jurnalistik.co.id – Semakin banyak perempuan di Inggris memilih hidup tanpa anak, meski sebelumnya banyak yang menganggap keinginan untuk menjadi ibu akan datang “dengan sendirinya”. Laporan penelitian dan kesaksian sejumlah perempuan menunjukkan pilihan itu dibentuk oleh kombinasi tekanan sosial-ekonomi, prioritas hidup, serta kekhawatiran pribadi tentang masa depan.
Jess King, 32 tahun, mengaku selalu mengira memiliki anak adalah jalan yang “natural” untuk perempuan. Namun seiring bertambahnya usia, ia merasakan keraguan yang terus menguat dan membuatnya bertanya pada dirinya sendiri, “It turned into ‘Am I not ready for this, or do I not want this?’”.
Ia mengatakan orang-orang yang ia temui yang sudah memiliki anak sering merasa sangat yakin saat itu, termasuk adanya dorongan keibuan yang kuat. “I didn’t have that and that made me start questioning it.” Bagi Jess, tidak merasakan dorongan seperti itu membuat pertanyaan semakin tidak bisa diabaikan.
Di tingkat yang lebih luas, penelitian Centre for Social Justice (CSJ) memperkirakan sekitar tiga juta perempuan berusia 16 hingga 45 tahun berpotensi tetap childfree. Bila kelompok usia tersebut melanjutkan tingkat memiliki anak seperti generasi kakek-nenek mereka, jumlah perempuan yang memiliki anak akan bertambah sekitar 600.000 orang.
Data Office for National Statistics (ONS) turut memperlihatkan suasana yang semakin menantang. Kelahiran di Inggris dan Wales turun untuk tahun keempat berturut-turut pada 2025, menjadi yang terendah dalam hampir setengah abad.
Tekanan sosial dan ekonomi yang menumpuk
Laporan CSJ menyebut ada “a range of social and economic pressures” yang mendorong angka-angka tersebut. Kenaikan biaya perumahan, tertundanya kemandirian finansial, pernikahan yang terjadi lebih lambat, serta meningkatnya ketidakpastian terkait karier disebut berperan dalam membentuk keputusan perempuan.
Jess sendiri juga menempatkan faktor finansial sebagai pertimbangan utama. Ia tinggal di wilayah barat London bersama pasangannya, Ollie, dan bekerja sebagai pencipta konten dengan status wiraswasta. Penghasilannya, menurutnya, “up and down”, sehingga bila memiliki anak ia khawatir akan semakin sulit menjaga stabilitas hidup.
“There are so many people struggling to get by. Some months, we are really scraping the pennies and it can be difficult.” Dari pengakuan sejumlah perempuan yang diwawancarai, kendala biaya bukan satu-satunya faktor, tetapi bekerja bersama kekhawatiran lain.
Beberapa perempuan menyebut kecemasan tentang perubahan iklim, komitmen yang kuat pada karier, keinginan untuk bepergian, serta rasa bahwa dunia saat ini memberi ruang pilihan yang lebih luas. Bagi Jess dan Chy, 33 tahun, dukungan juga ditemukan lewat komunitas daring yang membangun kehidupan bahagia tanpa anak.
Di TikTok, tag #childfree memuat lebih dari 127.900 video, sementara #childfreebychoice memiliki lebih dari 68.100. Dengan menelusuri konten-konten tersebut, Jess melihat ribuan perempuan membagikan alasan mereka tidak ingin menjadi ibu.
Jess menegaskan media sosial tidak memicu keputusan tersebut sejak awal, tetapi justru “validated it” dan membuatnya lebih nyaman menyampaikan pikirannya. Ia menggambarkan proses itu sebagai sesuatu yang membuat pandangan pribadinya terasa lebih diterima.
Perbedaan dukungan di keluarga dan tekanan budaya
Chy Black, 33 tahun, bekerja sebagai account manager dari Midlands. Ia mengatakan orang-orang terdekat dalam lingkaran kehidupan nyata mendukung keputusannya, tetapi keluarga besarnya tidak memahami pilihannya.
“I come from an African background,” ujarnya, menjelaskan bahwa banyak kerabatnya berasal dari budaya yang menganggap “women are supposed to have kids”. Ia menggambarkan reaksinya menghadapi ide tersebut sebagai sebuah benturan yang besar: “Being someone with resistance to that idea was met with a lot of shock and disbelief.”
Chy tidak merasa nyaman jika harus “responsible for someone else”. Ia menambahkan, “a child would ‘need the love I don’t think I could provide in abundance’.” Prioritasnya, menurutnya, adalah mengejar karier dan bepergian—keduanya ia nilai akan jauh lebih sulit bila memiliki anak.
