jurnalistik.co.id – Mantan juara Wimbledon, Marketa Vondrousova, dijatuhi larangan empat tahun setelah menolak tes anti-doping pada Desember 2025. Keputusan itu diumumkan setelah tribunal ITIA menilai penolakannya tidak memiliki alasan yang dapat diterima.
Vondrousova, 26, dituduh oleh International Tennis Integrity Agency (ITIA) setelah menolak memberi akses kepada petugas kontrol doping untuk melakukan tes di rumahnya. Penolakan tersebut terjadi pada Desember 2025, ketika Vondrousova tidak mengizinkan petugas masuk untuk melaksanakan pengambilan sampel.
Pada April lalu, atlet asal Ceko itu menyatakan ia merasa khawatir terhadap keselamatannya. Ia juga mengatakan petugas tidak mengikuti “protocol” saat mendatangi rumahnya, sehingga ia menolak untuk mengikuti prosedur tes.
Namun, tribunal tetap menjatuhkan sanksi. Dalam pertimbangannya, tribunal menyimpulkan Vondrousova memberikan “no compelling justification” (tidak ada alasan yang benar-benar meyakinkan) untuk menolak tes yang dimaksud.
Dengan demikian, masa skors Vondrousova dijadwalkan berakhir pada 21 Juni 2030. Meski demikian, ia memiliki hak untuk mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport (Cas).
Vondrousova menjadi sorotan karena ia adalah petenis pertama yang berstatus nonunggulan (unseeded) untuk memenangkan gelar tunggal putri Wimbledon pada 2023. Di luar Wimbledon, ia juga pernah menjadi finalis Prancis Terbuka pada 2019, namun pada periode ini ia tidak tampil kompetitif sejak Januari.
Akibat tidak berlaga, peringkat Vondrousova turun hingga berada di posisi 122. Pada persidangan, ia menguraikan bahwa stres dan kondisi kesehatan mental yang buruk memengaruhi cara pengambilan keputusannya.
ITIA menilai bahwa alasan yang diajukan Vondrousova tidak memenuhi standar pembenaran yang “compelling”. Dalam penilaian itu, keselamatan dan kekhawatiran yang disampaikan tidak cukup untuk membenarkan tindakan penolakan terhadap prosedur tes doping.
CEO ITIA, Karen Moorhouse, menjelaskan bahwa meski proses tes memang tidak nyaman bagi atlet, langkah tersebut tetap diperlukan untuk menjaga integritas olahraga. Menurut Moorhouse, perlindungan terhadap persaingan yang adil adalah hal mendasar dalam sistem anti-doping.
Ia mengatakan, “it is essential to protect fair competition”. Moorhouse menambahkan bahwa keselamatan dan kesejahteraan pemain serta para petugas tes adalah prioritas utama. Ia juga menegaskan bahwa petugas tes telah terlatih, profesional, dan saksi tes memiliki kecocokan gender dengan pemain.
Moorhouse menambahkan, “They carry ID at all times” dan pemain dapat memverifikasi identitas petugas melalui cara lain bila merasa ragu. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap kekhawatiran Vondrousova mengenai identifikasi petugas ketika datang.
Vondrousova sendiri menyatakan ia merasa takut ketika petugas mendatangi pintu rumahnya pada malam hari. Ia menuturkan petugas tidak melakukan identifikasi dengan benar dan tidak mengikuti prosedur yang semestinya.
Dalam keterangannya, Vondrousova menegaskan bahwa situasi saat itu lebih berkaitan dengan rasa aman. Ia menyatakan, “In that moment it was about feeling safe, not about avoiding anything.”
Sementara itu, ITIA menyebut bahwa Vondrousova mengatakan kepada petugas kontrol doping bahwa ia tidak akan menjalani tes. Setelah itu, Vondrousova menandatangani formulir penolakan ketika ia keluar untuk berjalan dengan anjingnya beberapa saat kemudian.
Moorhouse juga menyampaikan bahwa kasus penolakan tes doping oleh seorang pemain merupakan kejadian yang “extremely rare”. Ia menilai penolakan seperti ini tidak biasa terjadi dalam praktik pengujian yang berjalan.
Dalam konteks yang sama, ITIA mencatat bahwa pada 2024 pemain Rusia, Vladislav Ivanov, juga mendapat skors empat tahun karena menolak mengambil tes saat kompetisi.
Pembahasan mengenai panjang sanksi Vondrousova turut memunculkan pertanyaan publik. Analisis yang menyertai berita ini menyoroti bahwa larangan empat tahun terasa besar, terutama karena Vondrousova tidak dinyatakan positif zat terlarang dalam tes.
Namun ITIA menegaskan bahwa sanksi diberikan bukan semata-mata karena hasil tes positif, melainkan karena penolakan terhadap sistem. Moorhouse menjelaskan bahwa ITIA tidak melihat opsi lain selain meminta tribunal independen memberikan skors empat tahun sebagai titik awal bagi pemain yang menolak atau menghindari tes.
Moorhouse menyatakan, “You can’t have an anti-doping system where a player is in a better place by refusing to take a test than they would be by taking a test and testing positive.” Pernyataan itu menegaskan bahwa penolakan tidak boleh menjadi jalur yang lebih menguntungkan dibanding menjalani tes dan terbukti positif.
Di persidangan, Vondrousova mengaitkan alasan penolakannya dengan insiden kekerasan yang menimpa rekan sesama petenis Ceko. Ia menyebut serangan pisau yang dialami Petra Kvitova sebagai pertimbangan mengapa ia tidak membuka pintu bagi petugas kontrol doping.
Petra Kvitova, yang ditikam oleh seorang penyusup di rumahnya pada 2016, disebut sebagai rujukan Vondrousova. Ia mengatakan bahwa petugas perempuan datang pada pukul 8 malam dan, menurutnya, tidak memberikan identifikasi yang memadai.
ITIA kemudian menegaskan bahwa petugasnya membawa identifikasi dan surat wewenang. Nicole Sapstead, yang disebut sebagai senior director ITIA, menekankan bahwa pemain dapat meminta petugas menyebutkan kode ID unik sebagai mekanisme keamanan tambahan.
Dalam penjelasan lebih lanjut, Sapstead menyatakan bahwa tiap kasus diperlakukan secara individual sesuai keadaan spesifik yang muncul. Ia juga mencontohkan bahwa kategori “compelling justification” dapat mencakup kondisi darurat seperti kunjungan rumah sakit yang mendesak atau menghadiri pemakaman.
Meski demikian, ITIA menyatakan bahwa bukti yang diberikan Vondrousova tidak dianggap sebagai pembenaran yang “compelling justification”. Skors pun tetap dijatuhkan meskipun Vondrousova menyertakan faktor stres dan gangguan kesehatan mental sebagai bagian dari mitigasi.
Jika banding diajukan, proses tersebut kemungkinan memerlukan waktu berbulan-bulan. Dalam periode itu, Vondrousova dipastikan melewatkan kesempatan lain untuk merayakan momen terbesar dalam kariernya melalui kemungkinan kembali ke Wimbledon pada akhir bulan ini.
Dengan kata lain, menolak tes doping—apa pun alasannya—dinilai akan membawa konsekuensi tambahan bagi fase puncak karier yang seharusnya bisa dimanfaatkannya. Meski keputusan ini tidak berasal dari hasil positif zat terlarang, ITIA menegaskan bahwa penolakan terhadap pengujian memiliki implikasi disipliner yang berat.








