Internasional

Gempa Venezuela: Dua Bocah Diselamatkan dari Reruntuhan Setelah Terkubur Berhari-hari

×

Gempa Venezuela: Dua Bocah Diselamatkan dari Reruntuhan Setelah Terkubur Berhari-hari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Venezuela earthquake: Two boys rescued from rubble after days of being trapped

jurnalistik.co.id – Upaya penyelamatan di Venezuela masih terus berlangsung meski dua gempa besar sudah memakan waktu berhari-hari. Harapan itu kembali muncul saat dua bocah berusia 11 tahun diselamatkan dari reruntuhan bangunan yang runtuh.

Penyelamatan pertama terjadi dalam beberapa jam setelah peristiwa awal, lalu disusul kabar penyelamatan kedua yang datang tak lama kemudian. Keduanya ditemukan setelah keluarga dan tim pencarian berjuang menembus puing yang menutupi lokasi bencana.

Bocah pertama bernama Moises. Rekaman menunjukkan Moises ditarik dari tumpukan reruntuhan yang tertekuk, dengan matanya tertutup agar terlindung dari sinar matahari, sementara penyelamat menerima tepuk tangan dari orang-orang di sekitar lokasi.

Beberapa jam kemudian, Presiden interim Delcy RodrĂ­guez mengumumkan penemuan bocah lain yang juga berusia 11 tahun. Ia memposting video penyelamatan tersebut di X, memperlihatkan bocah itu dibawa menggunakan tandu menuruni hamparan besar reruntuhan.

Gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 terjadi pada hari Rabu. Pejabat kemudian mengonfirmasi sedikitnya 1.430 kematian, sementara puluhan ribu orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Jarak kedua kejadian gempa hanya 39 detik. Runtuhan yang ditimbulkannya membuat ratusan bangunan ambruk, dan banyak orang masih terjebak di dalam struktur yang hancur.

Sejak gempa pertama, sudah lebih dari 85 jam. Tim penyelamat menyatakan bahwa mereka belum menyerah, dengan alasan masih ada kemungkinan korban selamat terutama bila mereka masih memiliki akses makanan dan air di bawah puing.

Di lapangan, keluarga-keluarga yang putus asa menggali puing dengan tangan mereka sendiri. Sejumlah orang melaporkan kepada BBC bahwa mereka mendengar suara di bawah reruntuhan, tetapi tidak mampu menggeser lempengan beton yang berat.

Dalam kondisi seperti itu, banyak warga menunggu kehadiran alat berat. Ketika mesin dan tenaga teknis belum tiba, pencarian sering berjalan lambat meski sinyal kehidupan terdengar.

Dari pihak badan penanggulangan bencana Kolombia, UNGRD menyampaikan Moises terkubur sekitar 3 meter di bawah reruntuhan. Tim penyelamat membutuhkan enam jam untuk melakukan pekerjaan “high-precision work” pada hari Sabtu demi menjangkau bocah tersebut.

Reuters melaporkan bahwa seorang penyelamat sempat terdengar berbicara melalui radio HT mengenai penemuan bocah itu. Dalam laporan itu, bocah ditemukan berada dekat dengan kakaknya dan ibunya, yang keduanya dinyatakan meninggal.

Kabar penyelamatan kedua datang dari wilayah Caraballeda di kawasan pesisir La Guaira. Rodríguez menuliskan, “In these hours, every life is hope for Venezuela,” sambil menunjukkan video yang mengarah pada proses penyelamatan tersebut.

Pejabat menyebut kawasan pesisir La Guaira menjadi yang paling terdampak. Di tengah upaya pencarian, gempa susulan juga ikut menghambat kegiatan karena membuat warga merasa tidak aman.

Seorang pengemudi bus berusia 64 tahun, JesĂşs Andueza, mengatakan, “To be honest, it makes you feel kind of nervous. Any little noise… horrible.” Kekhawatiran itu membuat banyak orang memilih tinggal jauh dari bangunan yang berpotensi runtuh kembali.

