jurnalistik.co.id – Mahasiswa Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) Al Fiqie meneken nota kesepahaman (MoU) ekspor produk pertanian ke China senilai Rp 33 miliar. Penandatanganan dilakukan di tengah rangkaian kegiatan kampus, saat Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso alias Busan hadir di IPB, Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (12/6/2026).
Al Fiqie disebut berperan sebagai CEO PT Export Tani Nusantara yang sebelumnya dilibatkan dalam pameran produk pangan SIAL Shanghai 2026 di China. Dari pameran tersebut, ia membawa kerja sama ekspor yang ditargetkan memperluas pasar produk pertanian Indonesia.
Mendag Busan mengatakan capaian itu menjadi bukti bahwa Indonesia tetap bisa mendorong ekspor meski dunia sedang dihadapkan pada gejolak geopolitik. “Kemarin yang di China kan diajak pameran itu dapat transaksi Rp 33 miliar,” kata Busan saat menghadiri acara Campuspreneur di IPB.
MoU ekspor dan komoditas yang dibawa
Dalam pameran di Shanghai, Al Fiqie menyampaikan bahwa pihaknya berhasil menandatangani MoU empat produk komoditas pertanian. Berat produk yang dibawa mencapai 54 ton.
Ia merinci komoditas tersebut, yaitu arabica beans, vanilla beans, cocoa beans, dan pinang. “Salah satunya arabica beans , kemudian ada vanilla beans , ada cocoa beans dan juga pinang,” ujar Al Fiqie.
Menurutnya, partisipasi PT Export Tani Nusantara di Shanghai difasilitasi oleh Kementerian Perdagangan. Hal itu menjadi dukungan yang memungkinkan pengusaha muda tersebut menjalin kesepakatan ekspor di luar negeri.
Al Fiqie juga menyampaikan bahwa perusahaan telah mulai mengekspor produk pertanian sejak 2022, ketika ia masih berada di semester tiga. Pada periode awal, ekspor berjalan dengan skema yang relatif terbatas.
Ia menjelaskan, “Mulanya, ekspor hanya satu kontainer per tiga bulan.” Seiring berjalannya waktu, kapasitas ekspor meningkat dan berpengaruh pada frekuensi pengiriman ke pasar luar negeri.
“Sekarang sudah 5 sampai 6 kontainer per bulannya,” kata Al Fiqie, menegaskan adanya kenaikan volume ekspor dari tahap awal hingga saat ini.
Ekspansi pasar: dari beberapa negara hingga strategi tarif
Selain menargetkan China, Al Fiqie menyebut bahwa ekspor juga sudah dilakukan ke Maladewa dan Bangladesh. Total nilai ekspor produk pinang ke dua negara tersebut mencapai Rp 2,2 miliar.
Busan menuturkan bahwa pemerintah sebenarnya ingin agar produk Al Fiqie bisa menembus pasar India. Namun, rencana itu tidak segera terwujud karena tarif bea masuk produk impor di negara tersebut masih tinggi.
“Sementara itu, pemerintah terus melakukan negosiasi dengan pemerintah India agar mendapatkan tarif impor yang lebih rendah,” ujar Busan. Pemerintah mengupayakan penyesuaian agar ekspor ke India dapat berjalan dengan biaya yang lebih kompetitif.
Dalam konteks sementara, Busan menjelaskan arah pemilihan pasar dilakukan melalui negara yang memiliki peluang dagang lebih terbuka. “Sementara bisa lewat Bangladesh misalnya atau juga Sri Lanka karena mereka punya perjanjian dagang dengan India,” katanya.
Dengan mempertimbangkan perjanjian dagang dan kondisi tarif, strategi ekspor kemudian mengarah pada beberapa negara tetangga. Alur ini menunjukkan upaya menyeimbangkan target jangka panjang dengan peluang pasar yang lebih segera bisa dijangkau.
Penandatanganan MoU ekspor Rp 33 miliar ke China oleh Al Fiqie memperlihatkan bagaimana dukungan institusional dan partisipasi pameran internasional dapat membuka akses kerja sama baru. Di sisi lain, pengalaman ekspor sejak 2022—dari satu kontainer per tiga bulan hingga 5 sampai 6 kontainer per bulan—menegaskan konsistensi pelaku usaha dalam membangun volume dan kepercayaan pasar.
Di tengah sambutan Mendag Busan terkait tantangan global, capaian di IPB menempatkan kerja sama ekspor sebagai bagian dari narasi penguatan kemampuan domestik. MoU tersebut sekaligus menjadi wujud bahwa produk pertanian yang dibawa dapat menemukan peluang di pasar luar negeri melalui promosi, negosiasi, serta fasilitasi dari pemerintah.