Karier, biaya pengasuhan, dan sistem cuti orang tua
CSJ menyatakan fokus pada karier menjadi salah satu alasan kunci perempuan memilih untuk tidak punya anak. Laporan itu merujuk pada survei yang melibatkan lebih dari 1.500 perempuan usia 18 hingga 35 tahun yang tinggal di Inggris, dipesan oleh New Social Covenant Unit pada 2023.
Dalam survei tersebut, untuk perempuan yang tidak ingin menjadi ibu, 38% menyebut ingin memajukan karier sebagai alasan utama. Hampir separuh responden juga menyebut biaya pengasuhan yang tinggi sebagai faktor, sementara 41% menyatakan mereka akan ingin pindah ke rumah yang lebih besar jika memiliki anak.
Chy menilai dukungan bagi ibu dinilai belum cukup. Menurutnya, biaya pengasuhan dan sistem parental leave yang berlaku membuatnya “harder for women to live life outside of just being a mum”. Ia mencontohkan sebuah kisah dari temannya yang harus mengurangi jam kerja agar bisa mengurus antar-jemput sekolah.
“If those systems were to change, maybe my decision could have been swayed earlier on,” kata Chy. Ia juga menyebut kondisi itu memperlihatkan bagaimana keputusan perempuan tidak semata persoalan pribadi, tetapi terkait desain kebijakan dan kemampuan sistem menopang pilihan hidup.
CSJ berargumen bahwa Inggris perlu “place greater value on the role of being a mother”, baik dari sisi sosial maupun kebijakan publik. Laporan itu juga menilai bahwa pada abad ke-20, status ibu dipandang lebih tinggi.
Pandangan orang lain dan definisi “default” yang berubah
Sejumlah perempuan yang diwawancarai juga menceritakan adanya tekanan dari orang-orang di sekitar mereka, bahkan dari orang asing di ruang daring. Mereka sering diberi pesan bahwa suatu saat mereka akan berubah pikiran atau bahwa keputusan mereka adalah keputusan yang salah.
Sasha Thomas, 28 tahun, yang bekerja sebagai assistant manager di sebuah cocktail bar, merasakan pengawasan itu lebih tajam di desa kecil tempat ia tinggal. Ia tinggal di Wales dan berkata, “Everyone has kids, has a boyfriend, gets married.” Ia mengaku mengalami “a bit of backlash from people.”
Sasha dan pasangannya, Tom, 31 tahun, lebih memilih menghabiskan uang untuk menjelajahi dunia. Ia mengatakan, “We’re going to the Maldives this year, we definitely couldn’t afford that if we had kids.”
Meski demikian, banyak orang yang ia temui juga menyampaikan bahwa pada tingkat yang lebih luas, mereka merasa memiliki anak tidak lagi harus menjadi “default”. Dengan kata lain, pilihan tanpa anak kini lebih sering dipahami sebagai alternatif yang masuk akal, bukan semata penyimpangan.
Konflik, iklim, dan kebutuhan emosional
Sian, seorang dog trainer, tumbuh dengan keyakinan bahwa memiliki anak adalah sesuatu yang perlu dilakukan, meski ia tidak memiliki “real deep desire to be a mum”. Pada usia 37, ia kini merasa yakin dengan keputusan untuk tetap childfree.
Ia menyebut konflik yang terjadi di Rusia dan Timur Tengah, serta perubahan iklim, turut memengaruhi pilihannya. “Do I want to bring a child into the world the way that it is right now? No. That was the answer and I’ve not changed my mind from that.”
Jess setuju dengan kekhawatiran itu. Ia mengatakan, “Environmentally, is there even going to be much of a world in the future? There’s already so many people on the planet, do I really want to add to that?”
Jess juga menegaskan batas emosionalnya: “I would rather regret not having kids, than have kids and regret them.” Ia menambahkan bahwa bila lahir di generasi yang berbeda, ia mungkin tetap akan mempunyai anak meski merasakan hal yang sama saat ini, namun ia akan menghadapi “more pressure and more expectation to go along with it.”
Sian, yang tinggal di Staffordshire, memiliki dua anjing jenis lurcher bernama Bonnie dan Oliver. Ia berkata, “I’m happy with my dogs.” Menurutnya, ia merawat mereka dan memandangnya sebagai keluarga.
Ia menutup dengan pandangan bahwa ia “care for them and they’re family to me.” Ia juga menyatakan, “I’m passionate about what I do and it meets an emotional need that I have. Maybe for others, a child meets that need.”











