jurnalistik.co.id – Ketergantungan perdagangan Indonesia pada China mencatat kenaikan yang menonjol. UNCTAD melaporkan porsi perdagangan bilateral Indonesia–China meningkat 3,3 persen dalam empat kuartal terakhir, sekaligus menjadi kenaikan terbesar di antara negara-negara yang dipantau.
Kondisi ini muncul saat peta perdagangan global bergeser seiring ketegangan geopolitik dan perubahan pola rantai pasok. UNCTAD menuliskan temuan tersebut dalam laporan Global Trade Update: July–August 2026 yang diterbitkan pada Juli 2026.
Indikator ketergantungan yang dipakai UNCTAD
Dalam laporan itu, UNCTAD menjelaskan ketergantungan perdagangan dihitung dari besarnya porsi perdagangan bilateral terhadap total perdagangan suatu negara. Artinya, semakin besar kontribusi perdagangan Indonesia dengan China terhadap total ekspor dan impor nasional, semakin tinggi tingkat ketergantungan yang tercermin.
Kenaikan 3,3 persen dihitung dengan pendekatan rata-rata empat kuartal. Periode yang dipakai adalah kuartal II 2025 hingga kuartal I 2026, kemudian dibandingkan dengan rata-rata empat kuartal sebelumnya.
UNCTAD juga menempatkan temuan ini dalam konteks perubahan hubungan antarnegara. “Fragmentasi geoekonomi tercermin dalam perubahan saling ketergantungan perdagangan antarnegara,” demikian bunyi pernyataan dalam laporan tersebut.
Menurut UNCTAD, hubungan ketergantungan perdagangan Indonesia dengan China bergerak lebih kuat dibandingkan negara lain dalam daftar yang dipublikasikan. Sementara itu, arus ketergantungan pada hubungan Amerika Serikat dan China justru menunjukkan pelemahan.
“Hubungan ketergantungan perdagangan antara Amerika Serikat dan China melemah,” disebut dalam laporan yang sama. Sebaliknya, sejumlah negara di Asia Timur serta Asia Tenggara memperlihatkan indikasi ketergantungan yang semakin besar terhadap China dan Amerika Serikat, meski arahnya berbeda-beda antarnegara.
Perdagangan global tetap naik, tetapi dipacu harga
Berita Terkait
Laporan Global Trade Update: July–August 2026 juga memotret gambaran perdagangan dunia pada semester pertama 2026. UNCTAD memperkirakan nilai perdagangan barang global berada di kisaran 13,7 triliun dollar AS pada paruh pertama 2026.
Angka tersebut dinilai meningkat 12,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun UNCTAD menekankan bahwa kenaikan itu tidak sepenuhnya berasal dari bertambahnya volume perdagangan.
Dalam analisisnya, UNCTAD menyebut kenaikan lebih banyak dipicu oleh kenaikan harga. “Sebagian besar kenaikan tersebut mencerminkan harga yang lebih tinggi, bukan peningkatan volume perdagangan.” Dengan kata lain, nilai perdagangan global meningkat karena barang menjadi lebih mahal, bukan semata karena jumlah barang yang diperdagangkan bertambah.
UNCTAD mengaitkan dinamika harga dengan tekanan rantai pasok dan biaya yang meningkat. Salah satu faktor yang disorot adalah gangguan pelayaran di Selat Hormuz, yang turut memperkuat kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan energi global.
Ketika biaya transportasi dan logistik membesar, biaya produksi di berbagai rantai pasok internasional ikut tertekan. Dampaknya, inflasi perdagangan global kemudian ikut bergerak dan menghasilkan proyeksi yang lebih tinggi pada kuartal berikutnya.
Proyeksi inflasi perdagangan global
UNCTAD mencatat inflasi perdagangan global sebesar 3,6 persen secara kuartalan pada kuartal I 2026. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi sekitar 5,1 persen pada kuartal II 2026.
Proyeksi tersebut menggambarkan bahwa tekanan harga masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Meski perdagangan barang secara nilai tetap menunjukkan pertumbuhan, kualitas pertumbuhannya lebih banyak ditopang pergerakan harga ketimbang ekspansi volume.
Dalam kerangka itulah peningkatan ketergantungan perdagangan Indonesia terhadap China menonjol. Jika porsi perdagangan bilateral terhadap total perdagangan kian membesar, perubahan tersebut tidak hanya menggambarkan preferensi mitra dagang, tetapi juga menggambarkan bagaimana fragmentasi geoekonomi memetakan ulang saling ketergantungan antarnegara.
UNCTAD menempatkan temuan tersebut sebagai bagian dari perubahan yang lebih luas pada arsitektur perdagangan dunia. Di saat sebagian hubungan ketergantungan melemah, sebagian lainnya menguat, termasuk dalam kasus hubungan Indonesia–China yang naik 3,3 persen dalam empat kuartal terakhir.












