjauan tersebut. Tahun lalu, Lib Dem juga diperintahkan membayar ÂŁ14.000 kepada Natalie Bird, mantan calon anggota parlemen, yang menyatakan ia didorong keluar dan dilarang maju sebagai anggota parlemen karena pandangan gender-critical-nya.
Pada 2024, seorang peneliti parlemen yang tidak disebutkan namanya menggalang dana lebih dari £11.000 untuk membawa perkara ke employment tribunal. Perkara itu menuduh seorang anggota parlemen Lib Dem yang tidak disebutkan namanya diberhentikan setelah menyampaikan keyakinan bahwa “sex is real, immutable and important”.
Pihak terkait memahami bahwa perkara tersebut kemudian diselesaikan di luar pengadilan. Juru bicara partai juga menegaskan kembali bahwa Lib Dem “berisi orang-orang dari semua agama dan tidak beragama”, termasuk banyak orang Kristen.
Menurut juru bicara tersebut, ada tiga anggota parlemen Lib Dem di kursi-kursi yang bersebelahan dengan Sutton and Cheam yang menjalankan praktik sebagai penganut Kristen, termasuk pemimpin partai Ed Davey.