Ribuan orang bertahan di dalam mobil atau berkemah di area seperti bandara dan lapangan golf. Langkah ini diambil karena mereka berharap bisa selamat bila terjadi getaran susulan.

Lapangan golf di Caraballeda berubah menjadi pusat respons darurat. Area hijau yang sebelumnya tertata rapi kini berfungsi sebagai rumah sakit darurat sekaligus tempat penerimaan bantuan.

Di sana, warga yang kehilangan banyak hal menyaring tumpukan pakaian sumbangan dan kotak bantuan kemanusiaan. Di bagian lain lapangan golf, dekat sebuah kolam kecil, disiapkan juga lahan landasan bagi helikopter yang membawa perlengkapan serta tenaga medis dan penyelamat.

Aktivitas di sekitar pusat respons tampak kontras dengan suasana sebelumnya. Jalan-jalan di kawasan sekitar lapangan golf retak, tertutup reruntuhan, dan dipenuhi debu serta kesunyian, hanya sesekali dipecah oleh suara alat berat dan orang-orang yang mencari korban di antara puing.

Milagros González, yang tinggal di Caribe, menceritakan bahwa bangunannya termasuk sedikit yang tidak ambruk. Ia mengatakan ia melarikan diri secepat mungkin untuk berlindung di lapangan golf.

“I left with my two young daughters and my two elderly relatives. But thank God we got out alive. The building can’t be lived in. But we’re alive, which is what matters,” ujarnya. González juga mengaku ketika ia berbaring, ia mudah pusing dan terus membayangkan seolah-olah masih ada getaran.

“A psychologist just told me that it’s part of the process,” katanya. Sementara itu, dua anak perempuannya bermain dengan boneka di atas kasur di rumput.

Dalam pesan video pada hari Minggu, Rodríguez menyatakan kompleks olahraga José María Vargas di La Guaira juga berfungsi sebagai pusat respons darurat. Ia menyinggung bahwa pasukan bersenjata membantu menata distribusi pakaian, obat, dan makanan.

Rodríguez menyebut, “everything is functioning as well as possible during these terrible moments, these terrible hours, that our people are enduring”. Ia juga menambahkan, “Let them know that no one here is alone, not a single family or individual need [to] feel alone. Our people and our state are here, the social protection system is here, and international solidarity is here.”

Di sisi lain, muncul pula rasa frustrasi. Sejumlah pihak menilai respons pemerintah terlalu lambat dan tidak efisien, terutama di wilayah paling parah seperti Caribe dan Tanaguarena.

Di beberapa area tersebut, pembersihan reruntuhan bahkan belum dimulai. Kondisi ini menambah beban pencarian karena akses menuju lokasi yang tertimbun menjadi semakin sulit.

Dalam beberapa hari terakhir, tim penyelamat internasional juga tiba untuk memperkuat operasi pencarian. Mereka datang dari Meksiko, Spanyol, Qatar, Amerika Serikat, dan Inggris.

Tom Fletcher dari PBB menyampaikan pada hari Sabtu bahwa “39 search and rescue teams” telah dikerahkan dari berbagai belahan dunia. Setiap tim beranggotakan 50 hingga 100 orang.

Fletcher mengatakan, “You’re looking at almost 2,000 people surging in, 111 dogs, medical teams as well.” Ia juga menjelaskan penggunaan perangkat mikro-drone, yang disebut “cockroach drones”, untuk membantu menemukan orang-orang di dalam bangunan.

Di tengah kondisi yang terus berubah akibat gempa susulan, penyelamatan terhadap Moises dan bocah kedua menjadi penanda bahwa pencarian masih layak dilanjutkan. Harapan itu bertumpu pada kecepatan akses, alat yang memadai, serta kemampuan tim untuk bekerja presisi di tengah reruntuhan.